Drama di Tengah Laut! Pemudik KM Pantokrator Melahirkan Bayi Laki-laki Jelang Sandar di Parepare

Wamanews.id, 17 Maret 2026 – Suasana di atas kapal motor (KM) Pantokrator yang tengah mengangkut ratusan pemudik mendadak berubah tegang pada Senin pagi (16/3/2026). Di tengah deburan ombak Selat Makassar dan antusiasme penumpang yang bersiap untuk turun di Pelabuhan Nusantara, Kota Parepare, sebuah perjuangan hidup dan mati terjadi di dalam salah satu bilik medis kapal.
Seorang penumpang bernama Isa (37) dilaporkan mengalami kontraksi hebat dan akhirnya melakukan persalinan darurat tepat sebelum kapal bersandar. Peristiwa ini menjadi salah satu catatan dramatis dalam pelaksanaan arus mudik Lebaran 1447 Hijriah di Sulawesi Selatan.
Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 09.30 WITA, suasana di dermaga Pelabuhan Nusantara Parepare tampak sibuk saat petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) bersiaga penuh. Begitu kapal merapat sempurna, tim medis langsung bergerak cepat mengevakuasi Isa menggunakan tandu.
Kondisi Isa tampak masih lemas dengan balutan sejumlah sarung untuk menjaga suhu tubuhnya pasca persalinan yang melelahkan. Di belakangnya, seorang petugas medis tampak menggendong bayi laki-laki yang baru saja lahir ke dunia, terbungkus kain hangat menuju mobil ambulans yang sudah menunggu di dermaga.
Nakhoda KM Pantokrator, Kapten Ashar, mengungkapkan bahwa proses persalinan tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 WITA, hanya sesaat sebelum kapal melakukan manuver untuk sandar. Beruntung, kapal tersebut telah dilengkapi dengan fasilitas klinik dan tenaga medis sesuai regulasi pelayaran.
“Memang ada aturan di atas kapal itu harus memiliki klinik atau rumah sakit untuk penanganan pertama pada penumpang yang sakit atau, dalam kasus ini, melahirkan,” jelas Kapten Ashar.
Kapten Ashar menceritakan bahwa pihak kru kapal baru menerima laporan dari pihak keluarga sesaat sebelum kapal tiba di Parepare. Saat itu, kondisi Isa sudah berada pada tahap persalinan pembukaan 3-4, yang artinya proses kelahiran tidak bisa lagi ditunda hingga sampai di darat.
“Kebetulan pada saat kapal mau sandar, baru keluarganya datang dan melapor. Itu prosesnya sangat cepat karena memang sudah pembukaan lanjut,” tambahnya.
Meski dilakukan dalam kondisi darurat dan di atas kapal yang masih bergerak, proses persalinan tersebut berjalan relatif lancar. Pengalaman Isa yang sebelumnya sudah pernah melahirkan anak disebut menjadi salah satu faktor yang memudahkan tim medis di atas kapal dalam memberikan bantuan.
Begitu berhasil dievakuasi ke dermaga, ibu dan bayinya langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat di Parepare untuk mendapatkan perawatan intensif pasca persalinan. Koordinasi yang apik antara pihak kapal dengan KKP Parepare memastikan golden time penanganan medis tetap terjaga.
Di balik kisah sukses persalinan ini, Kapten Ashar juga memberikan catatan penting terkait keselamatan pelayaran, khususnya bagi ibu hamil. Sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP), ada batasan usia kandungan bagi penumpang untuk menghindari risiko medis di tengah laut.
“Sebenarnya aturan kami untuk ibu hamil itu maksimal tujuh bulan ke bawah. Untuk delapan bulan ke atas, sebenarnya tidak diperbolehkan demi keselamatan penumpang itu sendiri. Namun, dalam kasus ini, mungkin kemarin ada yang lolos saat pemeriksaan di pelabuhan keberangkatan,” tegas Ashar secara jujur.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi para pemudik untuk lebih jujur mengenai kondisi kesehatan dan usia kehamilan sebelum menempuh perjalanan jauh. Meski berakhir bahagia, melahirkan di tengah laut tanpa fasilitas rumah sakit lengkap tetap membawa risiko yang sangat tinggi bagi ibu dan janin.
Kini, bayi laki-laki yang lahir di tengah riuh rendahnya arus mudik 2026 tersebut telah berada dalam penanganan medis di darat. Bagi keluarga Isa, Lebaran tahun ini tentu akan menjadi momen paling tak terlupakan dengan hadirnya anggota keluarga baru yang lahir dalam perjalanan “pulang”.







