Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Selat Hormuz Ditutup! Harga Minyak Tembus $82 Jepang Aman, Indonesia Bagaimana?

Wamanews.id, 5 Maret 2026 – Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai titik nadir baru dengan penutupan Selat Hormuz. Jalur air sempit yang menjadi “urat nadi” pengiriman minyak dunia tersebut kini resmi menjadi medan tempur kepentingan, memicu guncangan hebat pada pasar energi global yang membuat banyak negara termasuk Indonesia ketar-ketir.

Lonjakan harga minyak dunia bukan lagi sekadar prediksi, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi di awal Maret 2026 ini. Akademisi sekaligus pakar manajemen terkemuka, Rhenald Kasali, memberikan peringatan keras terkait kerentanan Indonesia dalam menghadapi situasi yang kian tak menentu ini.

Melalui unggahan di media sosial pribadinya pada Kamis (5/3/2026), Rhenald Kasali menyoroti betapa cepatnya harga minyak bereaksi terhadap penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute krusial bagi kapal-kapal tanker yang memasok kebutuhan energi hampir ke seluruh penjuru bumi.

“Perang Iran sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Selat Hormuz sudah ditutup dan para pejabat tinggi di Iran mengatakan akan menghentikan semua kapal yang lewat,” ujar Rhenald.

Data menunjukkan bahwa pada awal tahun 2026, harga minyak dunia masih bertengger manis di kisaran $60 per barel. Namun, hanya dalam hitungan minggu setelah eskalasi meningkat, harga melonjak tajam hingga menyentuh angka $82 per barel. Jika penutupan jalur ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga akan melambung melampaui angka psikologis yang pernah terjadi pada krisis-krisis sebelumnya.

Yang menarik dari analisis Rhenald adalah perbandingan kesiapan antar negara net-importir minyak. Saat Indonesia mulai merasa cemas, negara-negara besar di Asia ternyata sudah memiliki “sabuk pengaman” yang sangat panjang.

  • Jepang: Memiliki cadangan minyak strategis yang sangat masif, diklaim mampu mencukupi kebutuhan domestik hingga 250 hari.
  • China: Tak hanya memiliki stok yang melimpah, Negeri Tirai Bambu ini telah mengamankan jalur pasokan alternatif melalui pipa minyak langsung dari Rusia, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut.
  • India: Juga dilaporkan memiliki cadangan untuk durasi yang panjang guna meredam kejutan harga.

“Bagaimana dengan kita (Indonesia) yang masih sangat mengandalkan minyak impor?” tanya Rhenald retoris. Indonesia diketahui memiliki cadangan operasional yang jauh lebih tipis dibandingkan raksasa Asia tersebut, yang seringkali hanya cukup untuk hitungan minggu (sekitar 20 hari), sehingga gangguan pasokan sekecil apa pun akan langsung berdampak pada stabilitas stok nasional.

Selain masalah fisik pasokan, Rhenald juga mengungkap kendala internal yang menghambat langkah strategis Indonesia. Ada fenomena “takut mengambil keputusan” di kalangan pejabat dan petinggi sektor migas. Hal ini dipicu oleh risiko hukum dan bayang-bayang kriminalisasi kebijakan.

Ia mencontohkan adanya kasus di mana pengambilan keputusan investasi atau pembelian minyak di masa lalu justru berujung pada persoalan hukum karena dianggap merugikan perusahaan saat harga minyak kemudian turun.

“Orang semakin takut ambil keputusan. Artinya, di tengah situasi darurat seperti sekarang, para pengambil kebijakan kita mungkin merasa ragu untuk melakukan aksi korporasi cepat karena takut kena persoalan hukum di masa depan,” terangnya. Ketakutan ini tentu berbahaya di tengah krisis yang membutuhkan langkah taktis dan instan.

Jika harga minyak terus bertahan di level tinggi, tekanan pada APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) akan semakin berat, terutama untuk sektor subsidi BBM. Selain itu, biaya logistik akan naik, yang pada ujungnya memicu inflasi harga barang-barang pokok di pasar.

Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Ketergantungan pada impor minyak mentah menjadikannya sangat rentan terhadap “batuknya” situasi di Timur Tengah. Tantangan ini menuntut pemerintah untuk segera mencari solusi strategis, mulai dari diversifikasi energi, memperkuat cadangan penyangga energi nasional, hingga memberikan kepastian hukum bagi para pengambil keputusan di sektor energi.

Dunia sedang mengawasi Selat Hormuz, dan Indonesia harus bergerak cepat sebelum “tangki cadangan” benar-benar menyentuh garis merah. 

Penulis

Related Articles

Back to top button