Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Papua Selatan Membara, 685 Titik Panas Masih Terdeteksi BMKG

Wamanews.id, 6 November 2026 – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan masih tinggi, meskipun peluang hujan mulai meningkat pada awal November 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 685 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi hingga 5 November 2026.

Jumlah tersebut menempatkan Papua Selatan sebagai provinsi dengan temuan titik panas berkepercayaan tinggi terbanyak selama pemantauan satelit dalam 10 hari terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko kebakaran belum sepenuhnya berakhir, meski penanganan terus dilakukan.

Kondisi cuaca kering menjadi faktor utama meluasnya api. BMKG mencatat suhu maksimum harian di Papua Selatan sempat melampaui 37 derajat Celsius pada periode 29 Oktober hingga 1 November 2026. Suhu ekstrem tersebut membuat vegetasi, sabana, dan lahan menjadi sangat mudah terbakar.

Kabupaten Merauke tercatat sebagai wilayah yang paling terdampak. Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel-2 dan MODIS per 30 Oktober 2026, Merauke menyumbang 90 persen titik panas, 96 persen luas kebakaran, serta 97 persen area kebakaran yang belum padam di Papua Selatan.

BNPB mencatat, luas area terbakar di Papua Selatan mencapai 695 hektare per 1 November 2026 pukul 17.00 WIB. Dari luas tersebut, 253 hektare masih berstatus belum padam. BNPB juga mencatat 379 titik panas dan 171 titik api di provinsi tersebut.

Kebakaran ini mengancam ekosistem Taman Nasional Wasur di Kabupaten Merauke. Kawasan tersebut merupakan habitat 403 spesies burung, termasuk burung endemik Papua dan burung migran. Ancaman terhadap habitat ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pegiat lingkungan.

Tidak hanya mengancam satwa, karhutla juga berdampak langsung pada masyarakat adat. Di Kampung Turiram, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, masyarakat adat bergotong royong memadamkan kebakaran ladang sagu yang terjadi sejak 17 Oktober 2026 karena khawatir api meluas hingga ke permukiman penduduk.

Terkait kondisi tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengingatkan, “Wilayah bekas kebakaran berpotensi mengalami limpasan air ketika hujan deras turun.” Peringatan ini disampaikan karena tanah yang terbakar menjadi tidak mampu menyerap air secara optimal.

Upaya penanganan dilakukan melalui berbagai cara. Pemerintah telah menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Papua Selatan sejak 22 Oktober 2026 dan direncanakan berlangsung hingga 5 November 2026. Selain itu, BNPB dan BMKG memperkuat pemantauan menggunakan citra satelit, pesawat nirawak, dan sistem digital.

Di sisi lain, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Papua Selatan selama periode 6-9 November 2026. Hujan tersebut diharapkan dapat membantu meredakan titik api. Namun masyarakat tetap diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, demi mencegah karhutla semakin meluas.

Penulis

Related Articles

Back to top button