Kian Panas Sepekan Perang Iran-Israel: Drone vs Nuklir, Dunia Ketar-ketir!

Wamanews.id, 21 Juni 2025 – Konflik antara Israel dan Iran memasuki pekan kedua dengan intensitas yang kian memanas. Jumat (20/6/2025) menjadi saksi saling tembak yang terus-menerus, memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi yang lebih besar di Timur Tengah. Berbagai pertanyaan muncul di benak publik mengenai apa sebenarnya yang terjadi di balik perseteruan dua kekuatan regional ini.
Perang bayangan antara Israel dan Iran kini tampak semakin terbuka. Pada Kamis malam (19/6/2025), Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran ke Israel. Serangan ini menggunakan “tempur dan bunuh diri” dengan mengerahkan lebih dari 100 pesawat nirawak (drone). Serangan masif ini menunjukkan peningkatan kapabilitas dan agresivitas Iran dalam menghadapi Israel.
Tidak tinggal diam, Militer Israel langsung memberikan balasan. Israel mengklaim telah menyerang puluhan target di Teheran semalam, tepatnya pada hari Jumat (20/6/2025). Laporan rinci dari pihak Israel menyebutkan bahwa target utama serangan mereka adalah pusat penelitian dan pengembangan proyek senjata nuklir Iran. Jika klaim ini benar, serangan tersebut menandakan eskalasi serius karena menargetkan infrastruktur strategis yang sangat sensitif bagi Iran.
Situasi ini menempatkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam posisi yang sangat dilematis. Trump belum bisa memastikan apakah AS akan bergabung atau tidak dengan serangan Israel terhadap Iran. Namun, ia sempat berujar masih ada peluang “yang besar” untuk negosiasi guna mengakhiri konflik. Trump dilaporkan akan memutuskan keterlibatan AS setelah dua pekan ke depan, sebuah periode krusial untuk melihat perkembangan situasi.
The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa penundaan keputusan Trump ini dilakukan demi melihat tindakan dari Iran dalam hal penghentian serangan nuklirnya. Ini mengindikasikan bahwa AS masih berusaha menekan Iran melalui diplomasi, meskipun Israel bersikap lebih agresif.
Di sisi lain, kelompok pro-Iran di Irak telah mengancam akan melakukan serangan balasan jika AS memutuskan untuk bergabung dalam konflik. Ancaman ini menambah kompleksitas situasi, karena dapat memperluas area konflik di luar wilayah Israel dan Iran. Sementara itu, Rusia, sekutu utama Iran, mengeluarkan peringatan keras. Rusia mengatakan bahwa setiap tindakan militer AS akan menjadi langkah yang sangat berbahaya dan dapat memicu konsekuensi yang tidak terduga.
Dalam langkah antisipasi, citra satelit pada Kamis (19/6/2025) menunjukkan bahwa puluhan pesawat militer AS tidak lagi terlihat di pangkalan AS di Qatar. Langkah ini diyakini sebagai upaya untuk melindungi personel AS dari potensi serangan balasan Iran, menandakan tingkat kewaspadaan yang tinggi di Washington.
Kekhawatiran global atas eskalasi konflik ini juga telah memicu pergerakan diplomasi internasional. Para diplomat tinggi Eropa telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Jenewa pada Jumat (20/6/2025). Tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk membahas program nuklir Iran, yang menjadi akar ketegangan dan kekhawatiran internasional.
Di sisi lain, Dewan Keamanan PBB juga tidak tinggal diam. Menanggapi permintaan yang datang dari Iran dengan dukungan dari Rusia, China, dan Pakistan, Dewan Keamanan PBB menjadwalkan bersidang pada hari Jumat (20/6/2025) untuk sesi kedua mengenai konflik Israel dan Iran.
Sidang ini diharapkan dapat mencari resolusi damai dan mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, seorang diplomat mengatakan kepada AFP bahwa belum ada komentar dari Israel maupun AS yang menyangkut sidang tersebut, menunjukkan adanya resistensi dari kedua pihak terhadap intervensi internasional.
Sepekan penuh ketegangan ini menegaskan bahwa konflik Israel-Iran adalah salah satu titik panas paling berbahaya di dunia. Dengan saling serang, ancaman pembalasan, dilema kekuatan besar, dan upaya diplomasi yang berjalan lambat, nasib Timur Tengah berada di ujung tanduk.







