Pembaruan Dampak Gempa M 6,7 Palu: 1.254 Rumah Dilaporkan Rusak, 76 Warga Alami Luka-luka

Wamanews.id, 17 Juni 2026 – Proses pendataan dan penanganan darurat pasca-guncangan gempa bumi tektonik kuat bermagnitudo M = 6,7yang melanda tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah, terus memperlihatkan grafik kenaikan kerusakan material dan korban terdampak. Otoritas penanggulangan bencana daerah bersama tim pemantau gabungan di lapangan kini mulai merilis estimasi angka kerugian fisik secara lebih terperinci.
Berdasarkan laporan pembaruan (update) data penanganan bencana yang dihimpun pada Rabu (17/6/2026), dampak destruktif dari gempa bumi dangkal berkekalaman 10 kilometer tersebut telah mengakibatkan sedikitnya 1.254 unit rumah tinggal milik warga terkonfirmasi mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari kategori rusak ringan, sedang, hingga runtuh total (rusak berat).
Selain kerugian pada sektor infrastruktur pemukiman, gempa bumi ini juga memicu jatuhnya korban luka dari sektor masyarakat. Tercatat sebanyak 76 orang warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat terkena reruntuhan material bangunan saat mencoba menyelamatkan diri keluar dari dalam rumah ketika guncangan hebat terjadi.
Mengutip data kompilasi mendalam dari laporan lapangan detikSulsel, sebaran kerusakan bangunan paling parah mendominasi wilayah-wilayah yang letak geografisnya berada paling dekat dengan titik pusat atau episenter gempa, terutama di wilayah perbatasan antara Kota Palu dan kabupaten penyangga di sekitarnya.
Hingga saat ini, tim reaksi cepat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama personel TNI-Polri dan sukarelawan kemanusiaan masih terus menyisir titik-titik pemukiman terisolasi guna memastikan tidak ada warga yang terjebak di bawah puing bangunan.
Untuk korban luka yang menyentuh angka 76 jiwa, mayoritas langsung dievakuasi oleh tim medis ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat, seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) darurat dan rumah sakit umum di Kota Palu. Sebagian besar korban dilaporkan menderita luka robek, memar, hingga patah tulang akibat tertimpa genteng rumah, runtuhan tembok, atau material pagar yang roboh.
Menyikapi ribuan bangunan rumah yang kini sudah tidak layak dan tidak aman untuk ditempati kembali karena struktur dindingnya yang retak parah, ribuan warga dilaporkan memilih untuk mengungsi. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat mandiri di halaman terbuka atau terpusat pada lapangan umum yang dinilai aman dari potensi ancaman runtuhnya bangunan jika terjadi aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks).
Pemerintah daerah bersama Kementerian Sosial dilaporkan mulai bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik darurat, yang mencakup tenda komunal berskala besar, kasur lipat, selimut, perlengkapan bayi, obat-obatan, hingga bahan makanan pokok untuk dapur umum.
Pihak BPBD mengimbau kepada seluruh warga terdampak agar tidak memaksakan diri masuk kembali ke dalam struktur rumah yang mengalami keretakan horizontal pada tiang penyangga utamanya. Hal ini sangat krusial dipatuhi mengingat gempa susulan dengan magnitudo yang lebih kecil masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu dan bisa meruntuhkan bangunan yang kondisinya sudah rapuh.







