Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Panduan Lengkap Jadwal Puasa Muharram 2026 Versi Pemerintah, Muhammadiyah, dan NU

Wamanews.id, 18 Juni 2026 – Bulan Muharram sebagai tanda dimulainya tahun baru Hijriah merupakan salah satu momentum yang paling dinantikan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Menjadi salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan), awal tahun baru Islam 1448 Hijriah yang jatuh pada bulan Juni 2026 Masehi ini menjadi kesempatan emas bagi kaum Muslimin untuk memperbanyak amalan sunnah, khususnya ibadah puasa.

Puasa di bulan Muharram memiliki keistimewaan spiritual yang sangat besar dan berada di tingkat utama di bawah puasa wajib Ramadhan. Menyadur literatur keagamaan Kalender Ibadah Sepanjang Tahun karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, keutamaan agung ini bersandar langsung pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Di Indonesia, terdapat sedikit perbedaan penanggalan awal bulan Muharram 1448 H antara ketetapan Pemerintah bersama Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan ini otomatis memengaruhi penyesuaian kalender pelaksanaan puasa sunnah Tasu’a, Asyura, hingga puasa 11 Muharram di tingkat masyarakat.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang dirilis resmi oleh Kementerian Agama RI serta Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah, puasa 1 Muharram dihitung jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Dengan demikian, hari Tasu’a (9 Muharram) jatuh pada Rabu, 24 Juni 2026 dan hari Asyura (10 Muharram) bertepatan dengan Kamis, 25 Juni 2026.

Di sisi lain, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) melalui Surat Penjelasan Rukyah Muharram 1448 H menetapkan bahwa 1 Muharram jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Walhasil, akibat adanya selisih satu hari dalam metode penentuan hilal tersebut, jadwal puasa sunnah bagi warga Nahdliyin (NU) mengalami pergeseran waktu satu hari lebih lambat dibanding versi Pemerintah dan Muhammadiyah.

Tabel: Komparasi Jadwal Puasa Muharram 1448 H / 2026 M di Indonesia

Jenis Puasa SunnahTanggal HijriahVersi Kemenag & MuhammadiyahVersi Nahdlatul Ulama (NU)
Puasa Awal Tahun1 MuharramSelasa, 16 Juni 2026Rabu, 17 Juni 2026
Puasa Tasu’a9 MuharramRabu, 24 Juni 2026Kamis, 25 Juni 2026
Puasa Asyura10 MuharramKamis, 25 Juni 2026Jumat, 26 Juni 2026
Puasa Tambahan11 MuharramJumat, 26 Juni 2026Sabtu, 27 Juni 2026

Melansir buku Serba-serbi Puasa Asyura oleh Fawaeds Syafiiyah, berikut adalah rincian hukum fikih beserta dalil otentik pelaksanaan ibadah puasa di awal tahun Hijriah ini:

1. Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Para ulama lintas mazhab telah menyepakati bahwa hukum melaksanakan puasa Tasu’a adalah sunnah. Ibadah ini dirancang oleh Rasulullah SAW sebagai pembeda (mukhalafah) agar ritual ibadah umat Islam tidak persis sama dengan tradisi kaum Yahudi yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharram. Rasulullah bersabda, “Apabila tiba tahun berikutnya insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim). Namun, beliau wafat sebelum tahun berikutnya tiba.

2. Puasa Asyura (10 Muharram)

Hukum dari puasa Asyura adalah sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan karena memiliki fadhilah menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menegaskan, “Ini adalah hari Asyura. Allah tidak mewajibkan puasa pada hari ini atas kalian. Aku sendiri sedang berpuasa. Maka barang siapa yang ingin berpuasa, hendaklah ia berpuasa.”

3. Puasa 11 Muharram

Untuk menyempurnakan ibadah dan memperkuat prinsip pembeda dari kaum Yahudi, para ulama seperti Ibnu Hajar Al-Haitami menganjurkan umat Islam untuk turut berpuasa pada 11 Muharram. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Imam Ahmad: “Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi, yaitu dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”

Melalui panduan jadwal yang jelas ini, umat Islam di Indonesia dapat memilih dan menyesuaikan waktu pelaksanaan puasa sunnahnya sesuai dengan keyakinan metode falakiah yang diikuti, dengan tetap mengedepankan toleransi dan ukhuwah Islamiyah. 

Penulis

Related Articles

Back to top button