Karhutla di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Meluas, Lukisan Purba 45 Ribu Tahun Terancam

Wamanews.id, 15 Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, mengancam kelestarian situs prasejarah dunia.
Api dilaporkan telah meluas hingga mencapai 26 hektare. Kebakaran tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga telah menjalar ke zona rimba dan zona inti taman nasional yang merupakan kawasan konservasi ketat.
Titik kebakaran berada di wilayah Kecamatan Minasatene. Lokasi tersebut berdekatan dengan kawasan gua-gua karst yang menyimpan peninggalan arkeologi bernilai tinggi, berupa lukisan cadas bergambar hewan dan cap tangan.
Lukisan yang terancam tersebut diketahui berusia lebih dari 45 ribu tahun. Selain menjadi bagian dari ekosistem karst Maros-Pangkep, gua-gua itu merupakan bukti penting tentang kehidupan manusia purba di Sulawesi Selatan.
Ancaman kebakaran ini mendapat perhatian serius dari kalangan arkeolog. Arkeolog dari Griffith University, Australia, Basran Burhan, menilai kebakaran di sekitar situs lukisan cadas dapat menimbulkan dampak kerusakan yang bersifat permanen.
Menurutnya, kerusakan tidak hanya terjadi jika api menyentuh langsung lukisan. Paparan panas ekstrem dan asap tebal yang menutupi permukaan lukisan juga sama berbahayanya bagi kelestarian gambar purba tersebut.
“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang mengandung gambar cadas pasti akan sangat merusak gambar itu. Paling tidak ada minimal dua efek yang bisa kita lihat,” ujar Basran dalam keterangannya yang dikutip Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan efek pertama adalah panas dan jelaga. Perubahan suhu yang drastis akibat kebakaran dapat mempercepat proses pelapukan batuan tempat lukisan dibuat. Panas ekstrem dapat memicu batuan menjadi retak, pecah, hingga membuat lapisan yang mengandung pigmen lukisan terkelupas.
“Bahwa tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan pun, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan,” jelasnya.
Selain itu, efek kedua berasal dari asap kebakaran. Asap menghasilkan jelaga atau lapisan hitam yang akan menempel pada permukaan dinding gua. Lapisan tersebut dapat menutupi bentuk dan warna asli lukisan, sehingga menyulitkan proses pengamatan dan penelitian terhadap warisan prasejarah yang berusia puluhan ribu tahun itu.







