Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Pinjol Bukan Sekadar Utang! Namun Menghancurkan Keharmonisan dan Psikologis Keluarga

Wamanews.id, 16 Desember 2025 – Pinjaman online (pinjol) sering kali dipandang sebagai jalan pintas untuk mengatasi masalah finansial yang mendesak. Dengan kemudahan akses yang ditawarkan hanya melalui aplikasi ponsel, pinjol menjanjikan solusi cepat tanpa prosedur berbelit. Namun, di balik kemudahan yang memikat, risiko yang ditimbulkan jauh melampaui sekadar lilitan utang. 

Dampak pinjol terbukti mampu menghancurkan keharmonisan dan mengancam kesejahteraan psikologis seluruh anggota keluarga. Psikolog Mira Damayanti Amir, S.Psi., menjelaskan bahwa tekanan finansial yang ditimbulkan oleh jeratan pinjol dapat memicu serangkaian masalah emosional dan mental.

“Tekanan finansial akibat pinjol bisa memicu kecemasan, konflik, dan rasa bersalah yang berkepanjangan,” ujar Mira Senin (15/12/2025).

Menurut Mira, banyak individu yang terjerat pinjol memilih untuk menutup diri karena merasa malu atau takut dihakimi oleh keluarga. Padahal, sikap tertutup ini justru memperparah masalah, karena komunikasi terbuka dalam keluarga sangat penting agar masalah dapat diatasi secara kolektif.

Salah satu akar masalah terbesar dalam jeratan pinjol adalah kurangnya literasi finansial. Banyak peminjam yang salah kaprah mengira bunga pinjaman hanya dihitung dari sisa utang. Kenyataannya, bunga sering kali dihitung dari total pinjaman awal, membuat jumlah yang harus dibayarkan membengkak drastis. Ketidaktahuan ini menyebabkan individu merasa kewalahan dan tertekan.

Dampaknya, tekanan ini tidak hanya berhenti pada individu peminjam. Anggota keluarga lain secara kolektif ikut terbebani, baik secara emosional maupun finansial. Mira mencontohkan kasus yang jamak terjadi, seperti seorang anak muda yang terlilit pinjol hingga orang tuanya terpaksa harus menjual aset berharga, seperti tanah, demi menutup utang tersebut. Beban ini menciptakan rasa bersalah pada peminjam dan frustrasi pada anggota keluarga yang harus menanggung akibatnya.

Mira Damayanti Amir menekankan bahwa respons keluarga sangat menentukan perkembangan situasi. Daripada memilih jalan menuduh atau menyalahkan anggota keluarga yang terjerat, ia menyarankan pendekatan yang lebih suportif dan empatik.

“Langkah pertama adalah menenangkan anggota keluarga yang terjerat pinjol. Dengan pikiran yang lebih tenang, mereka bisa mulai berpikir rasional untuk mencari solusi,” ungkapnya.

Strategi yang disarankan untuk keluarga meliputi:

  1. Mendengarkan Tanpa Menghakimi: Beri ruang aman bagi anggota keluarga untuk bercerita tentang kondisi finansialnya tanpa takut dihakimi.
  2. Memberikan Dukungan Emosional: Tekanan finansial sangat memengaruhi kesehatan mental, termasuk pola tidur dan konsentrasi. Dukungan keluarga dapat membantu meredakan kecemasan.
  3. Melibatkan Profesional: Psikolog dapat membantu mengelola stres, sementara konsultan finansial membantu menyusun rencana pelunasan utang yang realistis.
  4. Menyusun Rencana Keuangan Bersama: Fokus pada solusi nyata, seperti menutup utang secara bertahap dan segera menghentikan penggunaan aplikasi pinjol.

Mira menegaskan kembali bahwa tekanan finansial akibat pinjol yang berkepanjangan dapat memicu depresi atau masalah kesehatan mental yang lebih serius pada seluruh anggota keluarga. Dengan komunikasi terbuka, dukungan emosional yang kuat, dan strategi finansial yang realistis, keluarga dapat menjadi benteng pertahanan utama untuk pemulihan finansial maupun mental. 

Penulis

Related Articles

Back to top button