Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Fenomena Overthinking Gen Z: Riset Ungkap 85% Kekhawatiran Tidak Pernah Menjadi Kenyataan 

Wamanews.id, 10 Desember 2025 – Fenomena overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan semakin lekat dengan kehidupan anak muda masa kini, khususnya Generasi Z (Gen Z). Kekhawatiran yang seringkali tidak realistis, termasuk hal-hal yang bahkan belum terjadi, menjadi beban mental yang signifikan bagi kelompok usia ini. Pemicu utama overthinking Gen Z beragam, mulai dari kecemasan mengenai masa depan karier, kondisi finansial yang tidak pasti, hingga masalah sosial dalam pergaulan.

Founder Health Collaborative Center (HCC), Ray Wagiu Basrowi, memberikan pandangan dan fakta ilmiah yang menenangkan mengenai isu ini. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar overthinking Gen Z sesungguhnya hanya terjadi dalam pikiran dan bersifat spekulatif semata.

Ray mengutip hasil riset yang sangat relevan bagi Gen Z. Data menunjukkan bahwa sekitar 85 persen dari seluruh kekhawatiran yang di-overthinking-kan ternyata tidak pernah terjadi dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Fakta ini menegaskan bahwa mayoritas kecemasan yang dirasakan bersifat sia-sia dan menguras energi mental.

“Ingat, 85 persen overthinking itu tidak akan terjadi dalam dimensi waktu enam bulan ke depan. Jadi jangan terlalu banyak overthinking,” ujar Ray, dilansir dari Republika, Selasa (9/12/2025).

Pernyataan ini menjadi penekanan kuat bahwa langkah pertama untuk meredakan kecemasan berlebihan adalah dengan menyadari bahwa probabilitas kejadian buruk yang dipikirkan sangatlah kecil.

Menurut Ray, kunci utama untuk mengatasi overthinking Gen Z adalah dengan menanamkan self-conviction atau kesadaran diri yang kuat. Self-conviction adalah kemampuan untuk meyakinkan diri bahwa pikiran yang berlebihan tersebut seringkali tidak beralasan dan dapat dikendalikan.

Ketika pikiran yang berlarut-larut mulai muncul, generasi Z disarankan untuk tidak membiarkannya menumpuk, melainkan menguraikannya satu per satu.

“Kalau ada satu hal yang lagi dipikirin, coba urai dulu, tulis, dan buat pro-kontranya untuk tahu apakah itu pantas dipikirkan lebih jauh,” jelasnya.

Proses mengurai dan membuat daftar pro-kontra ini berfungsi sebagai mekanisme reality check, membantu Gen Z memisahkan antara kecemasan yang valid dengan kekhawatiran yang bersifat hiperbolis atau tidak rasional.

Selain self-conviction, dr. Ray menyarankan Gen Z untuk secara aktif mengalihkan fokus dari hal-hal yang memicu kecemasan. Misalnya, jika kecemasan timbul dari kekhawatiran finansial, Gen Z dianjurkan untuk segera berbicara dengan orang tua, sepupu, atau teman dekat.

“Telepon orang terdekat dan ngobrollah. Dengan begitu, overthinking itu akan cepat teralihkan,” tambahnya.

Mengakhiri pesannya, Ray memberikan wisdom sederhana namun efektif untuk menjaga kesehatan mental: bersyukur atas hal-hal kecil. Bersyukur ketika masih ada guru yang mengomel, orang tua yang menanyakan kabar, atau teman yang mengajak debat. Hal-hal sederhana ini adalah tanda bahwa koneksi emosional dan dukungan sosial masih ada, dan itu adalah modal penting untuk melawan kecemasan berlebihan.

Penulis

Related Articles

Back to top button