Kemenkeu Tegaskan Video Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara adalah Hoax dan Hasil Deepfake

Wamanews.id, 22 Agustus 2025 – Sebuah video yang memperlihatkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, viral di media sosial. Video tersebut menudingnya telah menyebut profesi guru sebagai “beban negara”. Namun, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bergerak cepat untuk meluruskan informasi tersebut. Kemenkeu dengan tegas menyatakan bahwa video yang beredar adalah hoax dan telah dimanipulasi dari konteks aslinya.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu, Deni Surjantoro, secara langsung membantah isi video yang telah meresahkan masyarakat, khususnya para pendidik. “Potongan video yang menampilkan seolah-olah Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan guru adalah beban negara itu hoax.
Faktanya, beliau tidak pernah menyatakan hal tersebut,” ujar Deni dalam keterangan resminya, Selasa (19/8/2025). Menurut penjelasan Kemenkeu, video yang beredar merupakan hasil dari teknologi deepfake dan merupakan potongan yang tidak utuh dari pidato asli Sri Mulyani.
Pidato tersebut disampaikan saat Sri Mulyani menghadiri Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Agustus 2025. Dengan adanya teknologi deepfake, manipulasi visual dan audio dapat dilakukan dengan sangat canggih, sehingga sulit dibedakan dari aslinya.
Dalam pidato aslinya, Sri Mulyani justru menunjukkan kepeduliannya terhadap profesi guru. Ia secara gamblang menyoroti rendahnya gaji guru dan dosen di Indonesia, yang menurutnya menjadi tantangan besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pernyataan ini jelas jauh berbeda dari narasi yang dimanipulasi dalam video hoax tersebut.
Sri Mulyani kala itu menyampaikan, “Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar. Ini salah satu tantangan bagi keuangan negara,” ucapnya.
Konteks ucapannya adalah tentang tantangan finansial negara dalam mengalokasikan anggaran yang memadai untuk kesejahteraan para pendidik, bukan tentang profesi guru itu sendiri sebagai beban.
Selain itu, ia juga menyinggung tentang pentingnya peran masyarakat dalam membantu pembiayaan tenaga pendidik. “Apakah semuanya harus ditanggung keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat?” tanyanya.
Pernyataan ini merupakan ajakan untuk berdiskusi mengenai model pembiayaan pendidikan yang berkelanjutan, yang melibatkan seluruh elemen bangsa, bukan pernyataan yang merendahkan.
Kemenkeu mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menyikapi konten digital. Informasi palsu, terutama yang dibuat dengan teknologi deepfake, dapat menimbulkan kesalahpahaman yang serius dan merusak reputasi di ruang publik. “Masyarakat diminta untuk melakukan verifikasi sebelum menyebarkan konten di media sosial,” tegas Deni.







