Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Heboh Kasus Keracunan MBG, Drone Emprit Ungkap Sentimen Negatif Tembus 76,6 Persen 

Wamanews.id, 18 September 2026 – Rentetan kasus keracunan massal yang membayangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menyedot perhatian publik di ruang siber. Hasil pemantauan dan analisis sistem Drone Emprit menunjukkan bahwa maraknya insiden keracunan di berbagai daerah telah memicu gelombang besar percakapan warganet, yang bermuara pada tingginya sentimen negatif dan krisis kepercayaan terhadap program andalan pemerintah tersebut.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, memaparkan bahwa pemantauan dilakukan menyusul maraknya laporan keracunan makanan yang terjadi secara beruntun selama periode 13 Agustus hingga 14 September 2026.

“Dalam periode 13 Agustus–14 September 2026, isu keracunan muncul berulang dan menjadi pemicu utama lonjakan percakapan,” ungkap Ismail melalui analisis yang dibagikan di platform media sosial X pada Kamis (18/9/2026).

Berdasarkan data tangkapan Drone Emprit, tercatat sekitar 233 ribu sebutan (mentions) terkait MBG di jagat maya. Pemberitaan di media massa daring mencapai puncaknya pada 3 September 2026, bertepatan dengan meluasnya laporan keracunan di beberapa wilayah sekaligus, meliputi Sidoarjo, Rembang, Tana Toraja, Jombang, hingga Kabupaten Agam.

Lonjakan di media daring tersebut langsung merembet ke ruang percakapan warganet sehari setelahnya. Platform X menjadi pusat perdebatan dengan intensitas tertinggi, sementara platform berbasis video seperti TikTok bertindak sebagai mesin amplifikasi visual yang sangat masif, mendulang sekitar 219,5 juta engagement.

Menurut Ismail, gelombang perbincangan ini bukan lagi sebatas keluhan biasa, melainkan telah bergeser menjadi krisis kepercayaan yang nyata terhadap tata kelola program MBG. Secara agregat lintas platform, sentimen negatif publik menembus angka 76,6 persen, berbanding kontras dengan sentimen positif yang hanya menyentuh 11,8 persen. Di ranah X, sentimen negatif tercatat jauh lebih ekstrem, yakni mencapai 89 persen.

Dari segi emosi, kemarahan (anger) mendominasi sentimen warganet hingga 36 persen, diikuti rasa takut atau kekhawatiran (fear) sebesar 16 persen. Polemik publik tidak sekadar berputar pada masalah standar operasional prosedur (SOP), melainkan turut menyoroti aspek higienitas dapur pengolahan serta rantai distribusi makanan.

“Sebagian publik mulai mempertanyakan hal yang lebih fundamental: besarnya anggaran, prioritas kebijakan, model katering massal, makanan yang terbuang, hingga siapa yang paling mendapatkan manfaat ekonomi dari program ini,” beber Ismail.

Kendati sentimen negatif mendominasi, ruang percakapan positif tetap hadir sekitar 11,8 persen. Suara bernada apresiasi ini menyoroti manfaat nyata MBG terhadap pemenuhan nutrisi dan gizi anak di daerah terpencil dan pelosok, serta dampak perputaran ekonomi yang dinikmati oleh kalangan petani dan pelaku UMKM lokal.

Menariknya, Drone Emprit mencatat fenomena sosiologis baru di mana isu MBG mulai terintegrasi ke dalam budaya meme, humor gelap, dan satire harian masyarakat. Singkatan MBG kerap dipelesetkan, sementara nama tokoh sentral kerap dijadikan istilah slang warganet untuk mengekspresikan kondisi ekonomi yang sulit atau kesialan hidup.

“Ini penting diperhatikan karena percakapan tentang sebuah kebijakan tidak lagi hanya berlangsung melalui argumen serius, tetapi juga melalui simbol dan humor yang sangat mudah menyebar lintas platform,” jelas Ismail menerangkan pola difusi isu yang bermula dari X kemudian dikemas ulang menjadi konten visual di TikTok dan Instagram.

Sejauh ini, jajaran pemerintah telah melontarkan sejumlah respons resmi. Wakil Presiden Gibran Rakabuming telah menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para korban terdampak. Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut sekitar 80 hingga 90 persen kasus keracunan bersumber dari ketidakpatuhan mitra terhadap SOP yang telah digariskan.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto terus menegaskan skala luas dari capaian program MBG yang telah menjangkau lebih dari 62 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Ismail menegaskan bahwa narasi komunikasi formal kini tidak lagi memadai untuk membendung gelombang skeptisisme publik, terlebih ketika suatu kebijakan sudah telanjur menjadi bahan olok-olok dan satire publik.

“Dari perspektif Drone Emprit, tantangannya kini menjadi lebih kompleks: bukan hanya bagaimana menghentikan kasus keracunan dan memperbaiki eksekusi, tetapi juga bagaimana menjawab kritik terhadap desain dan prioritas kebijakan serta memulihkan kepercayaan publik,” tegasnya.

Perubahan sentimen publik ke depan dinilai Ismail sangat bergantung pada langkah konkret penegakan SOP, pengawasan ketat, serta transparansi evaluasi yang dapat dibuktikan secara nyata di lapangan.

Penulis

Related Articles

Back to top button