Kisah Misi Diplomatik RI di Mesir yang Bikin Dubes Belanda Bermuka Kecut

Wamanews.id, 17 Agustus 2026 – Perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya ditempuh melalui pertempuran fisik di medan perang, tetapi juga lewat jalur diplomasi yang penuh risiko di panggung internasional. Salah satu catatan sejarah paling monumental terjadi saat Indonesia memperjuangkan pengakuan kedaulatan dari negara-negara Timur Tengah, dengan Mesir sebagai pelopor utama.
Mesir mencatatkan sejarah sebagai negara pertama di dunia yang memberikan pengakuan Kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 22 Maret 1946.
Namun, guna memperkuat posisi hukum Indonesia di mata dunia internasional, pemerintah RI memandang perlu untuk mengejar pengakuan secara de jure melalui penandatanganan perjanjian persahabatan resmi antarnegara.
Pada April 1947, Pemerintah Indonesia mengutus Misi Diplomatik yang dipimpin oleh Menteri Muda Luar Negeri Haji Agus Salim bersama jajaran tokoh nasional, termasuk AR Baswedan, untuk bertolak ke Kairo, Mesir.
Setibanya di Kairo, delegasi Indonesia bekerja keras melakukan pendekatan politik dan kebudayaan dengan jajaran pimpinan pemerintahan Mesir. Setelah melalui proses perundingan yang intensif selama kurang lebih tiga bulan, diplomasi tersebut membuahkan hasil manis.
Pada 10 Juni 1947, Perjanjian Persahabatan resmi antara Indonesia dan Mesir akhirnya berhasil ditandatangani secara khidmat.
Salah satu anggota delegasi, AR Baswedan, dalam kenangannya yang dimuat dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (Penerbit Sinar Harapan), menggambarkan betapa harunya suasana penandatanganan dokumen bersejarah tersebut.
“Tidak dapat dibayangkan perasaan saya ketika menyaksikan upacara itu, tak terlukiskan dalam kalimat karena tidak akan pernah sebanding dengan rasa yang menggelora. Lega dan syukur kepada Allah, karena Republik Indonesia pada akhirnya mendapat pengakuan de jure dalam dunia internasional,” kenang AR Baswedan.
Tabel: Kronologi Pengakuan Kedaulatan RI oleh Kerajaan Mesir (1946–1947)
| Tanggal & Tahun | Peristiwa Bersejarah | Dampak Diplomatik bagi Indonesia |
| 22 Maret 1946 | Pengakuan De Facto oleh Mesir | Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan RI. |
| April 1947 | Kedatangan Misi Diplomatik RI | Dipimpin Haji Agus Salim & AR Baswedan ke Timur Tengah. |
| 10 Juni 1947 | Penandatanganan Perjanjian Persahabatan | Indonesia meraih pengakuan De Jure secara sah secara internasional. |
| 10 Juni 1947 | Penolakan Protes Belanda oleh PM Mesir | Penegasan kedaulatan Mesir dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. |
Keberhasilan diplomasi Indonesia tidak diraih tanpa hambatan. Pemerintah Belanda yang kala itu tetap menolak proklamasi 17 Agustus 1945 terus mengarahkan tekanan diplomatik agar negara-negara Arab tidak mengakui Indonesia.
Saat mengetahui bahwa delegasi Indonesia dijadwalkan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Mesir, Mahmoud El Nokrashi Pasha, Duta Besar Belanda untuk Mesir bergerak cepat menerobos masuk ke ruang kerja PM Mesir secara mendadak.
Aksi provokatif Dubes Belanda tersebut sempat membuat rombongan Haji Agus Salim dan AR Baswedan harus menunggu beberapa saat di luar ruangan.
“Sesudah setengah jam menunggu, kami melihat Duta Besar Belanda keluar dari PM Nokrashi dengan wajah kecut dan tergesa-gesa. Kami langsung dipersilakan masuk,” tutur AR Baswedan.
Dalam pertemuan tersebut, PM Nokrashi Pasha menceritakan bahwa Dubes Belanda datang mengajukan protes keras terkait Perjanjian Persahabatan RI-Mesir. Dubes Belanda bahkan membawa ancaman politik dengan mengingatkan janji dukungan Belanda terkait isu Palestina di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, PM Nokrashi Pasha dengan tegas menolak gertakan tersebut demi membela Indonesia. “Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan, sebab Mesir selaku negara berdaulat. Ini tradisi bangsa Mesir dan tidak bisa diabaikan,” tegas PM Nokrashi kepada Dubes Belanda saat itu.
Keberanian dan konsistensi Mesir tersebut melengkapi pengakuan kedaulatan Indonesia secara de factomaupun de jure, sekaligus membuka jalan bagi negara-negara Liga Arab lainnya untuk memberikan pengakuan serupa kepada Republik Indonesia di panggung internasional.






