Heroik! Tembus Medan Ekstrem, BPBD Makassar Evakuasi 13 Warga Terjebak Air Terjun di Gowa

Wamanews.id, 5 Januari 2026 – Aksi heroik diperlihatkan oleh tim penyelamat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar pada akhir pekan pertama tahun 2026. Sebanyak 13 orang warga Kota Makassar yang tengah melakukan wisata alam di kawasan Air Terjun Barayya, Sungai Jeneberang, Kabupaten Gowa, berhasil dievakuasi setelah terjebak banjir bandang yang datang secara tiba-tiba.
Operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis ini dilakukan pada Minggu (4/1/2026) malam. Kecepatan dan ketepatan tim di lapangan menjadi kunci utama keselamatan belasan nyawa tersebut, mengingat kondisi alam yang sangat tidak bersahabat dengan arus sungai yang meluap drastis.
Peristiwa mencekam ini bermula ketika rombongan wisata yang terdiri dari 13 warga Makassar bersama komunitasnya melakukan penjelajahan di kawasan Air Terjun Barayya pada Sabtu (3/1/2026). Saat itu, cuaca di lokasi sebenarnya cukup mendukung untuk aktivitas outdoor. Namun, kondisi berubah drastis ketika hujan lebat mengguyur wilayah hulu Sungai Jeneberang.
Hanya dalam hitungan menit, debit air sungai meningkat secara ekstrem. Air bah atau banjir bandang datang tanpa peringatan, memutus jalur penyeberangan yang seharusnya dilalui rombongan untuk pulang. Terjebak di antara tebing dan arus sungai yang sangat deras, ke-13 warga tersebut terpaksa bertahan di dataran yang lebih tinggi dengan peralatan seadanya sembari menunggu bantuan datang.
“Mereka terjebak banjir bandang di kawasan wisata alam Air Terjun Barayya. Kondisi arus sangat berbahaya dan tidak memungkinkan untuk diseberangi secara mandiri,” ungkap Kepala BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, dalam keterangannya Minggu malam.
Meski secara administratif lokasi kejadian berada di wilayah Kabupaten Gowa, BPBD Kota Makassar tidak tinggal diam begitu menerima informasi bahwa warganya dalam bahaya. Di bawah instruksi langsung Fadli Tahar, Tim Reaksi Cepat (TRC) dikerahkan dengan membawa perlengkapan rescuelengkap serta ambulans.
Proses evakuasi menemui tantangan yang sangat berat. Selain arus sungai yang sangat kuat, tim harus bekerja dalam kondisi cahaya yang mulai redup karena hari sudah beranjak gelap. Medan yang terjal dan licin menambah risiko bagi para personel penyelamat.
“Satu per satu korban berhasil dijangkau menggunakan teknik evakuasi khusus. Kami mengerahkan peralatan mountaineering, life jacket, serta perlengkapan medis pendukung lainnya. Kami juga memastikan kebutuhan dasar seperti jaket penghangat dan makanan darurat tersedia agar kondisi fisik mereka tidak ambruk akibat kedinginan atau kelaparan,” tambah Fadli.
Setelah perjuangan panjang menembus kegelapan dan derasnya sungai, seluruh korban yang terdiri dari 5 perempuan dan 8 laki-laki berhasil dibawa ke titik aman. Berdasarkan data yang dihimpun, ke-13 warga yang diselamatkan adalah:
- Faisal, Anis, Rini, Dini, Sety, Titi, Ahmad, Tini, Dayat, Ikram, Ikhsan, Edo, dan Ical.
Setelah dievakuasi dari bibir sungai, para korban langsung mendapatkan pemeriksaan medis awal dan kemudian dibawa menggunakan kendaraan operasional BPBD menuju Kota Makassar untuk penanganan lanjutan dan pemulihan psikologis.
Keberhasilan operasi ini menambah catatan gemilang kinerja BPBD Makassar di awal tahun 2026. Sebelumnya, pada 1 Januari 2026, TRC BPBD Makassar juga berhasil menyelamatkan lima nelayan yang terombang-ambing di perairan Barrang Lompoa akibat kerusakan mesin.
Dr. Fadli Tahar menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas yang tidak boleh terhalang oleh sekat wilayah administratif. “Semua yang kami evakuasi adalah warga Kota Makassar. Di mana pun mereka berada, keselamatan mereka adalah tanggung jawab kami. Medan sangat berat dan berisiko, namun hal itu tidak boleh menghalangi tugas kemanusiaan,” tegasnya dengan mantap.
Menutup pernyataannya, BPBD Makassar mengimbau kepada masyarakat luas, khususnya para pecinta alam, untuk lebih waspada dan selalu memantau prakiraan cuaca dari BMKG sebelum melakukan perjalanan ke wilayah sungai atau pegunungan. Di musim penghujan seperti sekarang, potensi banjir bandang sangat sulit diprediksi dan dapat terjadi kapan saja.
Keberhasilan penyelamatan 13 nyawa ini kembali membuktikan bahwa kesiapsiagaan dan keberanian merupakan modal utama dalam menghadapi bencana. BPBD Makassar berkomitmen untuk terus hadir bekerja dalam senyap demi melindungi warga.







