Elong dari Danau Tempe: Sebelum Panggung (Karya Eka Besse Wulandari)

Wamanews.id, 13 Oktober 2026 – Tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk benda atau peninggalan yang dapat dilihat secara langsung. Ada pula tradisi yang bertahan melalui suara, ingatan, dan proses pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam budaya Bugis, elong merupakan salah satu bentuk tradisi sastra lisan yang disampaikan melalui syair atau nyanyian. Kelestarian elong tidak hanya berkaitan dengan upaya mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya, tetapi juga dengan bagaimana ungkapan-ungkapan di dalamnya terus ditafsirkan dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat.
Melalui karya bertajuk Elong dari Danau Tempe:
Sebelum Panggung, seniman Eka Besse Wulandari mengangkat tradisi lisan Bugis melalui pendekatan seni instalasi yang memadukan audio interaktif dengan 14 miniatur rumah terapung. Penelitian mengenai elong Bugis di kawasan Danau Tempe telah menghasilkan pengarsipan sekitar 500 bait. Jumlah ini merujuk pada bait yang berhasil diarsipkan selama proses penelitian, bukan keseluruhan elong yang terdapat dalam tradisi Bugis.
Dokumentasi tertulis mengenai elong Bugis juga dapat ditemukan dalam buku Elong dalam Sastra Bugis karya Jemmain yang terbit pada 1998. Selain itu, tulisan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan tentang pammulang elong memberikan gambaran mengenai salah satu bentuk elong yang berfungsi sebagai syair atau nyanyian pembuka sebelum pakkelong bernyanyi atau bersyair.
Dokumentasi tersebut menjadi latar belakang untuk memahami elong sebagai bagian dari tradisi sastra lisan Bugis. Dalam karya ini, perhatian seniman diarahkan pada penelitian dan pengarsipan elong yang berkaitan dengan kawasan Danau Tempe. Hasil penelitian tersebut kemudian dihadirkan melalui karya seni, sehingga elong tidak hanya berhenti sebagai teks yang dikumpulkan dan diarsipkan.
Melalui instalasi audio interaktif dan miniatur rumah terapung, seniman berupaya membawa tradisi lisan ke dalam pengalaman artistik. Perpaduan suara dan bentuk visual tersebut menghubungkan elong dengan kehidupan masyarakat di sekitar Danau Tempe, yang digambarkan melalui keberadaan palungeng atau lesung padi serta miniatur rumah terapung.
Pendekatan yang digunakan dalam karya ini juga terlihat melalui pemilihan material instalasi. Menurut Eka Besse Wulandari, seniman di balik karya Elong dari Danau Tempe: Sebelum Panggung, sekitar 90 persen material yang digunakan merupakan material daur ulang, termasuk kantong kresek dan kemasan botol plastik. Penggunaan material tersebut menghadirkan gagasan tentang kemungkinan memberikan kehidupan baru pada benda-benda yang telah dibuang.
Hal ini sejalan dengan pandangan seniman bahwa tradisi dapat terus memperoleh makna melalui ingatan, penafsiran, dan pengalaman baru masyarakat. Pemilihan ruang untuk mempresentasikan karya juga menjadi bagian penting dari gagasan tersebut. Seniman menjelaskan bahwa palungeng dipilih sebagai tempat presentasi instalasi karena memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis.
Kehadiran karya di ruang yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat memperluas pemahaman mengenai tempat seni dan budaya dapat tumbuh. Seni tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang hadir di panggung atau institusi seni, tetapi juga dapat berhubungan dengan ruang tempat masyarakat menjalani aktivitas, bekerja, dan membangun kebersamaan.
Melalui Elong dari Danau Tempe:
Sebelum Panggung, seniman menampilkan pandangan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya dilakukan dengan mendokumentasikan warisan budaya, tetapi juga dengan membuka ruang bagi tradisi untuk terus ditafsirkan dan dihidupkan kembali. Perpaduan suara, miniatur rumah terapung, material daur ulang, dan ruang presentasi karya mempertemukan penelitian budaya dengan penciptaan seni kontemporer. Pada akhirnya, elong dihadirkan bukan semata-mata sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai tradisi yang dapat terus memperoleh makna dalam hubungan antara masyarakat, ingatan, dan kehidupan sehari-hari.
Penulis : Masdiana







