Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

FOMO Fashion: Tren Berganti, Limbah Tekstil Menumpuk

Wamanews.id, 6 November 2026 – Gaya hidup konsumtif, terutama dalam bidang fashion, menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kebiasaan membeli pakaian karena takut tertinggal tren atau dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) dapat mendorong seseorang untuk terus mengikuti perkembangan fashion tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun dampaknya dalam jangka panjang.

Kebiasaan tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh media sosial. Berbagai konten yang menampilkan aktivitas belanja para influencer, seperti haul time atau unboxing time, sering kali menarik perhatian penonton.

Pakaian yang diperlihatkan kemudian menjadi daya tarik tersendiri dan mendorong keinginan untuk memiliki barang serupa. Akibatnya, keputusan membeli pakaian tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi oleh tren yang sedang populer.

Di sisi lain, perkembangan industri fast fashion turut mendorong meningkatnya konsumsi pakaian. Fast fashion merupakan model industri yang memproduksi pakaian dalam waktu relatif singkat untuk mengikuti perubahan tren pasar. Produk-produknya umumnya ditawarkan dengan harga terjangkau sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan.

Namun, siklus produksi dan pergantian tren yang cepat dapat mendorong masyarakat untuk terus membeli pakaian baru, sementara pakaian lama berpotensi semakin jarang digunakan. Selain itu, tren thrifting atau membeli pakaian bekas juga perlu diperhatikan dari sisi pengelolaannya.

Pada dasarnya, penggunaan kembali pakaian dapat memperpanjang masa pakai dan mengurangi kebutuhan produksi pakaian baru, akan tetapi pakaian bekas yang tidak terjual atau tidak layak pakai tetap berpotensi menjadi limbah apabila tidak dikelola dengan baik berdasarkan laporan Global Green Growth Institute (GGGI) yang dikutip dari laman danarmas.com, timbunan limbah tekstil nasional mencapai 2,3 juta ton per tahun dan berpotensi meningkat hingga 70% dalam beberapa tahun mendatang apabila tidak dilakukan intervensi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan limbah tekstil membutuhkan perhatian serius, baik dari masyarakat maupun industri fashion. Limbah tekstil yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai pencemaran lingkungan. Pakaian yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) akan menambah volume sampah, terutama karena beberapa jenis kain sintetis membutuhkan waktu lama untuk terurai.Selain itu, sisa bahan kimia dari proses pewarnaan kain berpotensi mencemari tanah dan air.

Serat sintetis dari pakaian juga dapat terlepas saat dicuci dan terbawa ke lingkungan perairan dalam bentuk mikroplastik. Persoalan limbah tekstil bukan hanya tentang banyaknya pakaian yang dibuang, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana industri mengelola proses produksi, distribusi, hingga konsumsi secara lebih bertanggung jawab.

Kesadaran untuk mengurangi limbah perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membeli pakaian sesuai kebutuhan, memanfaatkan kembali pakaian yang masih layak, serta lebih bijak dalam mengikuti tren fashion. Dengan begitu, keinginan untuk tampil modis tidak harus berakhir dengan semakin banyaknya limbah pakaian.

Penulis : Masdiana

Penulis

Related Articles

Back to top button