Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Awas! Ini Bahaya Tersembunyi di Balik Fenomena Remaja Sering Curhat ke AI 

Wamanews.id, 3 Agustus 2026 – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah menggeser cara generasi muda berinteraksi dan mengurai beban emosional. Belakangan ini, semakin banyak remaja yang memilih mengetikkan keluh kesah, kecemasan, hingga masalah pribadi mereka ke platform chatbot AI dibandingkan bercerita kepada teman, orang tua, maupun tenaga profesional.

Alasan utamanya terbilang sederhana: mesin dianggap selalu siap merespons kapan saja dan sama sekali tidak pernah menghakimi (non-judgmental).

Kendati memberikan kenyamanan instan dan ruang aman semu, para ahli kesehatan mental memperingatkan adanya bahaya tersembunyi di balik kebiasaan menjadikan AI sebagai tempat penampungan emosi.

Pakar kesehatan mental Turner mengungkapkan bahwa risiko terbesar dari fenomena ini terletak pada persepsi atau ilusi empati yang keliru. Remaja sangat berpotensi menganggap tanggapan manis dari algoritma komputer sebagai empati tulus seorang manusia.

“AI dapat memberikan informasi, refleksi, dan bahkan kata-kata yang menenangkan. Namun, ia tidak bisa benar-benar memahami pengalaman hidup seseorang,” tegas Turner.

Sistem AI tidak memiliki perasaan atau kesadaran emosional. Respons yang dimuntahkan oleh chatbothanyalah hasil dari kalkulasi statistik bahasa.

Ketika seorang remaja mengalami krisis psikologis yang meningkat seperti depresi berat atau indikasi membahayakan diri AI sering kali gagal menangkap sinyal-sinyal bahaya implisit yang biasanya disadari oleh manusia.

Selain risiko gagalnya penanganan situasi krisis emosional, kebiasaan bergantung pada AI juga mengancam perkembangan kemampuan bersosialisasi anak remaja. Fase remaja merupakan rentang waktu krusial bagi seseorang untuk belajar mengelola konflik, mengolah emosi bersama orang lain, serta membaca gestur tubuh maupun intonasi lawan bicara.

Jika peran interaksi antarmanusia ini digantikan oleh perantara mesin, remaja berisiko kehilangan kesempatan untuk membentuk keterampilan sosial yang sehat saat beranjak dewasa.

“Memberi dan menerima umpan balik atau kritik membangun secara langsung adalah keterampilan yang harus dipelajari dan dipraktikkan. Hal itu tidak bisa terjadi jika perantaranya adalah kecerdasan buatan,” lanjut Turner.

Lebih jauh lagi, perasaan terlarut dalam validasi otomatis dari mesin membuat tak sedikit remaja akhirnya menunda atau bahkan menolak mencari bantuan profesional. Mereka merasa masalah emosionalnya sudah teratasi hanya dengan mengobrol bersama kecerdasan buatan.

Landasan utama dari dukungan psikologis pada dasarnya dibangun atas kepercayaan, empati sejati, dan hubungan antarmanusia yang hangat. Algoritma komputer tidak akan pernah bisa menggantikan posisi hadirnya keluarga, sahabat, maupun konselor terlatih.

Menghadapi tren ini, orang tua dan pendidik diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Membuka ruang diskusi yang terbuka tanpa menghakimi di rumah menjadi kunci utama agar remaja merasa nyaman untuk membagikan keluh kesah mereka kepada manusia, bukan kepada layar ponsel.

Penulis

Related Articles

Back to top button