Bukan Sekadar Galau! Pakar Ungkap 4 Pemicu Utama Risiko Bunuh Diri pada Remaja

Wamanews.id, 14 Februari 2026 – Usia remaja sering kali dianggap sebagai masa-masa paling indah. Namun, di balik tawa dan keriuhan media sosial, tersembunyi sebuah ancaman nyata yang kerap terabaikan: krisis kesehatan mental yang berujung pada keinginan mengakhiri hidup. Fenomena bunuh diri pada remaja usia 13 hingga 19 tahun bukan lagi sekadar statistik, melainkan sebuah alarm keras bagi para orang tua, guru, dan pemangku kebijakan.
Dalam diskusi kesehatan jiwa yang digelar di Jakarta pada Jumat (13/2/2026), Nova Riyanti Yusuf,seorang dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, membedah secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran para remaja tersebut. Menurutnya, tindakan ekstrem ini tidak pernah muncul dari satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan yang menyesakkan.
Nova mengungkapkan bahwa terdapat empat faktor utama yang secara signifikan berpengaruh terhadap munculnya ide hingga tindakan bunuh diri pada remaja. Keempat faktor tersebut membentuk sebuah lingkaran setan yang membuat penderitanya merasa terjebak.
- Kesepian (Loneliness): Bukan sekadar tidak ada teman, tapi perasaan tidak ada satu pun orang yang benar-benar memahami mereka.
- Keputusasaan (Hopelessness): Pandangan bahwa masa depan tidak akan pernah membaik, sesulit apa pun mereka mencoba.
- Kebutuhan untuk Memiliki (Belongingness): Hasrat kuat untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Saat merasa dikucilkan atau “berbeda”, remaja cenderung menyalahkan diri sendiri.
- Perasaan Terbebani: Remaja merasa kehadirannya hanya menyusahkan orang tua atau lingkungan di sekitarnya.
“Tidak satu faktor saja yang membuat seseorang memutuskan melakukan tindakan bunuh diri. Anak dan remaja yang hidup dengan dukungan sumber daya minimal sangat berisiko merasa memikul beban berat dan kehilangan harapan,” ujar dr. Nova.
Selain faktor internal, lingkungan terdekat seperti keluarga memegang peran ganda: bisa menjadi pelindung, atau justru menjadi pemicu utama. Ekspektasi orang tua yang terlalu tinggi sering kali menjadi belenggu bagi remaja. Ketika mereka merasa gagal memenuhi standar prestasi atau perilaku yang diinginkan orang tua, mereka merasa tidak berharga.
Nova juga menyoroti fenomena perbandingan sosial. Ia mengambil contoh kasus nyata di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang anak di desa merasa putus asa karena tidak mampu mengakses hal-hal yang dimiliki anak-anak di kota. Di era digital tahun 2026 ini, akses informasi yang begitu luas justru bisa menjadi pisau bermata dua. Remaja merasa tertinggal secara sosial dan ekonomi, yang kemudian memicu rasa minder akut.
“Tekanan akibat perbandingan sosial ini membuat remaja melihat bahwa mengakhiri hidup adalah satu-satunya jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi,” tambahnya.
Menghadapi tantangan ini, pemerintah dan instansi terkait didorong untuk tidak hanya memberikan imbauan, tetapi aksi nyata. Nova menekankan bahwa Guru Bimbingan Konseling (BK) harus menjadi garda terdepan, bukan justru menjadi “polisi sekolah” yang ditakuti.
Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain:
- Peningkatan Kapasitas Guru BK: Guru harus dilatih untuk mendeteksi tanda-tanda depresi sejak dini.
- Program Konselor Sebaya: Remaja sering kali lebih nyaman bercerita kepada teman seusianya. Melatih siswa untuk menjadi pendengar yang baik bisa menyelamatkan nyawa.
- Layanan Hotline Konseling: Penyediaan akses curhat melalui telepon atau aplikasi yang mudah dijangkau remaja kapan saja saat mereka merasa sedang di titik terendah.
“Setidaknya ketika mereka tahu ada yang mendengarkan, dorongan untuk melakukan tindakan ekstrem bisa mereda,” tegas dr. Nova.
Masalah kesehatan mental remaja bukan hanya tanggung jawab dokter jiwa. Kesadaran untuk “hadir” dan mendengarkan tanpa menghakimi adalah obat pertama yang paling dibutuhkan. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian di tengah kebisingan dunia yang sering kali tidak peduli.
Kesehatan mental adalah hak setiap remaja untuk tumbuh menjadi dewasa yang tangguh. Saatnya kita berhenti bertanya “Kenapa mereka menyerah?” dan mulai bertanya “Sudahkah kita mendengarkan?”.





