Bukan Sekadar Kurang Gerak, Ini 9 Ciri Orang Pemalas Menurut Psikolog Dunia

Wamanews.id, 6 Januari 2026 – Di tengah tuntutan dunia kerja dan kehidupan modern tahun 2026 yang serba cepat, istilah “malas” sering kali dilekatkan pada siapa saja yang dianggap kurang produktif. Kita sering memberi label pemalas pada rekan kerja yang menunda tugas, teman yang menghindari tanggung jawab, atau anggota keluarga yang terlihat enggan bergerak. Namun, benarkah malas hanya sebatas enggan bekerja?
Dari kacamata psikologi, fenomena kemalasan jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan energi fisik. Psikolog ternama dari University of Durham, Fuschia Sirois, mengungkapkan bahwa perilaku malas sebenarnya adalah sebuah pola sikap dan kebiasaan yang berlangsung secara konsisten. Ia membedakan antara kebutuhan tubuh untuk beristirahat dengan kemalasan yang bersifat kronis.
Menurut Sirois, orang yang memiliki kecenderungan malas biasanya menunjukkan ciri-ciri tertentu yang berakar pada lemahnya motivasi jangka panjang dan minimnya inisiatif. Berikut adalah 9 ciri orang pemalas menurut psikolog yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari:
1. Sering Menunda Tanpa Alasan Jelas
Ciri yang paling menonjol adalah prokrastinasi atau menunda-nunda. Namun, ini bukan karena ketidakmampuan teknis, melainkan enggan memulai. Sirois menjelaskan bahwa akar masalahnya sering kali bukan pada tugas itu sendiri, melainkan emosi negatif yang muncul saat menghadapi tugas tersebut. “Semakin Anda bersikap kritis terhadap diri sendiri karena menunda-nunda, hal itu justru dapat meningkatkan kemungkinan Anda akan terus menunda-nunda,” ujarnya.
2. Minim Inisiatif
Orang dengan perilaku ini jarang mengambil langkah pertama. Mereka cenderung menunggu perintah atau didesak oleh orang lain sebelum mulai bergerak. Hal ini berbanding terbalik dengan ambisi yang didefinisikan oleh Journal of Vocational Behavior sebagai upaya konsisten untuk meraih keberhasilan. Pemalas cenderung tidak peduli pada pencapaian karena enggan mengerahkan usaha.
3. Mudah Menyerah pada Kesulitan
Bagi mereka yang memiliki mentalitas malas, tantangan kecil pun terasa seperti beban yang sangat berat. Alih-alih mencari solusi saat menghadapi hambatan, mereka lebih memilih untuk mundur, berhenti, atau mencari jalan pintas yang sering kali tidak efektif.
4. Tidak Memiliki Tujuan Jangka Panjang
Tanpa target hidup yang jelas, motivasi untuk berusaha secara alami akan melemah. Ciri orang pemalas biasanya adalah mereka yang hidup “mengalir” tanpa rencana masa depan yang konkret. Ketiadaan tujuan ini membuat mereka merasa tidak ada alasan kuat untuk bekerja keras saat ini.
5. Sulit Menjaga Konsistensi Rutinitas
Membangun kebiasaan positif adalah tantangan besar bagi pemalas. Berdasarkan jurnal The Importance of Creating Habits and Routine, seseorang membutuhkan rata-rata 66 hari untuk membentuk kebiasaan baru hingga menjadi otomatis. Orang pemalas biasanya gagal melewati fase ini karena tidak konsisten dalam menjalankan jadwal harian seperti bangun pagi atau berolahraga.
6. Hanya Melakukan Hal Seminimal Mungkin
Dalam dunia profesional, perilaku ini dikenal sebagai “quiet quitting” versi lama. Mereka bekerja sebatas memenuhi kewajiban agar tidak ditegur, tanpa ada dorongan untuk memberikan hasil terbaik atau melampaui standar yang ditetapkan.
7. Kurang Dorongan untuk Belajar dan Berkembang
Rasa ingin tahu adalah mesin penggerak kemajuan. Sebaliknya, orang pemalas memiliki rasa ingin tahu yang rendah terhadap hal baru. Mempelajari keterampilan baru dianggap sebagai aktivitas yang melelahkan dan menyita waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bersantai.
8. Menolak Perubahan
Meski kondisi saat ini tidak ideal atau membosankan, orang yang malas cenderung memilih bertahan di zona nyaman. Bagi mereka, beradaptasi dengan perubahan membutuhkan energi ekstra yang tidak ingin mereka keluarkan.
9. Enggan Membantu Orang Lain
Di luar kewajiban utama, mereka biasanya menghindari tanggung jawab tambahan. Membantu orang lain dipandang sebagai beban yang menyita energi, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap pasif meskipun ada kesempatan untuk berkontribusi secara sosial.
Jika Anda merasa memiliki beberapa ciri di atas, jangan berkecil hati. Perubahan selalu mungkin dilakukan. Penata organisasi profesional, Diana Quintana, menyarankan agar Anda mulai dengan mengenali waktu paling optimal dalam sehari (pagi, siang, atau malam) di mana energi Anda berada di titik tertinggi.
“Kerjakan tugas yang paling sulit saat energi Anda berada di titik terbaik,” saran Quintana. Ia juga menekankan pentingnya membagi tugas besar menjadi sesi-sesi kecil yang lebih ringan untuk dikerjakan agar otak tidak merasa terbebani.
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah tidak semua perilaku pasif disebut malas. Dalam beberapa kasus di tahun 2026 ini, banyak orang mengalami burnout (kelelahan mental) akibat stres berkepanjangan. Bedanya, orang yang burnout dulunya adalah orang yang sangat produktif namun kehabisan energi, sedangkan kemalasan adalah pola perilaku yang sudah berlangsung lama.
Memahami akar masalah, apakah itu sekadar kebiasaan buruk atau masalah kesehatan mental yang lebih dalam, adalah langkah awal untuk membangun hidup yang lebih produktif dan bermakna.





