Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Sering Lupa Minum, 41 Persen Orang Dewasa Alami Dehidrasi Kronis Tanpa Disadari

Wamanews.id, 25 Juni 2026 – Di tengah tingginya ritme aktivitas masyarakat urban modern, isu kesehatan mendasar sering kali luput dari perhatian. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah pemenuhan kebutuhan cairan tubuh harian. Sebuah studi kesehatan terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan, di mana sekitar 41 persen orang dewasa kedapatan mengalami dehidrasi kronis. Ironisnya, penyebab utama dari kondisi ini bukanlah karena kelangkaan air bersih, melainkan murni akibat faktor kelalaian atau sering lupa minum air putih.

Padatnya jadwal kerja, durasi menatap layar gawai yang terlalu lama, hingga kebiasaan beraktivitas di dalam ruangan berpendingin udara (AC) disinyalir menjadi pemicu utama hilangnya alarm alami tubuh untuk merasakan haus. Kondisi dehidrasi yang dibiarkan secara berulang dalam jangka panjang ini tentu menyimpan bom waktu yang berbahaya bagi kesehatan organ dalam tubuh manusia.

Mengutip laporan data klinis yang dihimpun oleh Kompas pada Kamis (25/6/2026), angka 41 persen tersebut merefleksikan bahwa hampir separuh populasi usia produktif saat ini sedang mengabaikan investasi kesehatan jangka panjang mereka hanya karena urusan sepele, yaitu menunda minum.

Banyak orang dewasa salah kaprah dengan menganggap dehidrasi baru terjadi ketika tenggorokan sudah terasa sangat kering atau tubuh mengalami lemas yang hebat. Padahal, penurunan konsentrasi, sering merasa pusing tiba-tiba, mudah lelah, hingga perubahan suasana hati (bad mood) yang mendadak merupakan indikator awal bahwa tubuh sedang mengalami defisit cairan tingkat ringan hingga sedang.

Secara biologis, ketika pasokan air ke dalam sel otak menurun, kinerja kognitif seseorang akan langsung merosot drastis. Akibatnya, efisiensi kerja menurun dan tingkat kegagalan fokus meningkat. Jika kebiasaan buruk lupa minum ini terus dipelihara selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, organ ginjal akan dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring racun dengan volume cairan yang minim, yang berujung pada meningkatnya risiko penyakit batu ginjal hingga gagal ginjal kronis.

Dokter spesialis gizi mengingatkan bahwa mengandalkan rasa haus saja tidak cukup untuk dijadikan parameter. Ketika sinyal haus itu muncul di otak, itu menandakan tubuh kita sebenarnya sudah terlambat dan telah kehilangan sekitar 1% hingga 2% dari total volume cairan normalnya.

Tabel: Gejala Dehidrasi Ringan vs Kronis pada Usia Produktif

Tingkat DehidrasiGejala Fisik & Kognitif yang MunculDampak Jangka Panjang (Kerusakan Organ)
Dehidrasi RinganMulut kering, urin berwarna kuning pekat, mengantuk.Penurunan konsentrasi kerja dan daya ingat jangka pendek.
Dehidrasi SedangSakit kepala, kulit kering, kram otot mendadak.Gangguan sistem pencernaan (konstipasi) dan metabolisme lambat.
Dehidrasi KronisDetak jantung cepat, mata cekung, jarang buang air kecil.Kerusakan fungsi filter ginjal, infeksi saluran kemih, batu ginjal.

Menghadapi fenomena 41 persen masyarakat yang abai ini, para pakar kesehatan menyarankan beberapa langkah preventif yang mudah diterapkan di meja kerja maupun saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah pertama adalah dengan menerapkan metode visual, yaitu selalu menyediakan botol minum berukuran besar (minimal 1 liter) di atas meja kerja yang berada langsung dalam jangkauan pandangan mata.

Langkah kedua adalah memanfaatkan kemajuan teknologi. Bagi pekerja digital yang kerap larut dalam tugas, mengunduh aplikasi pengingat minum (water reminder) di ponsel pintar atau memasang alarm berkala setiap dua jam sekali dapat menjadi solusi efektif untuk membangun kembali kebiasaan baik tersebut.

Terakhir, penting untuk mendiversifikasi asupan cairan jika air putih dirasa terlalu hambar, misalnya dengan mengonsumsi buah-buahan yang kaya kandungan air seperti semangka dan mentimun, atau membuat infused water dengan potongan buah segar. Melalui kesadaran kecil ini, diharapkan angka dehidrasi di kalangan orang dewasa dapat ditekan demi mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

Penulis

Related Articles

Back to top button