Kabar Gembira! Harga Cabai dan Bawang Mulai Turun Pasca Libur Nataru
Wamanews.id, 6 Januari 2026 – Euforia perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 mulai mereda. Seiring dengan kembalinya aktivitas normal masyarakat, fluktuasi harga sejumlah bahan pokok di pasar-pasar tradisional Kota Makassar juga mulai menunjukkan tren positif. Memasuki hari kelima pasca pergantian tahun, harga komoditas “pedas” seperti cabai terpantau mulai mengalami penurunan signifikan.
Pantauan tim di Pasar Pabbaeng-baeng, salah satu pasar induk terbesar di Kota Makassar, menunjukkan bahwa harga bahan pangan mulai melandai meski belum sepenuhnya kembali ke harga normal seperti sebelum periode libur panjang. Penurunan harga ini disambut baik oleh para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner yang sebelumnya sempat mengeluhkan tingginya harga di akhir tahun.
Komoditas cabai menjadi sorotan utama karena mengalami penurunan harga yang cukup drastis. Harga cabai rawit yang sempat menyentuh angka Rp50.000 per kilogram saat malam Tahun Baru, kini dibanderol di kisaran Rp35.000 per kilogram. Penurunan ini diikuti oleh cabai merah besar yang kini hanya Rp20.000 per kilogram (sebelumnya Rp36.000) dan cabai keriting yang turun ke harga Rp30.000 dari harga sebelumnya Rp38.000 per kilogram.
Selain keluarga cabai, duo bawang juga mulai bersahabat dengan kantong konsumen. Harga bawang merah dan bawang putih kini kompak berada di angka Rp40.000 per kilogram. Padahal, pada puncak perayaan tahun baru kemarin, harga kedua komoditas ini sempat melonjak hingga Rp50.000 dan Rp45.000 per kilogram.
Beberapa komoditas lain terpantau stabil dan cenderung turun tipis:
- Beras: Bertahan di kisaran Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram (tergantung kualitas).
- Telur Ayam Ras: Stabil di angka Rp52.000 per rak.
- Tepung Terigu: Mengalami penurunan seribu rupiah, dari Rp11.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.
- Kentang: Menetap di harga Rp12.000 per kilogram.
Namun, tidak semua harga komoditas turun. Harga tomat justru melonjak tajam dari Rp5.000 menjadi Rp12.000 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng mengalami kenaikan tipis sebesar Rp1.000 menjadi Rp17.000 per liter.
Amir, salah seorang pedagang di Pasar Pabbaeng-baeng, mengungkapkan bahwa penurunan harga yang cukup cepat ini dipicu oleh kelancaran distribusi. “Kalau sekarang memang stok cabai sedang banyak masuk, makanya harganya bisa turun cepat. Berbeda dengan bawang yang penurunannya tipis karena stoknya tidak sebanyak cabai,” jelas Amir kepada media, Senin (5/1/2026).
Lebih lanjut, Amir menjelaskan bahwa saat ini aktivitas pengiriman bahan pangan ke luar daerah Sulawesi Selatan sedang melambat. “Karena tidak ada pengiriman besar keluar daerah, stok di pasar lokal jadi melimpah. Hukum pasar berlaku, stok banyak sementara permintaan mulai normal, ya harga jadi murah,” tambahnya.
Hal senada dirasakan oleh Nuraini, seorang konsumen yang sedang berbelanja. Ia mengaku merasa lebih tenang dengan kondisi harga saat ini. “Waktu Tahun Baru kemarin memang mahal karena kita semua bikin acara kumpul keluarga. Sekarang sudah belanja harian biasa, alhamdulillah sudah banyak yang turun harganya,” ujarnya.
Meskipun harga mulai turun, pengamat ekonomi dari Universitas Bosowa (Unibos), Lukman, mengingatkan masyarakat dan pemerintah untuk tidak lengah. Menurutnya, pola kenaikan harga di awal tahun adalah hal yang lumrah karena euforia musiman. Namun, tantangan sesungguhnya di bulan Januari 2026 ini adalah anomali cuaca.
“Kita harus waspada karena curah hujan beberapa hari terakhir cukup tinggi. Cuaca ekstrem berpotensi mengganggu proses panen petani dan menghambat jalur distribusi logistik. Jika ini terjadi, harga bisa kembali meroket kapan saja,” terang Lukman.
Ia menyarankan agar pemerintah daerah tetap aktif melakukan langkah-langkah preventif seperti:
- Operasi Pasar Murah untuk komoditas yang masih tinggi.
- Pemantauan Stok di tingkat gudang distributor.
- Subsidi Pupuk bagi petani untuk menjamin keberlanjutan produksi.
- Pengawasan Harga guna mencegah adanya spekulan yang memanfaatkan situasi cuaca.
Lukman juga mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan menghindari panic buying. Dengan stabilitas pasokan yang terjaga, diharapkan inflasi awal tahun di Kota Makassar dapat terkendali dengan baik.







