Dunia Tercekik! Ini Daftar Negara yang Naikkan Harga BBM Imbas Perang Iran-Amerika Serikat

Wamanews.id, 27 Maret 2026 – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar menjadi isu politik di meja diplomasi, melainkan telah menjelma menjadi beban nyata di kantong masyarakat dunia. Perang terbuka yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya telah memicu krisis energi global yang masif, memaksa puluhan negara untuk melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) secara drastis.
Titik nadir krisis ini berada di Selat Hormuz, sebuah jalur pelintasan sempit yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas bumi dunia. Blokade terbatas yang dilakukan oleh militer Iran di jalur tersebut telah mencekik rantai pasok global, hingga menyebabkan harga minyak mentah jenis Brent melonjak tajam menyentuh angka psikologis 100 dolar AS per barel.
Pemerintah Iran saat ini tengah menggodok rancangan undang-undang (RUU) baru yang akan segera disahkan. RUU tersebut mengatur tentang pemberlakuan “biaya keamanan” bagi setiap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini dipandang sebagai upaya Teheran untuk mengatur lalu lintas di wilayah tersebut sekaligus menekan musuh-musuh politiknya.
Hingga saat ini, Iran menegaskan bahwa jalur tersebut tetap dibuka secara terbatas untuk kapal-kapal dari negara yang dianggap sahabat. Namun, larangan melintas tetap berlaku ketat bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutu mereka. Ketidakpastian jadwal pelayaran inilah yang membuat pasar energi dunia terguncang dan memaksa banyak negara untuk menaikkan harga eceran BBM di dalam negeri guna menjaga stabilitas fiskal.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber sejak 28 Februari 2026, berikut adalah daftar negara yang telah melakukan penyesuaian harga BBM secara signifikan:
1. Asia Tenggara: Kamboja dan Vietnam Memimpin
Kamboja mencatat kenaikan harga bensin sebesar 42,8 persen menjadi 5.500 riel (sekitar Rp23.173) per liter, sementara diesel melonjak 70 persen ke angka 6.550 riel (Rp27.597). Di Vietnam, kondisinya lebih ekstrem; harga diesel naik fantastis hingga 105 persen menjadi 39.660 dong (Rp25.460) per liter. Sementara itu, Singapura turut menyesuaikan harga diesel dengan kenaikan 20 sen menjadi 3,93 dolar Singapura (Rp51.744) per liter.
2. Asia Selatan: Tekanan Ekonomi di Pakistan dan Sri Lanka
Pakistan menaikkan harga bensin sebesar 20,7 persen menjadi 321,17 PKR (Rp19.479) per liter. Sri Lanka, yang masih dalam masa pemulihan ekonomi, terpaksa menaikkan bensin sebesar 25 persen menjadi 398 rupee (Rp21.426) dan diesel naik 26 persen menjadi 382 rupee (Rp20.564) per liter.
3. Negara-Negara Barat: Jerman, Australia, hingga AS
Di Eropa, Jerman melaporkan harga diesel dan bensin yang kini mendekati atau melampaui 2 euro per liter. Australia mengalami lonjakan harga diesel sebesar 36 persen menjadi sekitar 3 dolar Australia (Rp35.081) per liter. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, harga diesel naik 40 persen menjadi sekitar Rp89.000 per galon (sekitar 3,78 liter). Kanada juga tak luput dari tren ini dengan kenaikan harga bensin sekitar 7,9 sen per liter.
4. Afrika: Nigeria Terimbas
Nigeria, sebagai salah satu produsen minyak di Afrika, juga mengalami tekanan luar biasa dengan kenaikan harga bensin mencapai 39,5 persen akibat ketergantungan pada produk BBM impor yang harganya melambung di pasar internasional.
Lonjakan harga BBM ini diprediksi akan memicu efek domino terhadap biaya logistik, harga kebutuhan pokok, hingga inflasi global. Selama konflik di Selat Hormuz belum menemui titik temu diplomasi, harga minyak dunia diperkirakan akan tetap berada di level yang tinggi.
Pemerintah di berbagai negara kini berlomba-lomba mencari sumber energi alternatif atau mengamankan kontrak pasokan dari wilayah yang tidak terdampak konflik. Namun, bagi konsumen akhir, kenyataan pahit mengenai mahalnya biaya energi tampaknya masih akan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.






