Kami Putra Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan

Wamanews.id, 29 Oktober 2026 – Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan bahasa daerah. Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri yang tercermin dalam adat istiadat, tradisi, serta bahasa yang digunakan masyarakatnya. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan bangsa yang perlu dijaga dan dihargai.
Di Indonesia, bahasa Indonesia digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari percakapan sehari-hari dan kegiatan pendidikan hingga dunia kerja serta komunikasi di media sosial. Keberadaannya menjadi penghubung bagi masyarakat yang memiliki latar belakang suku, budaya, dan bahasa daerah yang berbeda.
Ikrar Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju persatuan. Peristiwa yang berlangsung pada 28 Oktober 1928 tersebut memperkuat tekad para pemuda dari berbagai daerah untuk bersatu sebagai satu bangsa. Dalam Kongres Pemuda II, semangat persatuan itu diwujudkan melalui tiga ikrar yang menegaskan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Ikrar ketiga berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Ikrar tersebut menegaskan peran bahasa Indonesia sebagai landasan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi yang membantu masyarakat dari berbagai daerah saling memahami sekaligus memperkuat persatuan sebagai satu bangsa.Namun, kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bukan berarti bahasa daerah harus ditinggalkan. Sebaliknya, bahasa Indonesia dan bahasa daerah dapat hidup berdampingan, dengan fungsi yang saling melengkapi dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa daerah tetap memiliki nilai penting karena menyimpan identitas, sejarah, pengetahuan, dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat dapat menggunakan bahasa daerah dalam keluarga dan kegiatan adat, serta menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan orang dari latar belakang berbeda.
Sikap tersebut mencerminkan penghargaan terhadap keberagaman sekaligus kesadaran akan pentingnya bahasa persatuan. Perkembangan teknologi digital juga membawa perubahan dalam cara generasi muda berkomunikasi. Media sosial, aplikasi percakapan, dan berbagai platform digital membuat penggunaan bahasa gaul, singkatan, serta istilah asing semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, misalnya, kerap ditemukan dalam unggahan media sosial dan percakapan sehari-hari.
Tantangan lainnya muncul ketika penggunaan bahasa di ruang digital kurang memperhatikan ketepatan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata. Dalam komunikasi informal, penggunaan singkatan atau bahasa gaul dapat membantu menciptakan suasana akrab.
Akan tetapi, kebiasaan tersebut perlu disesuaikan ketika seseorang menulis tugas akademik, menyampaikan informasi kepada publik, atau membuat dokumen resmi. Karena itu, kemampuan menyesuaikan ragam bahasa dengan situasi penting agar komunikasi tetap efektif tanpa membatasi kebebasan berekspresi.
Menjaga bahasa Indonesia dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menggunakannya secara tepat sesuai konteks, terutama dalam situasi formal. Selain itu, media digital dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan lebih banyak karya berbahasa Indonesia. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi tantangan bagi keberlangsungan bahasa Indonesia, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperluas penggunaannya.
Upaya menjaga bahasa Indonesia perlu berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah dan pembelajaran bahasa asing. Bahasa daerah berperan dalam mempertahankan identitas dan kebudayaan lokal, sementara bahasa asing dapat memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan dan komunikasi global. Dengan memahami fungsi masing-masing, masyarakat dapat menghargai keberagaman bahasa tanpa mengesampingkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan bahasa Indonesia di tengah perkembangan zaman. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia secara tepat sesuai konteks, penciptaan karya kreatif, serta pemanfaatan media digital untuk memperluas penggunaannya. Dengan demikian, kecintaan terhadap bahasa persatuan dapat terus tumbuh tanpa mengabaikan keberagaman bahasa dan budaya yang menjadi kekayaan bangsa.
Penulis: Masdiana







