Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Kesehatan

Jangan Remehkan Luka Tak Sembuh di Kaki! Bisa Jadi Tanda Diabetes Parah dan Berujung Amputasi

Wamanews.id, 15 Mei 2025 – Luka di kaki yang tak kunjung sembuh bukan sekadar masalah sepele. Bagi para penderita diabetes melitus (DM), kondisi ini bisa menjadi alarm bahaya adanya komplikasi serius yang dikenal sebagai diabetic foot. Jika diabaikan, diabetic foot berisiko tinggi menyebabkan infeksi berat, gangren, hingga amputasi.

Ahli bedah vaskular dari Bethsaida Hospital, dr. Sendi Kurnia Tantinius, Sp.B, Subsp.BVE(K), mengungkapkan bahwa diabetic foot merupakan gabungan dari kerusakan saraf (neuropati diabetik), gangguan aliran darah, infeksi, serta tekanan berlebih pada kaki yang tidak tertangani dengan baik.

“Jika tidak ditangani, diabetic foot dapat berkembang menjadi gangren dan meningkatkan risiko amputasi,” ujar dr. Sendi dalam keterangannya, Rabu (14/5/2025).

Gejala umum diabetic foot bisa dikenali dari kesemutan, mati rasa, nyeri tak biasa, pembengkakan, serta perubahan warna kulit yang menggelap pada area luka. Sayangnya, gejala awal ini sering kali diabaikan para penderita diabetes, karena tampak seperti masalah ringan biasa.

“Kesemutan dan mati rasa itu sebenarnya tanda awal kerusakan saraf. Kalau dibiarkan, luka bisa berkembang menjadi infeksi berat,” jelas dr. Sendi.

Diabetic foot memiliki lima tingkatan keparahan. Pada derajat 0, kaki masih tergolong normal tanpa risiko. Tapi di derajat 1 dan 2, luka mulai muncul di permukaan kulit, biasanya masih dangkal. Masalah akan semakin berat di derajat 3, saat infeksi menjalar hingga ke jaringan lunak dan tulang, dikenal dengan istilah osteomielitis. Bila tetap tak ditangani, pasien bisa memasuki derajat 4 dan 5 fase paling parah yang sering kali berujung amputasi sebagian atau total kaki.

Menurut dr. Sendi, pencegahan diabetic foot sebenarnya bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana tapi konsisten. Mulai dari memeriksa kondisi kaki secara rutin, memakai sepatu yang nyaman dan pas, menjaga kebersihan kaki, hingga menjaga kadar gula darah tetap stabil.

“Pengendalian kadar gula adalah fondasi utama. Tapi pemeriksaan kaki setiap hari, apalagi bagi penderita diabetes yang sudah lama, sangat krusial,” tegasnya.

Jika luka sudah muncul, pendekatan pengobatan tidak bisa setengah-setengah. Penanganan multidisiplin sangat diperlukan, termasuk metode debridemen atau pembersihan luka dari jaringan mati dan terapi oksigen hiperbarik yang membantu mempercepat penyembuhan dengan meningkatkan kadar oksigen dalam darah.

Direktur Bethsaida Hospital menyampaikan bahwa pihaknya kini telah membuka Klinik Bedah Vaskular dan Endovaskular yang fokus menangani diabetic foot dan berbagai gangguan pembuluh darah lainnya.

“Melalui pendekatan terintegrasi dan teknologi medis yang kami miliki, kami berupaya memberi solusi terbaik untuk pasien agar tidak sampai mengalami amputasi,” ujarnya.

Dengan meningkatnya kasus diabetes di Indonesia, penting bagi masyarakat untuk tidak menyepelekan luka kecil yang tak kunjung sembuh, terutama di bagian kaki. Deteksi dini bisa menjadi penyelamat nyawa dan mencegah disabilitas permanen.

“Segera konsultasi ke dokter jika luka memburuk, terasa nyeri tak wajar, atau muncul perubahan warna. Jangan tunggu sampai parah,” pungkas dr. Sendi.

Dengan kesadaran, perawatan yang tepat, dan dukungan tenaga medis profesional, risiko diabetic foot dapat ditekan, dan kualitas hidup penderita diabetes tetap terjaga.

Penulis

Related Articles

Back to top button