Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Sering Pikun di Usia Muda? Kenali 6 Pemicu Tersembunyi Menurunnya Daya Ingat!

Wamanews.id, 3 Januari 2025 – Pernahkah Anda mendadak lupa di mana menaruh kunci motor, atau kesulitan mengingat nama seseorang yang baru saja menyapa Anda? Kejadian ini sering kali membuat kita berkelakar, “Duh, sudah faktor usia nih!”. Padahal, fenomena sering lupa atau “pikun dini” tidak selamanya berkaitan dengan bertambahnya usia.

Memang benar bahwa seiring bertambahnya usia, fungsi otak mengalami perubahan fisik. Neuropsikolog Elise Caccappolo menjelaskan bahwa proses penuaan alami dapat memengaruhi kecepatan berpikir. “Seiring bertambahnya usia, otak mulai mengalami penyusutan. Akibatnya, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat nama atau menyelesaikan masalah,” ujarnya mengutip dari Prevention.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu jauh lebih bertanggung jawab atas menurunnya daya ingat seseorang, bahkan pada mereka yang masih di usia produktif. Berikut adalah enam penyebab utama seseorang sering lupa menurut para ahli:

1. Efek Samping Obat-obatan Tertentu

Banyak orang tidak menyadari bahwa obat yang mereka konsumsi sehari-hari bisa menjadi “pencuri” memori. Beberapa jenis obat seperti benzodiazepin (obat penenang), obat tidur, opioid (pereda nyeri kuat), hingga obat kejang dan beberapa jenis antidepresan dapat memengaruhi fungsi kognitif.

Brenna Renn, asisten profesor psikologi di University of Nevada, Las Vegas, menyarankan agar pasien selalu terbuka kepada dokter mengenai semua suplemen dan obat bebas yang dikonsumsi. Interaksi antarobat dapat memperburuk gangguan memori dalam jangka panjang.

2. Tekanan Psikologis: Depresi dan Kecemasan

Kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kinerja otak. Saat seseorang mengalami depresi atau kecemasan kronis, otak tidak dapat bekerja 100 persen karena fokusnya terbagi untuk menghadapi stres.

“Saat depresi, otak tidak memperhatikan hal-hal sebaik biasanya, begitu juga dengan fungsi area memori,” jelas Caccappolo. Stres berkepanjangan membuat tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus, yang menurut Thomas Holland, secara perlahan mengganggu fungsi kognitif normal.

3. Pola Makan yang Buruk (Kurang Nutrisi Otak)

Apa yang Anda makan sangat menentukan kesehatan sel saraf (neuron) Anda. Pola makan tinggi makanan ultraproses (makanan kemasan yang tinggi pengawet dan gula) diketahui meningkatkan risiko penurunan daya ingat.

Sebaliknya, Thomas Holland menekankan pentingnya asupan kaya flavonoid. Sayuran hijau, teh, dan tomat adalah sahabat terbaik otak. Nutrisi bioaktif dalam makanan ini membantu mencegah neuron dari kerusakan dini dan menjaga memori tetap tajam.

4. Gangguan Tidur dan Apnea Tidur

Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan fase krusial di mana otak melakukan konsolidasi atau penyimpanan memori jangka panjang. Kurang tidur kronis akan menguras sumber daya kognitif Anda.

Satu kondisi yang patut diwaspadai adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau gangguan pernapasan saat tidur. Penderita OSA mengalami hipoksia (kekurangan oksigen ke otak) setiap malam. “Kurangnya oksigen ini secara langsung menyebabkan masalah memori jangka pendek maupun panjang,” tegas Caccappolo.

5. Masalah Pendengaran yang Diabaikan

Ini adalah temuan yang sering mengejutkan banyak orang. Ternyata, gangguan pendengaran dapat membuat otak bekerja terlalu keras hanya untuk memahami suara, sehingga kapasitas untuk menyimpan informasi (memori) berkurang.

Kabar baiknya, sebuah studi menunjukkan bahwa penggunaan alat bantu dengar bagi mereka yang membutuhkan dapat membantu menurunkan risiko penurunan kognitif jangka panjang hingga 19 persen. Menjaga fungsi pendengaran berarti juga menjaga fungsi otak.

6. Kebiasaan Buruk: Terlalu Sering Multitasking

Di era digital, kita sering merasa bangga bisa melakukan banyak hal sekaligus membalas pesan sambil bekerja atau menonton video sambil makan. Namun, penelitian dalam jurnal Nature mengungkapkan bahwa media multitasking dapat merusak fokus dan kemampuan mengingat, bahkan pada anak muda.

“Seiring bertambahnya usia, kecepatan pemrosesan otak melambat. Jika Anda mencoba melakukan banyak hal sekaligus, Anda akan menjadi sedikit lebih lambat dalam segala hal tersebut,” pungkas Caccappolo.

Sering lupa adalah sinyal dari tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Mulailah dengan memperbaiki kualitas tidur, mengonsumsi lebih banyak sayuran hijau, dan cobalah untuk fokus pada satu tugas dalam satu waktu (monotasking). Jika gangguan lupa dirasa semakin parah dan mengganggu aktivitas harian, segera konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

Penulis

Related Articles

Back to top button