Rupiah Melemah ke Rp17.954 per Dolar AS, BI Ungkap Pemicunya

Wamanews.id, 15 Oktober 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah di tengah meningkatnya sentimen negatif dari pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.954 per dolar AS. Angka tersebut melemah 51 poin atau sekitar 0,28 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp17.903 per dolar AS.
Bank Indonesia (BI) menilai tekanan yang dialami rupiah tidak terlepas dari faktor eksternal. Mulai dari tingginya inflasi di Amerika Serikat hingga ketidakpastian konflik geopolitik di Timur Tengah turut membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa rilis data inflasi AS yang berada di atas ekspektasi pasar mendorong spekulasi kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Selain faktor inflasi, eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjadi pemicu. Ketidakpastian penyelesaian konflik membuat harga minyak dunia bertahan di level tinggi, yakni di atas 105 dolar AS per barel, yang pada akhirnya meningkatkan risiko fiskal ke depan.
Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada penguatan indeks dolar AS (DXY) yang sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2025. Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun juga naik 12 basis poin ke level 4,90 persen.
“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan USD serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” ujar Erwin dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Meski tertekan, BI memastikan pelemahan rupiah masih relatif terkendali. Secara quarter-to-date (QTD) atau sejak awal kuartal berjalan, rupiah hanya melemah terbatas sebesar 0,17 persen dan pergerakannya masih sejalan dengan mata uang kawasan.
Fundamental ekonomi dalam negeri juga masih ditopang oleh cadangan devisa yang solid. Hingga akhir September 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS.Untuk menjaga stabilitas, BI menegaskan akan terus hadir di pasar.
Intervensi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, disertai pengelolaan likuiditas dan komunikasi intensif dengan pelaku pasar.







