BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi Sumatera: Gelombang 2 Meter di Pesisir, Evakuasi Hati-hati, Curah Hujan Sudah Ekstrem

Wamanews.id, 28 November 2025 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan keras bagi empat provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau, terkait tingginya ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan longsor. Peringatan ini dikeluarkan meskipun Siklon Tropis Anyar, yang menjadi pemicu cuaca ekstrem beberapa hari terakhir, telah dinyatakan melemah sejak Rabu (26/11/2025) pukul 07.00 WIB.
Forecaster BMKG, Agie Wandala Putra, menyampaikan bahwa pelemahan siklon tidak lantas membuat ancaman hilang sepenuhnya. Kondisi siaga bencana tetap perlu dijaga mengingat hujan ekstrem dan angin kencang masih berpotensi besar terjadi dalam kurun 24 hingga 72 jam ke depan.
Berdasarkan pemantauan BMKG, sirkulasi Siklon Tropis Anyar yang awalnya merupakan fenomena langka karena tumbuh sangat dekat dengan Indonesia, masih aktif dan bergerak ke timur dengan kecepatan angin mencapai 56 km/jam.
Dampak langsung yang diwaspadai adalah:
- Hujan Ekstrem: Hujan lebat hingga ekstrem masih akan mendominasi Aceh, Sumatera Utara, dan Riau dalam 24 jam ke depan. BMKG mencatat curah hujan di sejumlah titik telah mencapai kategori ekstrem, yaitu lebih dari 150 mm per hari, yang sangat berpotensi memicu banjir bandang dan tanah longsor.
- Gelombang Tinggi: Selain hujan, BMKG memperkirakan adanya angin kencang serta ketinggian gelombang lebih dari 2 meter di wilayah pesisir Barat dan Utara Sumatera. Seluruh aktivitas masyarakat, terutama nelayan dan transportasi laut, diminta untuk dihentikan sementara demi keselamatan.
Agie juga menyinggung adanya dua sistem badai lain yang dekat dengan Indonesia saat ini, yaitu satu di Laut Cina Selatan dan satu di sekitar Sumatera, menambah kompleksitas cuaca.
Agie menekankan bahwa fenomena ekstrem ini menunjukkan dampak nyata dari perubahan iklim, yang dibuktikan dengan tumbuhnya siklon sedekat Selat Malaka. Mengingat sejarah mencatat fenomena serupa pernah terjadi, seperti Tropical Cyclone Vamei (2001) dan Siklon Seroja (2021) di NTT, Agie menilai penting bagi masyarakat untuk memiliki memori bencana yang lebih kuat agar respons cepat dapat dilakukan.
BMKG juga menekankan pentingnya koordinasi dalam proses evakuasi.
“Meski ada indikasi pelemahan, mohon tetap waspada. Proses evakuasi pun perlu sangat hati-hati karena kondisi di lapangan (tanah jenuh) masih berat,” ujarnya.
Masyarakat diminta untuk secara aktif memantau informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan tim lapangan, terutama selama periode kritis dua hingga tiga hari ke depan.
Meskipun BMKG memperkirakan kondisi akan mulai membaik dalam empat hingga lima hari, kewaspadaan total tetap harus dijaga mengingat Indonesia memasuki puncak musim hujan pada Januari.







