Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

SulSel

Tragedi Maut di Pulau Sapuka: 2 Pelajar Pangkep Tewas Usai Pesta Miras Oplosan Campur Spiritus

Wamanews.id, 7 Februari 2026 – Duka mendalam menyelimuti warga di wilayah kepulauan terjauh Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Sebuah pesta yang seharusnya menjadi ajang kumpul remaja justru berubah menjadi tragedi memilukan. Dua orang pelajar dilaporkan meninggal dunia, sementara 11 lainnya harus berjuang melewati masa kritis di ruang perawatan medis akibat mengonsumsi minuman keras (miras) oplosan.

Peristiwa tragis ini terjadi di Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, sebuah wilayah yang secara geografis berada di perbatasan perairan Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Para korban yang mayoritas masih di bawah umur ini dilaporkan nekat meracik minuman berbahaya menggunakan bahan kimia yang bukan untuk dikonsumsi manusia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan pihak kepolisian, rentetan peristiwa maut ini bermula pada Selasa (3/2/2026). Sebanyak 13 remaja berkumpul dan menggelar aksi nekat di belakang bangunan SMP Negeri 01 Liukang Tangaya. Tidak berhenti di situ, mereka kemudian bergeser dan melanjutkan aktivitas tersebut hingga ke kawasan Dermaga Batu Pulau Sapuka.

Dalam pertemuan tersebut, mereka meracik minuman yang mereka anggap sebagai “minuman keras”. Namun, alih-alih menggunakan alkohol yang lazim, mereka justru menggunakan cairan spiritus sebagai bahan dasarnya. 

Cairan yang seharusnya digunakan sebagai bahan bakar lampu atau pembersih tersebut dicampur dengan air mineral, minuman energi saset, serta ditambahkan susu kental manis untuk menyamarkan rasa tajam zat kimia tersebut.

Efek dari campuran mematikan ini tidak langsung dirasakan seketika. Namun, memasuki hari Kamis (5/2/2026), satu per satu dari mereka mulai merasakan gejala keracunan hebat.

Dua korban yang meninggal dunia diketahui berinisial W (16) dan S (17). Keduanya merupakan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah. Sebelum mengembuskan napas terakhir, kedua korban sempat mengalami gejala medis yang mengerikan, mulai dari kejang-kejang hebat hingga penurunan kesadaran secara total.

Pihak keluarga sempat melarikan mereka ke Puskesmas Sapuka untuk mendapatkan pertolongan darurat. Namun, kadar racun dari cairan spiritus yang telah masuk ke dalam sistem organ mereka sudah terlalu tinggi. Nyawa W dan S tidak tertolong lagi.

Kapolsek Liukang Tangaya, Harisuddin, membenarkan kejadian kelam yang menimpa warganya tersebut dalam keterangan resmi pada Jumat (6/2/2026).

“Dua remaja dilaporkan meninggal dunia setelah meminum minuman oplosan berbahan spiritus ini. Kami sangat menyesalkan kejadian ini, terutama karena para korban masih berstatus pelajar,” ungkap AKP Harisuddin.

Hingga saat ini, 11 rekan korban lainnya yang juga ikut menenggak miras oplosan tersebut masih berada di bawah pengawasan ketat tim medis di Puskesmas Sapuka. Kondisi mereka terus dipantau guna mencegah adanya korban jiwa tambahan.

Secara medis, penggunaan spiritus sebagai campuran minuman adalah tindakan yang sangat fatal. Spiritus mengandung zat kimia bernama Metanol. Berbeda dengan Etanol yang ditemukan dalam minuman beralkohol legal, Metanol adalah zat beracun yang sangat keras bagi tubuh manusia.

Ketika Metanol masuk ke dalam tubuh, ia akan berubah menjadi asam format yang dapat merusak saraf mata hingga menyebabkan kebutaan permanen, gagal ginjal, kerusakan hati, dan dalam banyak kasus menyebabkan kematian akibat kegagalan pernapasan dan rusaknya sistem saraf pusat.

Pencampuran Metanol dengan susu atau minuman energi sama sekali tidak mengurangi kadar racunnya, melainkan hanya menipu lidah agar minuman tersebut lebih mudah ditelan.

Tragedi di Pulau Sapuka ini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan tenaga pendidik, khususnya di wilayah kepulauan yang jauh dari pengawasan kota. Keterbatasan akses terhadap hiburan dan kurangnya pemahaman tentang bahaya zat kimia sering kali menjadi pemicu remaja melakukan eksperimen berbahaya.

Pihak kepolisian mengimbau agar para orang tua lebih memperketat pengawasan terhadap pergaulan anak-anak mereka, terutama di luar jam sekolah. Kejadian ini diharapkan menjadi pelajaran pahit agar tidak ada lagi nyawa muda yang melayang sia-sia akibat ketidaktahuan akan bahaya miras oplosan.

Saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman terhadap kasus ini, termasuk mencari tahu dari mana para pelajar tersebut mendapatkan pasokan cairan spiritus tersebut secara bebas.

Penulis

Related Articles

Back to top button