Waspada! Ini 4 Penyakit Berbahaya Akibat Kebanyakan Makan Gorengan Saat Buka Puasa

Wamanews.id, 6 Maret 2025 – Gorengan menjadi salah satu menu favorit masyarakat Indonesia saat berbuka puasa. Bakwan, tahu isi, risol, hingga tempe mendoan kerap menghiasi meja makan saat waktu magrib tiba. Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan mengonsumsi gorengan saat berbuka bisa berdampak buruk bagi kesehatan?
Menurut dokter spesialis gizi klinik dari Eka Hospital Cibubur, dr. Imelda Goretti, gorengan mengandung kalori dan lemak yang tinggi, yang dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit jika dikonsumsi secara berlebihan.
Berikut empat penyakit yang bisa mengintai jika terlalu sering berbuka puasa dengan gorengan:
1. Obesitas
Makanan yang digoreng cenderung menyerap lebih banyak minyak, sehingga kandungan kalorinya jauh lebih tinggi dibandingkan makanan yang dipanggang atau direbus.
Sebagai perbandingan, 100 gram kentang panggang mengandung 93 kalori dan 0,13 gram lemak, sedangkan kentang goreng dalam jumlah yang sama bisa mencapai 312 kalori dan 15 gram lemak.
“Kalori dan lemak tinggi dalam gorengan bisa menyebabkan penumpukan lemak berlebih di tubuh, yang berujung pada obesitas. Jika dibiarkan, obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi,” jelas dr. Imelda.
2. Kanker
Gorengan juga berpotensi tinggi mengandung zat akrilamida, senyawa berbahaya yang terbentuk saat makanan digoreng dalam suhu tinggi dalam waktu lama. Zat ini diketahui bersifat karsinogenik dan bisa meningkatkan risiko kanker.
“Akrilamida adalah senyawa beracun yang terbentuk dalam makanan selama proses memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng,” ungkap dr. Imelda. Ia menambahkan bahwa zat ini terbentuk melalui reaksi kimia antara gula dan asam amino tertentu dalam bahan makanan.
3. Penyakit Jantung
Konsumsi gorengan yang berlebihan dapat meningkatkan kadar lemak jenuh dan lemak trans dalam tubuh. Kedua jenis lemak ini dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL), menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Data Kementerian Kesehatan mencatat bahwa penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, dengan hampir 800.000 kasus setiap tahunnya.
“Gorengan bisa memicu peningkatan tekanan darah, obesitas, dan penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada penyakit jantung,” kata dr. Imelda.
4. Diabetes Tipe 2
Studi dari Shenzhen University Health Science Center mengungkapkan bahwa konsumsi gorengan secara rutin berhubungan erat dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2.
Menurut penelitian tersebut, seseorang yang makan gorengan empat hingga enam kali seminggu memiliki risiko diabetes tipe 2 meningkat hingga 39%. Jika mengonsumsinya lebih dari tujuh kali seminggu, risiko ini naik menjadi 55%.
“Kebiasaan makan gorengan dapat menyebabkan resistensi insulin, yang pada akhirnya meningkatkan risiko diabetes tipe 2,” jelas dr. Imelda.
Agar tetap sehat selama Ramadan, dr. Imelda menyarankan untuk mengganti gorengan dengan pilihan makanan yang lebih sehat seperti kurma, jus buah, atau air mineral. Selain itu, mengolah makanan dengan metode selain menggoreng, seperti merebus, mengukus, atau memanggang, bisa menjadi solusi untuk mengurangi konsumsi lemak jenuh dan kalori berlebih.
Meskipun gorengan terasa lezat saat berbuka, mengonsumsinya secara berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang. Jadi, mulai sekarang, bijaklah dalam memilih makanan agar tubuh tetap sehat selama menjalankan ibadah puasa!







