Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Bukan Sekadar Ritual! Ramadan Harus Jadi ‘Kawah Candradimuka’ Pembentukan Karakter

Wamanews.id, 18 Maret 2026 – Gema takbir sesaat lagi akan berkumandang, menandai berakhirnya bulan suci Ramadan dan datangnya Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026. Di tengah keriuhan persiapan mudik dan belanja lebaran, muncul sebuah refleksi penting bagi umat Muslim: apakah Ramadan tahun ini telah berhasil mengubah karakter kita, ataukah ia hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa bekas?

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Arifuddin Ahmad, memberikan catatan kritis sekaligus mencerahkan mengenai fenomena ini. Menurutnya, Idulfitri tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemenangan simbolis setelah sebulan menahan lapar, melainkan harus menjadi momentum kembalinya manusia kepada fitrah atau kesucian asalnya.

Dalam pandangan Prof Arifuddin, Ramadan adalah proses spiritual yang sangat mendalam. Ia menjelaskan bahwa setiap manusia sejatinya dilahirkan dalam keadaan beriman. Namun, seiring berjalannya waktu, kemurnian tersebut sering kali tertutup oleh kepentingan duniawi, akal yang tak terkendali, dan hawa nafsu.

“Bagi saya, Ramadan ini Allah hadirkan sebagai salah satu ibadah untuk menjaga roh pada diri manusia agar terus di-tazkiyah-kan atau disucikan. Manusia memiliki nafsu dan akal yang kadang tidak terkendali, karena itu pemurnian jiwa menjadi sangat krusial,” ujar Prof Arifuddin saat ditemui di Makassar.

Beliau menekankan bahwa puasa adalah latihan spiritual intensif. Selama satu bulan penuh, umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri berbasis keimanan. Pengendalian ini bukan hanya soal menunda makan dan minum, tetapi juga melatih lisan dan perbuatan dari hal-hal yang tidak bermanfaat.

Lebih jauh, Prof Arifuddin menjelaskan bahwa dalam perspektif Muhammadiyah, iman bukanlah sekadar keyakinan pasif di dalam hati. Iman harus menjadi mesin penggerak yang mendorong seseorang untuk melakukan amal nyata yang bermanfaat bagi orang banyak.

Karakter yang terbentuk selama Ramadan seharusnya tidak hanya berhenti pada kesalehan individu, tetapi juga menjelma menjadi kesalehan sosial dan institusional. Beliau menyoroti bahwa tindakan yang didasari iman yang kuat akan menghasilkan pemikiran yang jernih dan hasil kerja yang berkualitas.

“Iman itu mendorong kita melakukan ibadah, dan ibadah itu membentuk karakter. Karakter yang ada ini tidak saja untuk membangun interaksi antarmanusia, tetapi membangun peradaban yang bersifat institusional,” tambahnya.

Sebagai ilustrasi pentingnya kualitas substansi di atas sekadar keindahan lahiriah, Prof Arifuddin memberikan contoh pembangunan fasilitas keagamaan. Ia mengkritik fenomena pembangunan yang sering kali hanya mengejar estetika namun melupakan fungsi dan kualitas dasarnya.

“Sekarang ini misalnya membangun masjid saja. Masjid yang indah orang datang di situ, tapi kemudian ketika kita ada di dalam, kita kehujanan gara-gara banyak bocor. Itu karena tidak dibangun dengan benar dan baik, hanya dari sisi keindahannya saja. Padahal, nilai dasarnya harus benar dulu, baik, baru kemudian indah,” tegasnya.

Pesan ini menjadi tamparan halus bagi mereka yang menjalankan Ramadan secara “indah” di permukaan seperti baju baru dan perayaan mewah namun “bocor” secara spiritual karena tidak ada perubahan perilaku yang fundamental.

Secara psikologis, kebiasaan yang dilakukan secara konsisten selama 30 hari seharusnya cukup untuk membentuk sirkuit kebiasaan baru dalam otak manusia. Oleh karena itu, Prof Arifuddin mengingatkan bahwa akhir Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melakukan audit spiritual mandiri.

Jika setelah sebulan berpuasa seseorang tidak merasakan perubahan positif dalam sifat dan perilakunya, maka ada kemungkinan besar ibadah yang dijalani hanya sebatas ritual fisik semata.

“Jadi kalau di akhir-akhir Ramadan ini kita belum ada perubahan, itu artinya Ramadan bisa jadi hanya sekadar seremonial atau spritualitas semata tetapi tidak berdaya. Seharusnya Ramadan memperkokoh iman supaya imannya berdaya mengalahkan hawa nafsu yang menjerumuskan,” pungkasnya.

Menjelang Idulfitri 2026, tantangan bagi setiap Muslim adalah membuktikan bahwa karakter yang telah ditempa selama Ramadan akan tetap kokoh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas, baik dalam lingkup keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan bernegara.

Penulis

Related Articles

Back to top button