Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Budaya

Mengenal Bissu: Simbol Kesucian dan Penjaga Peradaban Bugis

Wamanews.id 31 Oktober – Pernahkah Anda mendengar istilah Bissu dalam budaya Bugis? Bissu adalah sosok suci dalam kepercayaan suku Bugis yang dipercaya sebagai penjaga adat sekaligus penghubung antara manusia dan para dewa.

Dalam kepercayaan Bugis kuno, Bissu memegang peranan penting sebagai simbol keseimbangan spiritual dan sosial, mewakili lima gender yang diakui masyarakat Bugis, yaitu Oroane, Makkunrai, Calabai, Calalai, dan Bissu itu sendiri.

Keberadaan Bissu menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya sistem kepercayaan tradisional Bugis yang telah ada jauh sebelum agama-agama besar masuk ke tanah Sulawesi. Agar lebih mengetahui tentang Bissu, beirkut informasinya untuk Anda.

Mengenal Istilah Bissu Dalam Masyarakat Bugis

Bissu dianggap mempresentasikan kelima gender yang diakui dalam masyarakat Bugis. ‎Secara gender, mereka tidak digolongkan laki-laki maupun perempuan, sebab mereka adalah manusia suci yang diyakini turun bersama dengan To manurung dari langit sesuai dengan kisah yang termuat di I La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia.

‎Secara etimologis, Bissu berasal dari kata “bessi” yang artinya bersih atau suci. Hal ini merujuk pada kondisi bissu yang tidak berdarah, suci (tidak kotor), karena mereka tidak haid.

Sedangkan menurut Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis, ia menyebut istilah Bissu berasal dari kata Biksu (pendeta atau pimpinan agama Budha).

Bissu menempati posisi sakral dan derajat sosial yang tinggi sebab mereka menjadi perantara spiritualitas antara masyarakat Bugis dan para Dewata di langit. 

Pada masa kerajaan, Bissu yang memimpin upacara atau ritual besar nan sakral. Bahkan setelah para raja yang memeluk agama Islam, Bissu tetap dianggap sebagai kelompok yang memahami aspek-aspek upacara dalam kerajaan.

Bagaimana Cara Menjadi Bissu

‎Dari kelima jenis gender yang diakui masyarakat Bugis, hanya calabai dan calalai yang dapat menjadi Bissu.‎ Namun dari berbagai calabai, hanya golongan calabai tungke’na lah yang dapat meraihnya. Calabai tungke’na lino, merupakan calabai yang memiliki derajat tertinggi.

Ada tiga hirarki dalam struktur Bissu, yaitu Puang Matowa, Puang Lolo, dan Ana’Bissu. Untuk menjadi Puang Matowa atau kepala Bissu, seseorang harus terlebih dahulu melalui Puang Lolo. Kedua Bissu tersebut dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Ana’Bissu

Menjadi Bissu merupakan panggilan gaib, bukan dari keinginan sendiri. Panggilan gaib tersebut biasa membuat seseorang tiba-tiba menjadi bisu atau tiba-tiba tidak sadarkan diri sehingga memerlukan penyembuhan ritual.

Seseorang yang akan menjadi Bissu biasanya mendapatkan tanda dari mimpi. Tanda berupa mimpi tersebut ialah “panggilan” dari yang maha kuasa. Apabila tidak “dipilih” oleh yang maha kuasa, maka seseorang tidak akan pernah menjadi Bissu. 

Setelah itu, apabila dia serius atau benar-benar ingin menjadi Bissu, maka langkah selanjutnya ialah belajar dengan seorang Bissu pembimbing di rumah adat. Setelah masa bimbingan selesai, mereka akan diuji selama beberapa hari (irebba). Sebelum itu, para calon Bissu diwajibkan berpuasa dan bernazar untuk menjalani proses irebba. Apabila mereka lulus ujian tersebut maka akan diakhiri dengan upacara pelantikan seorang Bissu baru.

Tarian Bissu Maggiri’

Maggiri memiliki keunikan yang berbeda dengan tarian tradisional lainnya, karena hanya dipentaskan oleh kelompok Bissu, yaitu individu yang memegang peran penting sebagai penjaga adat dan spiritual dalam masyarakat Bugis. Tarian ini tidak lepas dari bagian upacara adat dan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Bugis. ‎

Disebut Maggiri’ karena menusuk-nusukkan benda tajam pada tubuhnya. Dalam gerakannya, Bissu akan melantunkan mantra-mantra mistis dalam bahasa kuno suku Bugis. Tidak hanya mantra-mantra yang terdapat dalam unsur tari Maggiri’, namun juga sesajen yang disajikan dalam ritual tarian ini. Sesajen ini terdiri atas kue-kue tradisional Bugis, buah-buahan, ayam, kepala kerbau, dan sapi sebagai persembahan kepada roh leluhur.

Setiap gerakan dalam tarian ini memiliki makna tertentu,yang dipercaya dapat memperkuat komunikasi dengan kekuatan gaib dan roh leluhur. Dalam berbagai upacara adat, seperti pernikahan atau acara penyambutan, tarian ini menjadi media penting untuk memohon berkah dan keselamatan bagi masyarakat. 

Fungsi dan Peran Sosial Bissu

‎Penghormatan yang tinggi kepada Bissu bukan pada aspek gendernya, tetapi pada peran sosialnya dalam melestarikan tradisi dan budaya Bugis. Bissu dalam aspek kerajaan menjadi pengabdi, penasihat, dan penjaga arajang, yakni benda pusaka keramat seperti tombak, peti, keris, dan sejenisnya. 

‎Pakar filologi Universitas Hasanuddin dan penerjemah La Galigo, Prof Nurhayati Rahman, mengatakan hingga saat ini peran bissu masih penting sebagai pelestari tradisi kebudayaan Bugis dan penjaga peradaban. 

‎Berikut beberapa peran sosial Bissu;

  • Menyetujui semua kebijakan dan keputusan Raja, misalnya soal perang.
  • Memimpin upacara-upacara adat seperti upacara panen, pernikahan, kehamilan, kelahiran, kematian (to rialu).
  • Merawat dan menjaga pusaka kerajaan, yang disebut ‘Arajang.
  • Membina pengetahuan suci dan gaib seputar ilmu kosmologi Bugis kuno (panrita, sulesana, to bettu).
  • Melantik dan Mendampingi Raja dan perangkat Kerajaan (paddanreng arung).
  • Mengobati penyakit (sanro, kajangeng, samaritu)
  • Juru rias pengantin (indo botting)
  • Juru ramal masa depan (to boto)
  • Menangkal penyakit dan bencana (mattola’ bala)

Menurut Nurhayati, di tengah arus modernisasi yang begitu kuat, sejatinya bissu tak lagi terkait gender ataupun kepercayaannya. Kelompok ini mestinya dilihat sebagai salah satu benteng penjaga tradisi dan peradaban. Karena mereka menyimpan banyak memori kolektif tentang kearifan lokal suku Bugis di masa lampau. Ada banyak kearifan masa lalu yang punya nilai baik untuk diterapkan di masa kini dan nilai-nilai itu di antaranya dipahami oleh bissu

Penulis: Muh Fadhlur Rahman (Magang)

Penulis

Related Articles

Back to top button