Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Badai PHK Industri Teknologi: Demi Ambisi AI, Meta Pecat 8.000 Karyawan Global

Wamanews.id, 22 Mei 2026 – Kiblat industri teknologi dunia secara radikal tengah bergeser ke arah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Guna memuluskan ambisi besar tersebut, raksasa teknologi Meta Platforms secara resmi memulai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang berdampak langsung pada sekitar 8.000 karyawan, atau setara dengan 10 persen dari total tenaga kerja mereka di seluruh belahan dunia.

Langkah efisiensi ekstrem ini sengaja diambil oleh manajemen induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran. Gelombang pemecatan dilaporkan dimulai secara maraton dari wilayah Asia, di mana sejumlah staf Meta di Singapura menerima e-mailpemutusan hubungan kerja pada Rabu (20/5/2026) dini hari sekitar pukul 04.00 waktu setempat, sebelum menjalar ke Inggris dan Amerika Serikat.

Berdasarkan informasi valid dari sumber internal perusahaan, putaran badai PHK kali ini utamanya menyasar divisi engineering (teknik) serta pengembangan produk. Sebelum pengurangan tenaga kerja ini bergulir, Meta tercatat mengelola kurang dari 80.000 karyawan pada akhir Maret lalu. Mirisnya, sejumlah pengamat memprediksi tren pengurangan karyawan ini masih berpotensi berlanjut hingga akhir tahun 2026.

Kepala SDM Meta, Janelle Gale, mengungkapkan melalui memo internal yang diverifikasi oleh Bloomberg News bahwa manajemen sengaja memangkas jalur birokrasi demi menciptakan struktur organisasi yang lebih datar (flat) dengan tim-tim kecil berbentuk pod atau cohort.

“Kami sekarang berada pada tahap di mana banyak organisasi dapat beroperasi dengan struktur yang lebih datar, dengan tim kecil yang bisa bergerak lebih cepat dan memiliki tanggung jawab lebih besar. Kami percaya ini akan membuat kami lebih produktif,” tulis Gale.

Selain memecat 8.000 pekerja, Meta juga merelokasi sekitar 7.000 karyawan lain ke tim baru, salah satunya divisi Applied AI and Engineering yang dipimpin oleh Wakil Presiden Engineering, Maher Saba. Tim yang beranggotakan sekitar 2.000 pegawai ini dirancang sangat ramping dan bekerja di bawah instruksi langsung sang CEO, Mark Zuckerberg.

Transformasi agresif ini sengaja ditempuh Mark Zuckerberg demi memenangkan perang supremasi teknologi AI melawan para kompetitor beratnya, seperti Alphabet (Google) dan OpenAI. Untuk membiayai ambisi tersebut, Meta berkomitmen menggelontorkan dana fantastis lebih dari 100 miliar dolar AS atau setara kisaran Rp1.764 triliun khusus untuk investasi infrastruktur AI sepanjang tahun ini.

Bahkan, total belanja modal korporasi diperkirakan membenang hingga menyentuh angka 125 miliar hingga 145 miliar dolar AS (sekitar Rp2.205 triliun hingga Rp2.557 triliun). Angka masif ini dialokasikan untuk pengadaan klaster GPU canggih dan pembangunan pusat data (data center) masa depan.

Kendati menjanjikan lompatan teknologi yang canggih, realitas di lapangan justru memicu gejolak hebat dan ketidakpastian psikologis di kalangan internal staf Meta. Saat pengumuman PHK diketuk, manajemen meminta karyawan bekerja dari rumah (work from home). Menariknya, sejumlah staf dilaporkan sempat menguras fasilitas kantor seperti mengambil camilan gratis hingga pengisi daya (charger) laptop karena khawatir akses masuk mereka diputus mendadak.

Suasana internal semakin memanas akibat adanya kebijakan pelacakan data perangkat karyawan yang bersifat wajib (non-optional). Program ini merekam data aktivitas mengetik (keystroke), pergerakan mouse, hingga isi layar komputer staf untuk dijadikan bahan latihan model AI Meta.

Lebih dari 1.000 karyawan telah menandatangani petisi penolakan di dinding digital kantor. “AI itu seperti kereta barang yang melaju kencang, tapi masa depan belum ditentukan sepenuhnya. Belum terlambat untuk menginjak rem,” kritik Mack Ward, seorang engineer Meta di forum internal.

Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew Bosworth, tidak menampik adanya guncangan mental pada bawahannya. “Ada sangat banyak pegawai yang merasa cemas tentang masa depan mereka. Semuanya buruk. Saya tidak akan mencoba mempermanis situasi ini,” akunya jujur.

Langkah ekstrem yang diambil Meta bukanlah fenomena tunggal di Silicon Valley. Industri teknologi global saat ini tengah mengalami fenomena penyusutan massal tenaga kerja manusia demi efisiensi operasional berbasis kecerdasan buatan.

Sebelum Meta, raksasa jaringan Cisco telah mengumumkan pemangkasan sekitar 4.000 lapangan pekerjaan. Langkah serupa juga berturut-turut diadopsi oleh raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Block, hingga Coinbase melalui skema PHK maupun kebijakan buyout (pembelian sisa masa kerja). 

Penulis

Related Articles

Back to top button