Viral! Tuduhan Spons Tak Terbukti, Aksi Oknum TNI-Polri Intimidasi Penjual Es Gabus Banjir Kecaman

Wamanews.id, 28 Januari 2026 – Jagat media sosial kembali digegerkan oleh tindakan arogan oknum aparat yang menyasar rakyat kecil. Kali ini, sebuah video memperlihatkan dugaan intimidasi terhadap seorang pedagang es tradisional yang dituduh menjual produk berbahan dasar spons atau busa. Ironisnya, tuduhan tersebut sama sekali tidak terbukti dan justru meninggalkan trauma mendalam bagi sang pedagang.
Kejadian yang mencoreng citra institusi Polri dan TNI ini menimpa Sudrajat (50), seorang penjual es kue jadul atau yang akrab disebut es gabus. Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/1/2026), saat Sudrajat sedang mencari nafkah seperti biasa.
Awal mula ketegangan terjadi ketika Sudrajat didatangi oleh oknum anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat. Tanpa melalui pengujian laboratorium atau prosedur yang semestinya, kedua oknum tersebut langsung melontarkan tuduhan bahwa es gabus dagangan Sudrajat terbuat dari spons karena teksturnya yang empuk dan berpori.
Dalam potongan video yang viral di berbagai platform, tampak oknum aparat tersebut meremas es gabus Sudrajat hingga cairannya tumpah ke jalanan. Seolah ingin mempermalukan sang pedagang, sisa es yang dituduh sebagai “spons” tersebut dijejalkan secara paksa ke mulut Sudrajat.
Namun, fakta berbicara lain. Sudrajat memakan es tersebut dengan tenang tanpa menunjukkan tanda-tanda adanya material asing berbahaya. Untuk memastikan kondisi tersebut, Tim Dokkes (Kedokteran dan Kesehatan) Polri pun diterjunkan ke lokasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa es gabus milik Sudrajat sepenuhnya layak dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya apalagi spons sebagaimana yang dituduhkan.
Meski tuduhan tersebut telah dipatahkan oleh tim medis resmi, dampak psikologis yang dialami Sudrajat tidak dapat dihapus begitu saja. Saat diwawancarai awak media, Sudrajat mengaku sangat ketakutan dan gemetar atas perlakuan yang ia terima dari aparat yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat.
Akibat kejadian memalukan tersebut, Sudrajat menyatakan bahwa dirinya kini trauma dan tidak berani lagi menginjakkan kaki untuk berjualan di wilayah Kemayoran. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan ekonomi keluarganya, mengingat Kemayoran adalah salah satu area langganannya.
Gelombang kecaman dari warganet meledak sesaat setelah video tersebut tersebar luas. Banyak yang menyayangkan ketidaktahuan oknum aparat mengenai tekstur makanan tradisional “es gabus” yang secara harfiah memang memiliki tekstur mirip gabus atau busa namun terbuat dari tepung hunkwe.
Di platform Facebook, akun Rey Mukti membagikan informasi bahwa Sudrajat telah menerima uang ganti rugi atau kompensasi dari pihak aparat sebagai bentuk penyelesaian masalah. Namun, hal ini justru memicu sindiran baru dari netizen yang menilai bahwa uang bukanlah solusi atas martabat yang diinjak-injakan.
“Enak banget ya pakai uang langsung selesai masalah. Tapi bagaimana menurut kalian?” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Komentar pedas lainnya pun bermunculan. Salah satu warganet menulis, “Itulah Konoha. Orang miskin gak akan dihargai kecuali lagi pemilihan.” Sementara akun lainnya menyindir kurangnya pemahaman aparat sebelum bertindak, “Aparat kok begok amat buat maluin badan sendiri. Dicermati dulu, dilihat, pelajari dulu. Bener apa nggak, jangan langsung vonis. Maaf ya pak maklum orang hebat,” tulisnya diikuti emoji tertawa.
Kasus yang menimpa Sudrajat ini menjadi cermin bagi aparat di tingkat bawah seperti Bhabinkamtibmas dan Babinsa agar lebih mengedepankan sisi humanis dan prosedur yang tepat dalam menindaklanjuti laporan atau kecurigaan di lapangan.
Menilai kualitas pangan bukanlah kewenangan langsung personel lapangan tanpa didampingi ahli kesehatan. Tindakan yang terburu-buru dan cenderung mengintimidasi hanya akan merusak hubungan antara masyarakat dan negara.
Hingga berita ini diturunkan, publik mendesak adanya sanksi disiplin bagi oknum yang terlibat agar kejadian serupa tidak terulang kembali kepada pedagang kecil lainnya. Es gabus mungkin memang bertekstur spons, tapi arogansi aparat jelas bukan sesuatu yang bisa “dicerna” oleh nalar sehat masyarakat.





