Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Lifestyle

Menuju Pelaminan di Tengah Beban: Strategi Generasi Sandwich Siapkan Tabungan Nikah

Wamanews.id, 7 Februari 2026 – Menikah sering kali disebut sebagai ibadah terpanjang, namun bagi anak muda masa kini, persiapan menuju pelaminan bukan sekadar soal kesiapan mental dan kecocokan emosional. Ada angka-angka di atas kertas yang harus dipenuhi, mulai dari biaya resepsi hingga biaya hidup pasca-pernikahan. 

Tantangan ini terasa berkali-kali lipat lebih berat bagi mereka yang berada di posisi Generasi Sandwich kelompok yang harus membiayai kebutuhan orang tua sekaligus menyiapkan masa depan sendiri.

Lantas, mungkinkah seorang generasi sandwich tetap bisa menabung untuk pernikahan tanpa harus mengabaikan tanggung jawab kepada keluarga besarnya? Para pakar keuangan menilai hal ini sangat mungkin dilakukan, meski menuntut kedisiplinan dan komunikasi yang ekstra kuat.

Konsultan keuangan keluarga, Dea Arvina Ermacasnia, menegaskan bahwa posisi sebagai generasi sandwich memang penuh tekanan, tetapi bukan berarti pintu menuju pernikahan tertutup rapat. Kuncinya terletak pada pengaturan strategi yang realistis dan kejujuran pada diri sendiri maupun keluarga.

“Mungkin banget (punya tabungan nikah), tapi perlu strategi dan kejujuran. Yang penting ada komunikasi dan batasan yang kita anut,” jelas Dea dalam sebuah sesi diskusi finansial baru-baru ini.

Menurut Dea, kesalahan umum yang sering menjerat generasi sandwich adalah perasaan bersalah jika tidak menanggung seluruh beban keluarga sendirian. Padahal, kapasitas finansial setiap individu memiliki batas. Jika batas ini dilanggar, yang terjadi bukan hanya kelelahan secara fisik, tapi juga kelelahan emosional yang berisiko memicu konflik di masa depan.

“Tim sandwich generation harus punya batas finansial yang jelas. Jangan memikul semua beban sendirian, sharing dengan yang lainnya jika ada saudara,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, perencana keuangan profesional Rista Zwestika Reni menyoroti pentingnya transparansi sebelum janji suci diucapkan. Baginya, calon pasangan harus tahu persis kondisi finansial yang sedang dihadapi, termasuk berapa besar alokasi dana yang dikirimkan kepada orang tua setiap bulannya.

Kejujuran ini bukan bermaksud untuk mengeluh, melainkan untuk membangun ekspektasi yang nyata. “Sandwich generation itu harus transparan sejak awal ke pasangan. Buat batasan, misalnya berapa yang bisa dibantu dan berapa yang tidak,” ungkap Rista.

Tanpa adanya keterbukaan, beban finansial yang tersembunyi bisa berubah menjadi “bom waktu” dalam rumah tangga. Rista mengingatkan bahwa membantu keluarga adalah perbuatan mulia, namun tidak boleh sampai mengorbankan stabilitas keluarga kecil yang baru akan dibangun.

“Menolong keluarga itu mulia, tapi menghancurkan rumah tangga sendiri bukan pengorbanan, itu kelelahan,” pungkas Rista dengan tegas.

Selain teknis pembagian uang, faktor mentalitas juga memegang peranan penting. Dea Arvina menyarankan agar pasangan memiliki visi yang sama sejak awal. Melihat tanggungan keluarga bukan sebagai penghambat, melainkan sebagai bentuk sedekah yang bernilai ibadah.

Beberapa poin penting bagi generasi sandwich yang ingin menikah:

  • Satu Visi: Pastikan pasangan mendukung keputusan untuk tetap membantu orang tua dengan jumlah yang disepakati.
  • Berproses Tahap Demi Tahap: Membangun keluarga tidak harus dimulai dengan kondisi ideal yang serba mewah.
  • Hindari Saling Menyalahkan: Fokus pada solusi saat menghadapi keterbatasan dana.

“Keluarga bisa dibangun pelan-pelan, tidak harus sempurna. Yang penting berproses tanpa saling menyalahkan,” tambah Dea.

Dengan niat yang lurus dan pengelolaan yang matang, menjadi generasi sandwich bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan di pelaminan. Proses perjuangan bersama pasangan dalam mengatur keuangan justru bisa menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi ketahanan rumah tangga di masa depan. 

Penulis

Related Articles

Back to top button