Gempa Kuat M 6,8 Guncang Kepulauan Sangihe Sulut, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Wamanews.id, 27 Juni 2026 – Aktivitas tektonik berkekuatan cukup besar kembali melanda wilayah utara Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peristiwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,8 yang mengguncang wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara (Sulut), pada Jumat (26/6/2026) malam.
Meskipun memicu guncangan yang cukup kuat di sekitar episentrum, pihak BMKG bergerak cepat mengeluarkan pernyataan resmi bahwa peristiwa alam ini tidak memiliki sisa energi yang cukup untuk memicu gelombang laut berbahaya. Dengan kata lain, gempa bumi tektonik tersebut dinyatakan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Berdasarkan data resmi yang dirilis melalui sistem pemantauan real-time BMKG, aktivitas seismik tersebut tercatat terjadi tepat pada pukul 18.34 WIB atau pukul 19.34 WITA. Guncangan ini mengejutkan sebagian warga yang tengah beraktivitas di malam hari, khususnya di wilayah pesisir Kepulauan Sangihe.
Secara parameter teknis, episentrum atau pusat gempa bumi ini terletak di wilayah perairan laut dalam. Koordinat titik gempa berada pada jarak sekitar 196 kilometer ke arah Barat Laut dari Kota Tahuna, yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Selain memiliki magnitudo yang signifikan, pemicu kuatnya getaran juga dipengaruhi oleh faktor hiposentrum atau kedalaman gempa yang tergolong dangkal. BMKG mencatat bahwa gempa ini berpusat pada kedalaman hanya 10 kilometer dari permukaan air laut. Karakteristik gempa dangkal seperti ini umumnya memang melepaskan energi kinetik yang memicu getaran permukaan secara instan di radius terdekat.
“Gempa Mag: 6,8. Kedalaman: 10 Km. Gempa ini tidak berpotensi tsunami,” tulis rilis resmi dari badan meteorologi nasional tersebut pada malam pasca-kejadian.
Pihak BMKG juga memberikan catatan penting bahwa informasi kebencanaan yang disebarkan ini mengutamakan aspek kecepatan dan penyampaian dini kepada publik. Oleh sebab itu, hasil pengolahan data awal yang masuk ke sistem seismik belum sepenuhnya stabil secara sempurna dan masih berpotensi mengalami perubahan atau pemutakhiran (updating) seiring masuknya data sekunder dari stasiun sensor geofisika lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara maupun pihak berwenang setempat mengenai adanya dampak kerusakan struktural pada fasilitas umum maupun pemukiman warga di kepulauan terluar tersebut.
Kendati dinyatakan aman dari ancaman gelombang tsunami, masyarakat di wilayah Tahuna dan sekitarnya tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi terjadinya rentetan gempa bumi susulan (aftershocks). Warga disarankan untuk menghindari bangunan yang retak atau memiliki struktur beton yang kurang kokoh guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses stabilisasi lempeng tektonik berlangsung.







