Karhutla Baruppu Meluas, Puluhan Liang Batu Leluhur Toraja Usia Ratusan Tahun Ludes Terbakar

Wamanews.id, 27 Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, merambat hingga menghanguskan kompleks pemakaman tradisional tebing batu yang berusia ratusan tahun. Peristiwa itu terjadi di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Selatan, Kecamatan Baruppu, pada Jumat malam hingga Sabtu 23-24 Oktober 2026.
Api dilaporkan melahap tiga lokasi liang leluhur sekaligus, yakni Liang Burasia, Liang Pongtimban, dan Lombok Rangri. Kawasan tersebut merupakan situs pemakaman adat Toraja berupa lubang-lubang di tebing batu yang digunakan turun-temurun oleh satu rumpun keluarga untuk menyimpan peti jenazah atau erong.
Dampak kebakaran tidak hanya vegetasi hutan. Belasan hingga puluhan liang terdampak di tiga titik berbeda dan sejumlah peti jenazah ikut terbakar. Laporan awal memperkirakan sekitar 50 jasad terdampak, sementara informasi di lapangan menyebut jumlah peti yang hangus bisa mencapai ratusan.
Proses pemadaman berlangsung sulit. Medan terjal dan akses jalan yang sempit membuat kendaraan pemadam tidak bisa masuk langsung ke titik api. Petugas akhirnya melakukan pemadaman manual menggunakan peralatan portabel.
Tim gabungan yang diterjunkan terdiri dari Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Manggala Agni, Kelompok Pecinta Alam, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas. Warga Baruppu juga ikut membantu dengan membawa ember untuk menyiram api yang masih menjalar di tebing.
Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun dugaan kesengajaan menguat. Warga sempat melihat seseorang yang diduga menyulut api di sekitar lokasi dan mengejarnya, namun orang tersebut berhasil melarikan diri.
Dugaan unsur kesengajaan itu muncul setelah warga mengaku melihat langsung pembakaran di sekitar hutan sebelum api merambat ke makam tradisional tersebut.Atas kejadian itu, Lurah Baruppu Selatan, Natan Pongtoko, telah melaporkan secara resmi ke Polres Toraja Utara. Ia meminta polisi mengusut tuntas kejadian yang tidak hanya merusak lingkungan tapi juga warisan budaya.
Sementara Kepala BPBD Toraja Utara, Paulus Batti, menyatakan pihaknya belum menerima laporan resmi soal jumlah pasti peti jenazah yang terbakar dan masih menunggu pendataan dari aparat di lapangan.
Peristiwa ini juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut kejadian ini sangat memprihatinkan dan pihaknya akan menurunkan tim untuk inventarisasi dan restorasi situs budaya terdampak, karena Liang Pongtimban merupakan situs leluhur yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu.







