Alasan Medis Sebagian Orang Lebih Sering Digigit Nyamuk

Wamanews.id, 19 Juni 2026 – Pernahkah Anda merasa menjadi satu-satunya orang di dalam ruangan yang terus-menerus diserang dan digigit nyamuk, sementara orang di sekitar Anda tampak tenang tanpa gangguan? Fenomena ini sering kali memicu kejengkelan dan melahirkan berbagai macam mitos di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang paling populer dan telanjur dipercaya secara turun-temurun adalah bahwa nyamuk lebih menyukai karakteristik golongan darah tertentu, seperti golongan darah O atau darah yang “terasa lebih manis”.
Namun, benarkah teori golongan darah tersebut menjadi magnet utama bagi serangga pengisap darah ini? Menyadur laporan ilmiah dan ulasan kesehatan mendalam dari Kompas.com pada Jumat (19/6/2026), para ahli entomologi (ilmu serangga) dan pakar kesehatan dunia menegaskan bahwa alasan mengapa seseorang lebih sering digigit nyamuk ternyata jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana faktor golongan darah semata.
Melalui serangkaian riset laboratorium yang komprehensif, para ilmuwan berhasil membongkar rahasia biologis di balik sistem navigasi nyamuk dalam berburu mangsa. Nyamuk betina yang membutuhkan darah untuk perkembangan telur-telurnya ternyata mengandalkan kombinasi sinyal kimiawi, visual, dan termal yang diproduksi secara alami oleh tubuh manusia.
Faktor penentu paling utama yang membuat seseorang menjadi “magnet nyamuk” adalah profil kimiawi unik pada permukaan kulit mereka, khususnya kadar asam karboksilat. Asam karboksilat adalah senyawa organik yang diproduksi oleh sebum atau minyak alami kulit dan diproses oleh mikroba atau bakteri yang hidup di permukaan kulit manusia.
Setiap individu memiliki komposisi dan jumlah asam karboksilat yang berbeda-beda tergantung pada faktor genetik. Orang yang memproduksi senyawa ini dalam jumlah tinggi secara alami akan mengeluarkan aroma tubuh khas yang sangat pekat dan memikat bagi indra penciuman nyamuk dari jarak jauh. Celakanya, profil kimiawi kulit ini bersifat permanen dan sulit diubah, bahkan meski seseorang sudah mandi berulang kali atau mencoba mengubah pola makannya.
Selain zat asam pada kulit, terdapat beberapa faktor biologis dan aktivitas harian lainnya yang secara signifikan dapat meningkatkan daya tarik seseorang di mata nyamuk:
- Produksi Karbondioksida ($CO_2$): Nyamuk memiliki organ sensorik khusus untuk mendeteksi hembusan gas karbondioksida dari jarak hingga puluhan meter. Orang yang memiliki laju metabolisme lebih tinggi, seperti ibu hamil, orang yang baru selesai berolahraga, atau individu bertubuh besar, secara alami mengeluarkan lebih banyak $CO_2$ sehingga lebih mudah dilacak oleh nyamuk.
- Suhu Tubuh dan Keringat: Cairan keringat manusia mengandung asam laktat, asam urat, dan amonia yang baunya sangat disukai nyamuk. Dikombinasikan dengan suhu tubuh yang hangat pasca-aktivitas fisik, kondisi ini menjadi panduan termal yang sempurna bagi nyamuk untuk mendarat dan menggigit kulit.
Tabel: Komparasi Faktor Daya Tarik Manusia Bagi Navigasi Berburu Nyamuk
| Sensor Navigasi Nyamuk | Elemen Penarik pada Manusia | Kelompok Individu yang Paling Rentan |
| Penciuman Jarak Jauh | Pelepasan Gas Karbondioksida ($CO_2$) | Ibu hamil, orang bertubuh besar, dan setelah olahraga. |
| Penciuman Jarak Dekat | Kadar Asam Karboksilat & Asam Laktat | Faktor genetika (produksi minyak kulit tinggi) & berkeringat. |
| Sistem Termal (Suhu) | Radiasi panas tubuh yang tinggi | Orang dengan metabolisme aktif atau sedang demam. |
| Sistem Visual (Mata) | Spektrum warna pakaian yang gelap | Pengguna baju hitam, biru tua, atau merah pekat. |
Mengingat faktor utama seperti genetik asam kulit tidak dapat diubah, para ahli gizi dan kesehatan menyarankan masyarakat untuk memodifikasi faktor eksternal guna menghindari gigitan serangga pembawa risiko penyakit seperti demam berdarah (DBD) dan malaria ini.
Langkah pertama yang sangat dianjurkan adalah dengan menggunakan pakaian pelindung berwarna cerah, seperti putih, kuning, atau pastel saat beraktivitas di area terbuka atau menjelang malam hari. Warna-warna cerah terbukti kurang menarik perhatian visual nyamuk dibandingkan dengan pakaian berwarna gelap yang cenderung menyerap panas.
Langkah kedua adalah dengan rutin menggunakan losion antinyamuk yang mengandung bahan aktif teruji secara klinis dan aman bagi kulit, seperti DEET, picaridin, atau minyak lemon ekaliptus (oil of lemon eucalyptus). Dengan memahami rantai penyebab ilmiah ini, masyarakat diharapkan tidak lagi keliru mengambinghitamkan golongan darah, melainkan lebih fokus pada proteksi diri dan menjaga higienitas lingkungan sekitar secara konsisten.





