Sakit Perut Biasa? Kata Dokter Tirta Bisa Jadi Usus Buntu, Telat Tindakan Bisa Berujung Kematian

Wamanews.id, 2 Mei 2025 – Nyeri perut sering kali dianggap sepele, hanya gangguan pencernaan atau masuk angin. Namun, menurut dr. Tirta Mandira Hudhi atau yang akrab disapa Dokter Tirta, gejala ini bisa menandakan penyakit serius seperti usus buntu (apendisitis) yang berpotensi fatal jika terlambat ditangani.
Lewat unggahannya di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), akun @tirta_cipeng, Dokter Tirta memperingatkan soal meningkatnya kasus usus buntu yang terlambat terdiagnosis karena gejalanya menyerupai sakit perut biasa.
“Banyak kasus usus buntu yg akhirnya perforasi dan pecah itu karena telat dilakukan tindakan. Karena pasien merasa itu nyeri perut biasa,” tulis Dokter Tirta, Kamis (1/5/2025).
Apendisitis yang dibiarkan dapat menyebabkan perforasi (pecahnya usus buntu), yang akan menyebarkan bakteri ke seluruh rongga perut dan memicu infeksi sistemik. Kondisi ini dikenal sebagai peritonitis, yakni peradangan pada selaput rongga perut yang bisa mengancam jiwa.
“Kejadian pecahnya usus buntu itu termasuk sangat darurat. Telat bisa berujung kematian karena infeksi sistemik,” tegas Dokter Tirta.
Peringatan ini menjadi penting, terlebih pada kalangan generasi Z yang cenderung mengabaikan pola makan dan kurang perhatian terhadap gejala tubuh. Konsumsi makanan rendah serat, gaya hidup pasif, hingga pola makan sembarangan disebut menjadi pemicu risiko usus buntu yang semakin meningkat di kalangan muda.
Usus buntu adalah kantong kecil yang menempel pada usus besar di bagian kanan bawah perut. Saat terjadi peradangan, kondisi ini disebut apendisitis dan memerlukan penanganan segera, sering kali melalui operasi.
Beberapa komplikasi serius dari usus buntu yang tak tertangani meliputi:
- Perforasi: Usus buntu yang pecah dapat menyebabkan infeksi menyebar ke seluruh perut.
- Peritonitis: Infeksi serius pada lapisan perut yang bisa memicu kegagalan organ.
- Abses: Penumpukan nanah akibat infeksi yang tidak ditangani tepat waktu.
Penyebab utama apendisitis dapat dikaitkan dengan beberapa faktor berikut:
- Penyumbatan: Bisa dari feses keras, makanan tak tercerna, atau pembesaran kelenjar getah bening.
- Infeksi Bakteri: Masuknya bakteri yang menyebabkan peradangan.
- Faktor Genetik: Riwayat keluarga dengan penyakit serupa meningkatkan risiko.
- Gaya Hidup Tidak Sehat: Pola makan rendah serat, konsumsi makanan cepat saji, serta kurang olahraga dapat memicu kondisi ini.
Waspadai tanda-tanda umum usus buntu berikut:
- Nyeri perut kanan bawah yang semakin parah
- Mual dan muntah
- Demam
- Perubahan buang air besar, seperti diare atau sembelit
Gejala bisa berkembang dalam waktu singkat, sehingga penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika nyeri perut tak kunjung reda atau disertai gejala lain.
Peringatan dari Dokter Tirta menjadi alarm keras bahwa usus buntu bukan penyakit ringan. Kunci dari penanganannya adalah mendeteksi lebih dini dan tidak menunda pemeriksaan.
Generasi muda yang aktif di media sosial diimbau untuk lebih sadar terhadap kesehatan tubuh mereka sendiri. Apalagi, dalam banyak kasus, mereka kerap mengandalkan informasi dari internet tanpa diagnosa profesional.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami nyeri perut yang tidak biasa, jangan tunda untuk memeriksakan ke fasilitas kesehatan. Karena seperti yang diungkapkan Dokter Tirta, “Telat tindakan bisa berujung kematian.”
Ingat, mengenali gejala lebih awal bisa menyelamatkan nyawa.







