Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Daya PLTA Anjlok 600 MW, PLN Genjot Pemulihan Listrik Sulbagsel

Wamanews.id, 18 September 2026 – Sistem Kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya pasokan daya dari pembangkit berbasis air (hidro) hingga sekitar 600 megawatt (MW). Penurunan drastis ini dipicu oleh menyusutnya ketersediaan air pada waduk dan sungai imbas kondisi hidrologi serta fenomena iklim El Nino yang melanda wilayah tangkapan air.

General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengungkapkan bahwa kapasitas daya mampu pembangkit hidro yang semula berada di kisaran 850 MW, saat ini merosot tajam dan hanya tersisa sekitar 250 MW.

Penyusutan signifikan tersebut melanda sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) penopang utama sistem, seperti PLTA Poso, PLTA Bakaru, dan PLTA Malea, termasuk puluhan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) yang tersebar di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

“Penurunan daya mampu pembangkit hidro menjadi salah satu tantangan yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel,” ungkap Edyansyah dalam keterangan resminya pada Kamis (18/9/2026).

Guna menutup defisit pasokan dan menjaga kestabilan aliran listrik ke pelanggan, PLN UID Sulselrabar menjalankan serangkaian strategi percepatan secara simultan. Salah satu fokus krusialnya adalah memaksimalkan operasional seluruh pembangkit termal yang masih berfungsi prima, sembari mengawal percepatan perbaikan kendala teknis pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeneponto.

“Kami terus melakukan langkah-langkah percepatan secara paralel. Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Karena itu, seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan, sementara proses pemulihan dan perbaikan pembangkit juga terus dikawal,” tegas Edyansyah.

Pemulihan unit PLTU Jeneponto ditargetkan mampu menginjeksi pasokan daya tambahan ke sistem interkoneksi, sehingga ketergantungan pada debit air waduk PLTA yang kian menipis dapat ditekan selama periode kemarau berlangsung.

Selain menangani kesiapan mesin pembangkit, PLN menggandeng pemerintah daerah serta instansi teknis terkait untuk melakukan mitigasi jangka pendek terhadap cadangan air. Salah satu upaya strategis yang ditempuh adalah pelaksanaan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan guna mengisi kembali daerah aliran sungai dan waduk PLTA.

Dari sisi teknis jaringan, pengaturan beban pada Sistem Sulbagsel terus dipantau secara real time selama 24 jam penuh. Manajemen operasional pembangkit disesuaikan secara dinamis mengikuti fluktuasi beban puncak harian masyarakat demi mencegah terjadinya gangguan sistemik yang lebih luas.

Pihak PLN menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat akibat terganggunya pasokan energi listrik, sekaligus menegaskan komitmen penuh untuk memulihkan keandalan sistem sesegera mungkin.

“Kami memahami kondisi ini berdampak kepada masyarakat. Karena itu, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia,” tutur Edyansyah.

Manajemen PLN memastikan proses evaluasi performa sistem kelistrikan terus berlangsung berkala hingga neraca pasokan daya dan konsumsi listrik pelanggan di Sulselrabar kembali normal sepenuhnya.

Penulis

Related Articles

Back to top button