Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Rokok dan Beras Jadi Penyumbang Kemiskinan Terbesar di Indonesia, Ini Kata BPS

Wamanews.id, 28 Juli 2025 – Sebuah fakta mengejutkan datang dari data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) terkait penyumbang utama garis kemiskinan di Indonesia per Maret 2025. Dua komoditas yang mungkin tak disangka, yakni rokok dan beras, menduduki posisi teratas sebagai pemicu kemiskinan. Informasi ini sontak menjadi perbincangan, termasuk di kalangan pegiat media sosial.

Salah satunya adalah Maudy Asmara, seorang pegiat media sosial, yang memberikan tanggapan melalui akun X pribadinya pada Senin (28/7/2025). Maudy menyatakan bahwa masuknya rokok sebagai penyumbang kemiskinan adalah hal yang wajar. 

Namun, ia mengaku bingung mengapa beras, yang merupakan kebutuhan pokok, juga masuk dalam daftar tersebut. “Kalau rokok oke lah,” tulis Maudy. “tapi beras kan kebutuhan pokok? 🤔,” ujarnya, mengungkapkan keheranannya.

Data BPS menunjukkan secara rinci bagaimana kedua komoditas ini memberikan kontribusi signifikan terhadap garis kemiskinan (GK), baik di perkotaan maupun perdesaan.

Untuk wilayah perkotaan, beras menyumbang sebesar 21,06% terhadap garis kemiskinan. Ini mengindikasikan bahwa pengeluaran untuk beras, meskipun esensial, memakan porsi besar dari anggaran rumah tangga miskin. Di sisi lain, rokok filter juga memiliki kontribusi besar dengan menyumbang 10,72% terhadap garis kemiskinan di perkotaan.

Situasi serupa juga terjadi di wilayah perdesaan. Beras bahkan memiliki kontribusi yang lebih tinggi, yaitu 24,91% dari garis kemiskinan. Sementara itu, rokok kretek filter menyumbang 9,99% terhadap garis kemiskinan di perdesaan.

Tren ini bukanlah hal baru. Pada periode sebelumnya, September 2024, pola serupa juga ditemukan. Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, tetap didominasi oleh beras. 

Sumbangan beras mencapai 21,01% di perkotaan dan 24,93% di perdesaan. Rokok kretek filter juga menempati posisi kedua pada Garis Kemiskinan September 2024, memberikan sumbangan terbesar kedua, yaitu 10,67% di perkotaan dan 9,76% di perdesaan.

Data BPS ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai pola konsumsi masyarakat miskin di Indonesia. Bahwa beras, sebagai sumber karbohidrat utama dan kebutuhan pokok, menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan menunjukkan adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat miskin terhadap pangan esensial. 

Kenaikan harga beras atau ketidakstabilan pasokan akan langsung berdampak pada peningkatan jumlah penduduk miskin atau memperparah kondisi mereka yang sudah miskin.

Di sisi lain, kontribusi rokok yang konsisten berada di posisi kedua sebagai penyumbang kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadi sorotan serius. Rokok bukanlah kebutuhan pokok, melainkan barang konsumsi adiktif yang memiliki dampak negatif besar pada kesehatan. 

Fakta bahwa pengeluaran untuk rokok menempati porsi signifikan dalam pengeluaran rumah tangga miskin menunjukkan adanya alokasi dana yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendasar, seperti pendidikan, kesehatan, atau gizi, justru dialihkan untuk membeli rokok.

Fenomena ini menggarisbawahi kompleksitas masalah kemiskinan di Indonesia. Tidak hanya soal ketersediaan pendapatan, tetapi juga pola pengeluaran dan prioritas konsumsi rumah tangga. 

Pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu merumuskan strategi yang lebih holistik. Intervensi tidak hanya fokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga edukasi mengenai prioritas pengeluaran, pentingnya gizi, serta bahaya rokok yang bukan hanya merugikan kesehatan tetapi juga memperparah kondisi ekonomi keluarga miskin. Data ini menjadi alarm keras bagi kita semua untuk melihat ulang bagaimana sumber daya digunakan oleh kelompok masyarakat rentan.

Penulis

Related Articles

Back to top button