Ironi! Prabowo Klaim Pemerintahan Berhasil, Tapi Rakyat di Survei Bilang Lain

Wamanews.id, 19 Oktober 2026 – Pemerintah mengklaim berhasil. Sayangnya, rakyat yang disurvei tidak diajak rapat untuk menyepakati klaim itu.
Di atas podium, Presiden Prabowo Subianto memaparkan keberhasilan dua tahun pemerintahannya. Di bawah podium, data berbicara dengan nada yang sedikit ironis.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mencatat ada jarak yang cukup lebar antara pidato keberhasilan dan angka di lapangan.
Survei nasional Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) 1-10 Oktober 2026 menunjukkan, elektabilitas Prabowo sebagai petahana berada di angka 9,8 persen.
Angka itu tertinggal jauh dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melesat di angka 35,5 persen. Bahkan dari Anies Baswedan yang berada di 10,3 persen, Prabowo masih harus mengejar 0,5 persen.
“Jadi, ada kesenjangan (gap) antara klaim keberhasilan pemerintah dengan kepuasan dan elektabilitas terhadap pemerintah dan Prabowo menurut publik berdasarkan hasil survei,” kata Jamiluddin, Senin (19/10/2026).
Ironi pun lengkap, saat pemerintah merasa sudah bekerja maksimal, publik justru memberi rapor 9,8 persen. Sementara sosok kepala daerah yang sibuk konten bersih-bersih sungai dan marah-marah di TikTok, malah dapat 35,5 persen.
Pemerintah boleh saja mengklaim berhasil, tapi dalam demokrasi, nilai akhir bukan ditentukan di podium. Klaim keberhasilan sepihak tanpa cermin dari kepuasan rakyat hanya akan menjadi monolog kekuasaan.
“Pemerintah yang demokratis seharusnya mendengarkan penilaian rakyat terhadap kinerjanya, bukan klaim sepihak,” tutup Jamiluddin.
Karena pada akhirnya, yang menentukan berhasil atau tidak bukanlah klaim, melainkan suara rakyat itu sendiri.







