Ratapan Danau Tempe: Saat ‘Nawa-Nawa’ Melemah dan Kearifan Lokal Tergerus Limbah

Wamanews.id, 6 Mei – Duka sosial-budaya sedang menyelimuti jantung Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Wajo. Danau Tempe, yang selama berabad-abad menjadi simbol kemakmuran dan pusat peradaban suku Bugis, kini sedang berada di titik nadir.
Ironisnya, ancaman terbesar bagi danau purba ini bukan datang dari bencana alam luar, melainkan dari tangan-tangan yang selama ini menggantungkan hidup padanya dan menjadi bentuk ketidaktanggungjawaban kolektif yang mengancam warisan leluhur.
Secara sosial, Danau Tempe adalah panggung budaya yang unik dengan rumah terapungnya, namun kini ekosistemnya semakin menurun akibat pendangkalan yang masif. Penurunan kualitas air dan penyempitan luas danau bukan sekadar masalah lingkungan, tapi juga merupakan sinyal memudarnya nilai-nilai kearifan lokal dalam menjaga alam.
Masyarakat seolah kehilangan “Nawa-nawa” atau niat tulus untuk melestarikan sumber daya yang telah menghidupi nenek moyang mereka selama lintas generasi. Perilaku “Merusak” Danau Tempe Tambah Keresahan. Perilaku tidak bertanggung jawab dalam penggunaan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan menjadi pemicu rusaknya rantai ekosistem di Danau Tempe.
Banyak warga yang kini lebih mengutamakan keuntungan instan dengan dari pada keberlangsungan jangka panjang, sehingga populasi ikan endemik semakin langka. Jika initerus dibiarkan, identitas Wajo sebagai “Kota Sutera” yang berdampingan dengan danau akan kehilangan esensi budayanya yang paling mendasar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 45 Tempe, Edi Baharuddin Bahar, menerangkan pihaknya sempat membentuk tim pengawasan terpadu untuk menindak pelaku illegal fishing namun realitanya masih banyak warga yang melakukan.
“Tahun 2025 kita sempat bentuk tim pengawasan terpadu yang selalu turun memantau bahkan pada malam hari, namun realitanya masih yang tidak mengindahkan,” terangnya saat ditemui Selasa (17/2) lalu.
Menurut Edi penangkapan ikan dengan cara ilegal ini sangat meresahkan Karena berapapun bibir ikan yang dilepaskan jika penangkapan dilakukan dengan cara ilegal maka Danau Tempe berpotensi tinggal nama saja.
“Masalahnya penangkapan ikan menggunakan listrik dulunya hanya 2,5 meter sekarang sudah 5 meter. Jadi berapapun bibit ikan yang kita lepaskan kalau penangkapanya seperti itu, danau tempe tinggal nama saja tapi penghasilannya tidak ada bahkan ada kasus nelayan tidak turun tangkap ikan selama 8 bulan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia justru mengharapkan adanya kesadaran dari warga yang melakukan ilegal fishing untuk berhenti demi menjaga kelangsungan ekosistem danau.
“Kami cuma mengharapkan kalau bukan kesadaran sendiri yang berubah tidak bisa, akan tetap rusak, kita tangkap satu pelaku tapi pelaku ternyata masih banyak bahkan sampai ratusan. Sampai ada yang turun malam demi ikan dengan cara ilegal untuk menghindari pengawasan,” jelasnya.
Tak hanya illegal fishing, caruk-maruk Danau Tempe diperparah dengan hilangnya tradisi penghormatan terhadap danau yang dulu sangat kental dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir. Ritual-ritual yang dulunya mengandung pesan pelestarian kini hanya dianggap sebagai seremoni tanpa makna mendalam.
Salah satu tokoh adat macoa tappareng, Amir, menjelaskan bahwa tradisi maccera tappareng tidak bisa dilakukan dilakukan saat jika ekosistem yang ada dirusak oleh manusia.
“Kami tidak bisa menjalankan maccera tappareng, disaat ekosistem yang ada tidak bisa kami pertahankan. Rugi melaksanakan kegiatan tersebut, di saat apa yang akan ditangkap oleh masyarakat habis tak tersisa, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian ekosistem danau tempe,” tuturnya.
Akibat hal tersebut, hubungan emosional antara manusia dan alam di Wajo mulai retak, menyisakan danau yang penuh dengan eceng gondok dan sedimentasi yang semakin meninggal setiap tahunnya.
Krisis ini menuntut adanya revolusi kesadaran di tingkat akar rumput, di mana masyarakat harus kembali melihat Danau Tempe sebagai “ibu” yang memberi kehidupan. Tanggung jawab pelestarian tidak bisa hanya dibebankan pada pundak pemerintah daerah saja, melainkan harus menjadi gerakan sosial yang masif.
Tanpa adanya perubahan perilaku dalam membuang sampah dan mengelola lahan di sekitardaerah aliran sungai, masa depan Danau Tempe hanya akan menjadi cerita dalam buku sejarah.
Keprihatinan Tokoh Adat Danau Tempe
Menanggapi hiruk pikuk permasalahan lingkungan di Danau Tempe, salah seorang tokoh masyarakat, Supardi, mengungkapkan keprihatinannya akan perubahan perilaku sosial ini. Ia menekankan bahwa tanpa rasa memiliki yang kuat, segala upaya teknologi untuk menyelamatkan danau akan sia-sia karena sumber masalahnya ada pada mentalitas manusia itu sendiri yang mulai abai pada alam.
“Danau Tempe sedang sekarat bukan karena alam yangmenua, tapi karena kita telah lupa cara berterima kasih kepada air; keserakahan telah mengalahkan kearifan ‘Sipakatau’ kita terhadap lingkungan,” tutur Sekretaris Macoa Tappareng tersebut.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah setempat dapat meningkatkan pengawasannya terhadap pelaku illegal fishing yang sangat meresahkan.
“Kami mengharapkan Dinas Perikanan lebih meningkatkan pengawasannya terhadap perilaku illegal fishing karena terus terang sayasebagai salah satu tokoh di sini sudah mulai lelah terhadap perilaku masyarakat danau tempe yang tidak mau diajak kerja sama,” harap laki-laki berusia 45 tahun tersebut.
Jika dilihat secara budaya, penurunan kualitas danau juga berpotensi mematikan tradisi Maccera Tappareng jika tidak segera dilakukan pemulihan ekosistem. Festival budaya tahunan tersebut akan kehilangan jiwanya jika kondisi air dan habitat ikan di dalamnya sudah tidak lagi mendukung kehidupan yang sehat.
Kehilangan ini akan menjadi kerugian identitas yang sangat besar bagi masyarakat Wajo yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi kebaharian.
Jalan Keluar Menjaga Eksistensi Danau Tempe
Menjaga danau agar tidak kehilangan nawa-nawanya tentu memerlukan sinergi antara hukum adat dan aturan pemerintah untuk menindak tegas setiap tindakan yang merusak ekosistem danau tanpa pandang bulu.
Restorasi Danau Tempe harus dimulai dari restorasi moral masyarakatnya dalam melihat alam sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Pada akhirnya, menyelamatkan Danau Tempe adalah ujian bagi martabat masyarakat Wajo dalam menjaga titipan leluhur.
Keberhasilan dalam memulihkan danau ini akan menjadi bukti bahwa kearifan lokal Bugis masih sakti dalam menghadapi tantangan zaman. Namun, jika ketidaktanggungjawaban tetap berlanjut, kita hanya sedang menunggu waktu sampai Danau Tempe benar-benar tinggal nama dan kenangan pahit bagi masa depan Sulawesi Selatan.
Reporter: Sinta







