Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Internasional

Kian Mencekam! Perang Iran-Israel Memanas dengan Saling Balas Rudal, Spionase, dan Campur Tangan AS

Wamanews.id, 26 Juni 2025 – Konflik antara Iran dan Israel yang telah berlangsung hampir dua pekan terakhir terus menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Saling balas serangan rudal telah menjadi pemandangan yang rutin, memicu kekhawatiran global akan dampak destabilisasi di Timur Tengah. 

Berbagai insiden, mulai dari penangkapan mata-mata, serangan siber, hingga keterlibatan kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat, menambah kompleksitas dan ketegangan perang ini.

Puncak dari eskalasi terjadi pada Minggu dini hari, 22 Juni 2025, ketika Iran meluncurkan serangan balasan masif berupa puluhan rudal balistik ke wilayah Israel. Serangan ini merupakan respons langsung setelah Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Teheran. Rudal-rudal Iran terlihat melaju melintasi langit Israel, bahkan terlihat jelas dari Ramallah di Tepi Barat yang diduduki Israel, menandakan intensitas dan jangkauan serangan tersebut.

Sebelumnya, konflik ini telah diwarnai dengan serangan-serangan serius. Pada Minggu dini hari, 22 Juni 2025, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dilaporkan menyerang tiga fasilitas nuklir Teheran. 

Insiden ini, yang diklaim berhasil oleh Donald Trump, meskipun dibantah Iran yang menyatakan tidak ada kerusakan serius, memicu kemarahan Teheran dan mendorong mereka untuk meluncurkan serangan rudal balasan terhadap Israel di hari yang sama. Keterlibatan AS dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran ini menunjukkan dimensi internasional yang semakin dalam dari konflik bilateral ini.

Di tengah gejolak militer, perang intelijen juga berlangsung sengit. Pada Kamis, 19 Juni 2025, Polisi Iran mengumumkan penangkapan 24 orang yang dituduh memata-matai Israel. Tuduhan spionase dan kolaborasi dengan Israel juga semakin marak. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan setidaknya 223 orang telah ditangkap di seluruh negeri atas tuduhan terkait kolaborasi dengan Israel, dan memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Pemerintah Iran juga melakukan langkah drastis dengan memberlakukan pemadaman internet secara nasional pada Kamis, 19 Juni. Ini merupakan pemadaman internet paling luas sejak protes antipemerintah pada tahun 2019. Pengawas internet NetBlocks mengonfirmasi pemadaman tersebut, yang berdampak serius pada kemampuan publik untuk tetap terhubung pada saat komunikasi sangat krusial. Langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang upaya penyensoran dan pengendalian informasi di tengah krisis.

Intensitas konflik juga terlihat dari perubahan di pucuk pimpinan militer Iran. Kantor berita resmi IRNA pada Kamis, 19 Juni, melaporkan adanya penunjukan kepala intelijen baru di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). 

Brigadir Jenderal Majid Khadami ditunjuk menggantikan Mohammed Kazemi, yang tewas dalam serangan Israel minggu lalu bersama dua perwira Garda Revolusi lainnya, Hassan Mohaghegh dan Mohsen Bagheri. Kematian para perwira tinggi ini menunjukkan target strategis dan kemampuan serangan Israel yang signifikan.

Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Jumat, 20 Juni, memperingatkan Dewan Keamanan bahwa konflik Israel dan Iran melaju menuju krisis dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia mendesak semua pihak untuk “memberikan kesempatan bagi perdamaian,” menekankan bahwa ini adalah saat-saat krusial yang akan membentuk tak hanya nasib bangsa-bangsa, tetapi juga masa depan umat manusia.

Dalam sidang darurat dewan yang diminta oleh Aljazair, Cina, Pakistan, dan Rusia, Guterres memperingatkan bahwa tidak adanya tindakan di tengah meningkatnya permusuhan di wilayah tersebut dapat berdampak dengan tingginya jumlah korban jiwa dan kerusakan yang tak terhitung. 

Kepala PBB itu juga menyerukan diplomasi untuk menyelesaikan masalah nuklir, termasuk akses penuh bagi inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), untuk memastikan transparansi dan mencegah proliferasi senjata nuklir.

Konflik ini telah menelan banyak korban di kedua belah pihak. Kementerian Kesehatan Iran pada Sabtu, 22 Juni, mengumumkan jumlah terbaru korban tewas akibat serangan udara Israel yang sudah berlangsung sejak 13 Juni, meningkat menjadi 430 orang, dengan lebih dari 3.500 warga sipil terluka. Sementara itu, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia melaporkan pada Kamis, 19 Juni, bahwa hingga 639 orang telah tewas dan lebih dari 1.300 orang terluka dalam serangan Israel, menunjukkan data yang lebih tinggi.

Di pihak Israel, otoritas setempat melaporkan setidaknya 25 orang telah tewas dan lebih dari 2.500 orang terluka dalam serangan balasan pesawat nirawak dan rudal terkoordinasi dari Iran. Angka korban yang terus bertambah di kedua belah pihak ini menggarisbawahi urgensi untuk segera mencari solusi diplomatik.

Di tengah ketegangan ini, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan waspada yang ditujukan kepada seluruh warganya di manapun berada. Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa konflik di Timur Tengah secara signifikan dapat meningkatkan risiko keamanan bagi mereka yang tinggal di luar negeri atau yang sedang bepergian. 

Meskipun AS telah menyampaikan peringatan ini, mereka menegaskan tidak adanya keterlibatan langsung dalam konflik militer Iran-Israel pada Minggu dini hari, 22 Juni, saat rudal-rudal Iran menghujani Israel. Peringatan ini disampaikan oleh keamanan Departemen Luar Negeri, yang menyebut bahwa konflik Iran-Israel mengakibatkan banyak gangguan termasuk perjalanan.

Konflik yang terus memanas ini menempatkan Timur Tengah pada ambang ketidakstabilan yang lebih besar, dengan konsekuensi yang mungkin terasa jauh melampaui batas-batas regional.

Penulis

Related Articles

Back to top button