Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Geger! Temuan Cicak dalam Bakwan Program Makan Bergizi Gratis, Sempat Dikunyah Orang Tua Murid 

Wamanews.id, 13 Januari 2026 – Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah menjadi primadona kebijakan publik kembali diterpa isu tak sedap. Kali ini, sebuah insiden mengejutkan terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di mana seekor bangkai cicak ditemukan tertanam di dalam lauk bakwan pada menu yang dibagikan kepada siswa sekolah.

Peristiwa ini mendadak viral setelah unggahan dari akun Instagram @fokusgunungkidul menyebarkan laporan dari salah satu orang tua murid di TK ABA 1 Grogol, Kapanewon Paliyan. Temuan ini memicu perdebatan panas di media sosial, terutama terkait standar higienitas dan pengawasan kualitas pangan dalam program berskala besar tersebut.

Kejadian bermula ketika menu Makan Bergizi Gratis dibagikan kepada para siswa di TK ABA 1 Grogol. Salah satu siswa bernama Wildan memilih untuk membawa pulang jatah makanannya. Di rumah, sang ibu kemudian mencicipi lauk bakwan yang menjadi bagian dari menu tersebut.

Namun, pengalaman makan itu berubah menjadi mimpi buruk. Melalui pesan singkat di grup WhatsApp wali murid yang kemudian tersebar luas, sang ibu menceritakan momen mengerikan tersebut.

“Buk, tadi di MBG menunya kan ada bakwan, terus punya Wildan itu dibawa pulang yang makan ibuknya. Ya ampun buk, di dalam bakwan ada cicaknya,” tulis narasi yang beredar tersebut.

Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Alfian Yudha Praniawan, mengonfirmasi kebenaran insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa sang ibu sempat mengunyah bagian bakwan tersebut sebelum merasakan tekstur yang aneh.

“Anak membawa makanan ke rumah, lalu dimakan orang tuanya. Sebelum habis dimakan, ibunya merasa aneh dan langsung meludahkannya. Setelah dicek, ternyata ada binatang (cicak) di dalam makanan. Beruntung belum sampai tertelan,” jelas Letkol Alfian, Selasa (13/1/2026).

Unggahan tersebut langsung diserbu komentar netizen. Sebagian besar merasa mual dan mempertanyakan bagaimana proses penggorengan bakwan dilakukan hingga seekor cicak bisa masuk ke dalam adonan tanpa terdeteksi.

Namun, bukan hanya soal cicak, netizen juga mulai mengkritisi komposisi menu MBG. “Bakwan? Masa dikasih makan tepung? Di mana letak gizinya?” tulis salah satu warganet yang mempertanyakan apakah menu gorengan berbahan dasar tepung sudah sesuai dengan standar “Makan Bergizi” yang dijanjikan pemerintah.

Menanggapi kegaduhan ini, Kepala Satuan Pelayanan Percontohan Gizi (SPPG) Mulusan 2, Muhammad Toriq Agus Firmansyah, memberikan klarifikasi. Ia mengakui adanya kelalaian tersebut dan menyatakan telah melakukan komunikasi intensif dengan pihak sekolah.

Toriq menjelaskan bahwa proses produksi makanan dimulai sejak pukul 01.00 WIB dini hari untuk mengejar jadwal distribusi pagi hari. Meski ia mengklaim telah melakukan monitoring langsung di dapur, ia mengaku belum mengetahui secara pasti di titik mana cicak tersebut masuk ke dalam adonan.

“Kami sudah berkomunikasi dengan kepala sekolah dan melakukan penyesuaian. Kami mengikuti prosedur yang berjalan sesuai SOP. Kami juga akan melakukan perbaikan total, termasuk dari pihak yayasan pengelola dapur,” tegas Toriq.

Guna meredam keresahan masyarakat, Kodim 0730/Gunungkidul segera memfasilitasi rapat koordinasi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, perwakilan SPPG, pihak yayasan, kepala sekolah, hingga orang tua murid yang terdampak.

Letkol Alfian memastikan bahwa masalah ini telah diselesaikan secara kekeluargaan, namun dengan catatan keras bagi pengelola. Ia menekankan bahwa standar operasional prosedur (SOP) harus diperketat tanpa toleransi.

“Kami menekankan agar pemilik SPPG dan yayasan lebih ketat dalam menyortir bahan baku dan mengawasi proses memasak. Pengawasan harus dilakukan mulai dari kebersihan dapur hingga pengecekan akhir (final check) sebelum makanan dikemas dan didistribusikan,” ujar Dandim.

Ia juga meminta pengelola untuk lebih responsif terhadap komplain masyarakat. “Jika ada keluhan, mereka harus bergerak cepat, datang ke lokasi, dan menyelesaikannya secara transparan. Keamanan pangan bagi anak-anak adalah prioritas yang tidak bisa ditawar,” pungkasnya.

Insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pengelola program Makan Bergizi Gratis di Indonesia untuk tidak hanya mengejar kuantitas distribusi, tetapi juga memastikan kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga demi kesehatan generasi masa depan.

Penulis

Related Articles

Back to top button