Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Bursa Saham Guncang! IHSG Crash 8 Persen dan Trading Halt Pasca Thomas Djiwandono Terpilih Deputi Gubernur BI

Wamanews.id, 29 Januari 2026 – Pasar modal Indonesia mengalami guncangan hebat pada perdagangan pertengahan pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan ambruk hingga menyentuh angka 8 persen, sebuah kontraksi yang sangat signifikan hingga memaksa otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt.

Kepanikan pasar ini terjadi tepat sehari setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI secara resmi menyepakati pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026–2031 dalam Rapat Paripurna, Selasa (27/1/2026).

Berdasarkan data dari RTI Business, IHSG langsung dibuka melemah tajam pada Rabu (28/1/2026). Hingga siang hari, tekanan jual tak terbendung hingga indeks terkoreksi lebih dari 8,33 persen ke level 8.231. Kondisi ini memaksa BEI mengambil langkah darurat untuk menstabilkan pasar.

Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa pembekuan sementara dilakukan pada pukul 13:43:13 waktu Jakarta Automated Trading System(JATS).

“Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen,” ungkap Kautsar. Langkah ini diambil sesuai dengan Protokol Krisis dan Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025 untuk menjaga agar perdagangan tetap teratur dan efisien. Perdagangan baru dilanjutkan kembali pada pukul 14:13:13 JATS.

Data statistik menunjukkan kondisi pasar yang sangat memprihatinkan: tercatat sebanyak 766 saham anjlok, sementara hanya 28 saham yang mampu menguat, dan 10 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp32,7 triliun dengan frekuensi transaksi yang luar biasa tinggi.

Di sisi lain, Thomas Djiwandono yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto sekaligus Wakil Menteri Keuangan saat ini menegaskan bahwa terpilihnya ia sebagai Deputi Gubernur BI telah melalui prosedur hukum yang ketat. Thomas mengklaim kesuksesannya melewati fit and proper test di Komisi XI DPR RI adalah bukti kepatuhannya pada regulasi.

“Saya melewati fit and proper itu mengikuti segala peraturan dan perundangan yang sudah ada,” ujar Thomas dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Selasa (27/1). Ia juga menyampaikan apresiasi kepada media yang memberikan pemberitaan objektif selama proses pencalonannya.

Namun, keterpilihan figur yang memiliki kedekatan keluarga dengan pucuk pimpinan negara serta latar belakang kader partai politik (sebelum mengundurkan diri) memicu sentimen beragam di mata pelaku ekonomi.

Pakar Ekonomi dari Universitas Hasanuddin, Marzuki DEA, menilai bahwa reaksi negatif pasar saham dan pelemahan rupiah erat kaitannya dengan persepsi investor terhadap independensi Bank Sentral. Menurutnya, Bank Indonesia harus tetap menjadi entitas yang merdeka dari intervensi politik agar dipercaya oleh pasar global.

“Pelaku ekonomi pasti akan bersikap penuh curiga dan hati-hati mempelajari arah kebijakan ekonomi. Dampaknya langsung terbaca di pasar uang dan pasar modal,” jelas Prof. Marzuki. Selain faktor domestik, Marzuki memaparkan bahwa ambruknya IHSG juga dipicu oleh badai geopolitik global yang tidak menentu. 

Beberapa poin krusial yang menekan ekonomi Indonesia antara lain:

  • Intervensi Global AS: Ketegangan di wilayah Amerika Latin (Kasus Venezuela) yang memengaruhi stabilitas pasar global.
  • Konflik Timur Tengah: Ancaman serangan terhadap Iran bersama Israel yang memicu kekhawatiran krisis energi.
  • Suku Bunga Tinggi: Kebijakan negara maju mempertahankan suku bunga tinggi untuk mencegah arus keluar modal (capital outflow).
  • Permintaan Dolar: Meningkatnya kebutuhan dolar AS di awal tahun untuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor industri domestik.

“Kondisi tersebut membuat investor, terutama investor asing, cenderung menahan investasi atau bahkan menarik dana mereka dari pasar keuangan Indonesia (flight to quality),” tambahnya.

Kombinasi antara dinamika politik dalam negeri terkait pengangkatan pejabat Bank Sentral dan ketidakpastian ekonomi dunia menciptakan “badai sempurna” yang memukul IHSG hingga titik nadir hari ini. Pemerintah dan otoritas moneter kini dihadapkan pada tugas berat untuk meyakinkan kembali para investor bahwa stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama di atas kepentingan politik praktis. 

Penulis

Related Articles

Back to top button