Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

News

Psikolog Ungkap Analisis Kasus Ibu Mertua Marahi Menantu yang Melahirkan, Berpotensi Bahayakan Anak

Wamanews.id, 4 Agustus 2025 – Dunia maya kembali digemparkan dengan sebuah video yang memperlihatkan insiden menyakitkan. Seorang ibu mertua terekam kamera memarahi menantunya yang sedang berjuang menahan sakit saat proses melahirkan. 

Dalam video tersebut, sang menantu mengeluh ingin mati karena rasa sakit yang luar biasa. Bukannya memberi dukungan, sang mertua justru melontarkan kata-kata kejam, menyuruhnya mati, tetapi menuntut agar bayi harus tetap dilahirkan.

Peristiwa ini memicu reaksi keras dari warganet dan menjadi perhatian serius bagi kalangan profesional kesehatan mental. Psikolog klinis dewasa Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., yang berpraktik di layanan konseling Jaga Batin dan Teman Bincang, memberikan analisis mendalam mengenai dampak psikologis dari perlakuan tersebut.

Menurut Adelia, ucapan sang mertua, “Mati saja, ya sudah kamu boleh mati, tapi anaknya dilahirkan dulu,” bisa menimbulkan dampak yang sangat fatal. “Itu sama saja dengan ada atau enggak adanya ibu, ya ibu enggak ada nilainya,” jelas Adelia kepada Kompas.com, Minggu (3/8/2025). Perkataan tersebut dapat menanamkan perasaan tidak berharga dan tidak dianggap dalam diri ibu yang sedang berada pada titik terlemahnya.

Adelia menjelaskan bahwa ibu yang baru melahirkan memiliki kondisi mental yang sangat rapuh. Ia mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional, ditambah dengan kecemasan tentang dirinya dan bayinya. Perkataan menyakitkan dari mertua, jika terus diingat dan tidak ada permohonan maaf, bisa memperburuk kondisi ini dan memicu depresi postpartum.

Depresi postpartum ini adalah kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan. Jika ibu tidak mendapatkan dukungan yang memadai (support system) dari lingkungan sekitarnya, terutama suami, pikiran negatifnya akan semakin menumpuk.

“Kalau perilaku ibu mertua tetap seperti ketika ibu melahirkan, tetap menyalahkan atau memojokkan dia, dan lebih mengutamakan atau memberi kasih sayang hanya ke cucunya, sangat mungkin dia bunuh diri,” terang Adelia. Ia menegaskan, perlakuan pilih kasih ini bisa membuat sang ibu merasa terisolasi dan tidak dicintai, sehingga memicu pemikiran ekstrem.

Lebih lanjut, kondisi mental ibu yang tertekan dan merasa tidak dihargai juga bisa berdampak buruk pada sang anak. Ibu dapat mengembangkan perasaan benci pada anaknya karena menganggap kehadiran anak tersebut sebagai penyebab dari penderitaan dan perlakuan buruk yang ia terima dari keluarga, khususnya sang mertua.

Pilih kasih yang ditunjukkan mertua kepada cucu dan menantu bisa semakin memperparah kesehatan mental ibu. Dalam kondisi mental yang tidak stabil, ibu bisa kehilangan kemampuan untuk memberikan perawatan dan kasih sayang yang dibutuhkan oleh bayinya. 

Adelia menegaskan, kondisi ini tidak hanya membahayakan nyawa sang ibu akibat bunuh diri, tetapi juga membahayakan keselamatan anak karena kurangnya perhatian dan perawatan yang layak.

Kasus viral ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya memberikan dukungan moral dan emosional kepada perempuan yang sedang dalam proses melahirkan dan pascamelahirkan. Kehadiran keluarga, terutama suami dan mertua, sebagai support systemyang positif adalah kunci utama untuk mencegah dampak psikologis yang merusak ini terjadi.

Penulis

Related Articles

Back to top button