Waspada! 92% Warga Tak Tahu Galon Ada Kedaluwarsa, KKI Temukan Galon Usia 11 Tahun Masih Beredar

Wamanews.id, 8 Mei 2026 – Keamanan air minum dalam kemasan (AMDK) kini tengah menjadi sorotan tajam. Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) secara resmi mengeluarkan peringatan keras bagi jutaan rumah tangga di Indonesia terkait penggunaan galon guna ulang atau “ganula”. Berdasarkan temuan terbaru, sebagian besar masyarakat ternyata tidak mengetahui bahwa wadah plastik tersebut memiliki batas masa pakai yang terbatas dan berisiko bagi kesehatan jika digunakan terlalu lama.
Hasil survei dan pengumpulan laporan yang dilakukan KKI di tujuh kota besar sepanjang Maret hingga April 2026 mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Sebanyak 92 persen responden mengaku sama sekali tidak mengetahui bahwa galon memiliki masa kedaluwarsa. Kondisi ini dipandang sebagai bentuk kelemahan edukasi dari pihak produsen kepada masyarakat luas.
Ketua KKI, David Tobing, menyatakan bahwa kekosongan regulasi mengenai batas masa pakai galon menjadi akar permasalahan. Selama ini, badan galon hanya mencantumkan kode produksi tanpa informasi jelas mengenai kapan galon tersebut harus ditarik dari peredaran (retirement).
Melalui verifikasi foto yang dikirimkan oleh pelapor, KKI menemukan fakta miris di lapangan. Ditemukan galon dengan kode produksi tahun 2015 yang berarti telah berusia 11 tahun namun masih beredar dan diisi ulang untuk dikonsumsi masyarakat.
“Ada yang usianya 11 tahun. Di sekitar Jakarta saja, galon berusia 5 tahun ke atas itu jumlahnya sangat banyak,” ungkap David Tobing dalam keterangannya.
Selain faktor usia, kondisi fisik galon yang diterima konsumen juga memprihatinkan. Sebanyak 30 persen konsumen melaporkan kondisi galon yang kotor atau berlumut, sementara 18 persen lainnya menemukan galon dalam keadaan retak atau tergores. Semakin tua usia galon, maka risiko kerusakan fisik dan penurunan kualitas higienitasnya semakin tinggi.
Isu ini bukan sekadar masalah estetika atau fisik wadah semata. Galon guna ulang berbahan polikarbonat mengandung Bisphenol A (BPA), zat kimia yang berfungsi mengeraskan plastik namun berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Paparan sinar matahari saat distribusi, proses pencucian yang kasar di pabrik, serta usia pakai yang terlalu lama dapat memicu peluruhan BPA ke dalam air minum. Pakar kesehatan merekomendasikan agar masa pakai galon maksimal hanya 1 tahun atau dilakukan sebanyak 40 kali isi ulang saja. Jika dipaksakan lebih dari itu, risiko gangguan hormon, diabetes tipe 2, hingga obesitas mengintai para konsumen.
“BPA bisa luruh karena faktor usia dan perlakuan pada galon. Negara perlu hadir lewat regulasi yang melindungi kesehatan masyarakat, bukan sekadar memikirkan keuntungan produsen,” tegas David.
Tabel: Fakta Riset KKI Terkait Galon Guna Ulang (2026)
| Indikator Temuan | Persentase / Fakta | Dampak / Risiko |
| Ketidaktahuan Konsumen | 92% | Kurangnya edukasi produsen. |
| Temuan Galon Tua | Produksi 2015 (11 Tahun) | Risiko peluruhan zat kimia BPA. |
| Kondisi Fisik Kotor/Berlumut | 30% | Higienitas air terganggu. |
| Kondisi Retak/Tergores | 18% | Wadah rentan pecah & sarang bakteri. |
| Rekomendasi Pakar | Maks. 1 Tahun / 40x Isi | Pencegahan gangguan hormon & diabetes. |
David Tobing juga menyoroti aspek keadilan dalam perdagangan. Menurutnya, konsumen membayar harga yang sama untuk setiap galon air, namun kualitas wadah yang mereka terima berbeda-beda. Ada konsumen yang beruntung mendapatkan galon baru, namun banyak pula yang mendapatkan galon “tua” dengan risiko kesehatan yang lebih tinggi.
Atas dasar itulah, KKI mendesak pemerintah dan produsen segera menerbitkan regulasi mengenai batas masa pakai (kedaluwarsa) galon secara jelas pada kemasan. Pelaku usaha diminta bertanggung jawab untuk menarik galon-galon yang sudah tidak layak pakai demi menjamin hak kesehatan bagi sekitar 100 juta penduduk Indonesia yang menjadikan air galon sebagai sumber air utama.





