Studi Ungkap Banyak Bahaya Game Roblox, dari Kekerasan hingga Pelecehan Anak

Wamanews.id, 7 Agustus 2025 – Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, yang mengingatkan bahaya permainan Roblox bagi murid-murid kini mendapat konfirmasi kuat dari hasil sebuah studi.
Mu’ti secara tegas melarang murid bermain Roblox dikarenakan permainan tersebut menampilkan banyak adegan kekerasan, dan kekhawatiran ini sejalan dengan temuan para peneliti yang menggambarkan platform tersebut sebagai lingkungan yang “sangat mengkhawatirkan” bagi anak-anak.
Sebuah laporan terbaru dari lembaga penelitian Revealing Reality mengungkapkan bahwa anak-anak sangat mudah terpapar konten tidak pantas dan dapat berinteraksi tanpa pengawasan dengan orang dewasa di platform tersebut.
Laporan ini muncul di tengah keluhan orang tua yang semakin meningkat tentang anak-anak mereka yang kecanduan bermain, melihat konten yang memicu trauma, dan didekati oleh orang asing melalui aplikasi tersebut. Temuan ini menyoroti kesenjangan mencolok antara citra ramah anak yang dibangun Roblox dan kenyataan yang dialami penggunanya.
Sebagai platform yang menggambarkan dirinya sebagai “semesta virtual utama,” Roblox memiliki jutaan game dan lingkungan interaktif, atau yang disebut “experience”. Meskipun sebagian kontennya dibuat oleh tim internal Roblox, sebagian besar justru dikembangkan oleh penggunanya sendiri.
Pada tahun 2024, platform ini memiliki lebih dari 85 juta pengguna aktif harian, dan diperkirakan sekitar 40% di antaranya berusia di bawah 13 tahun. Roblox sendiri mengakui bahwa pengguna anak-anak bisa saja terpapar konten berbahaya, dan pelaku kejahatan digital memang ada di platform mereka.
Untuk membuktikan tingkat keamanan yang ada, para peneliti dari Revealing Reality membuat sejumlah akun Roblox fiktif dengan usia yang berbeda: 5, 9, 10, 13, dan lebih dari 40 tahun. Akun-akun ini berinteraksi satu sama lain tanpa terhubung ke pengguna di luar eksperimen untuk menjaga objektivitas. Hasilnya sangat mengejutkan.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa pengaturan keamanan yang ada masih terbatas efektivitasnya, dan risiko signifikan tetap ada bagi anak-anak. Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah anak usia lima tahun bisa saja berkomunikasi dengan orang dewasa saat bermain.
Interaksi ini tidak dibatasi oleh verifikasi usia yang efektif, meskipun Roblox telah meluncurkan alat pengawasan baru dan mengubah pengaturannya pada November lalu agar akun anak di bawah 13 tahun tidak dapat mengirim pesan langsung di luar game. Ini menunjukkan bahwa sistem filter yang ada mudah dilewati oleh pelaku kejahatan.
Lebih lanjut, akun berusia 10 tahun dalam penelitian ini bisa mengakses ruang-ruang dengan konten sugestif seksual. Misalnya, ruang hotel yang menampilkan avatar perempuan mengenakan jaring-jaring yang menggeliat di atas ranjang, serta avatar lain yang berpose intim. Ada juga ruang toilet umum di mana karakter sedang buang air kecil dan bisa memilih aksesori berbau fetish.
Peneliti juga mencatat, melalui fitur voice chat, avatar mendengar percakapan seksual dari pemain lain, serta suara menyerupai ciuman, erangan, hingga hisapan. Fitur voice chat ini hanya tersedia untuk akun terverifikasi dengan nomor ponsel dan berusia minimal 13 tahun, dan diklaim dimoderasi oleh AI secara waktu nyata. Namun, bukti di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Roblox menegaskan, pihaknya sangat bersimpati terhadap orang tua yang anaknya mengalami insiden di platform tersebut, namun juga menekankan bahwa puluhan juta pengguna lainnya menikmati pengalaman positif dan aman setiap hari.
Mereka menyadari adanya pelaku kejahatan di dunia maya dan menyebut masalah ini bukan hanya tanggung jawab Roblox semata, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh industri dan campur tangan pemerintah.
Menanggapi laporan ini, Chief Safety Officer Roblox Matt Kaufman mengatakan, kepercayaan dan keselamatan adalah inti dari seluruh aktivitas perusahaan. “Selama 2024 saja, kami menambahkan lebih dari 40 peningkatan fitur keamanan, dan kami berkomitmen penuh untuk terus melangkah lebih jauh agar Roblox menjadi ruang yang aman dan beradab bagi semua orang,” ujarnya.
Namun, pernyataan ini dibantah oleh para ahli. Direktur penelitian Revealing Reality, Damon De Ionno, mengatakan bahwa fitur keamanan yang baru diumumkan Roblox belum cukup. “Anak-anak masih bisa mengobrol dengan orang asing di luar daftar teman mereka dan dengan 6 juta konten ‘experience’ di platform ini, banyak di antaranya dengan deskripsi dan rating yang tidak akurat, bagaimana orang tua bisa mengawasi semuanya?” katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh aktivis keselamatan internet, Beeban Kidron, yang menilai laporan ini mengungkap kegagalan sistemik dalam menjaga keselamatan anak-anak di Roblox dan mendesak audit rutin untuk platform sebesar ini.







