Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

SulSel

Ojol Makassar Menggugat! Tolak Merger Grab-GoTo

Wamanews.id, 13 Mei 2025 – Gelombang penolakan terhadap rencana merger antara dua raksasa layanan ride-hailing, Grab dan GoTo, kini semakin meluas. Kali ini, giliran komunitas ojek online (ojol) di Makassar yang turun ke jalan menyuarakan keberatan mereka.

Aksi unjuk rasa ini dipimpin oleh komunitas Driver Online Bersatu Bergerak (Dobrak) Makassar dan berlangsung di kawasan Center Point of Indonesia (CPI), Minggu (11/5/2025).

Dalam aksi tersebut, puluhan driver ojol membentangkan spanduk penolakan dan menyerukan agar pemerintah segera turun tangan.

Koordinator Dobrak Makassar, Eeng, menegaskan bahwa isu ini bukan semata soal bisnis antar dua korporasi besar, tetapi sudah menyentuh aspek kedaulatan ekonomi digital nasional.

la menilai, jika merger ini benar-benar terjadi, maka nasib jutaan driver UMKM, hingga pelaku ekonomi kecil lainnya bisa terancam.

“Wacana penggabungan GoTo oleh Grab ini bukan sekadar urusan bisnis. Ini menyangkut keberlangsungan hidup para pelaku ekonomi marginal yang kini bergantung pada ekosistem digital yang dibangun GoTo. Jika Grab perusahaan yang berbasis di Singapura menguasai ini, maka siapa yang menjamin kesejahteraan kami?” ujar Eeng.

la juga mengungkapkan bahwa sebagian besar mitra driver dulunya adalah pengangguran, pekerja informal, atau masyarakat yang secara sosial terpinggirkan. Dengan adanya platform ride-hailing lokal seperti Gojek, mereka mendapat kesempatan memperbaiki taraf hidup.

“Banyak dari kami dulunya tak punya penghasilan tetap. Sekarang, minimal ada harapan. Tapi kalau ini (merger) terjadi, bisa-bisa kami balik lagi ke titik nol,” tegasnya.

Lebih lanjut, Eeng menyebutkan bahwa aksi ini merupakan bentuk seruan kepada pemerintah agar tidak tinggal diam. la berharap negara menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat kecil, bukan hanya melayani kepentingan bisnis global.

Senada dengan itu, Ketua Koalisi Ojol Nasional (KON), Andi Kristiyanto, mengeluarkan pernyataan resmi bahwa merger ini berpotensi memicu ledakan pengang guran nasional.

“Jika Grab benar-benar mengambil alih GoTo, maka akan terjadi efisiensi besar-besaran. Efisiensi itu berarti pengurangan driver, penghapusan insentif, dan makin sulitnya memperoleh order. Ini bukan hanya ancaman, ini sudah lampu merah bagi dunia transportasi daring nasional,” ujar Kristiyanto.

Menurut laporan yang beredar, Grab kini tengah menyiapkan dana senilai Rp33 triliun untuk mengambil alih GoTo. Aksi korporasi ini pun menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak terutama karena menyangkut dominasi asing di sektor ekonomi digital yang selama ini sudah dibangun oleh perusahaan dalam negeri.

Di sisi lain, pengamat ekonomi digital menilai pemerintah harus bijak menyikapi wacana ini.

“Mungkin merger memberi efisiensi, tapi harus dilihat juga siapa yang paling terdampak. Jika jutaan pelaku ekonomi kehilangan akses karena akuisisi ini, maka negara harus hadir,” ujar salah satu analis yang enggan disebut namanya.

Kini, suara penolakan semakin keras terdengar dari berbagai wilayah. Jika tidak direspons serius oleh regulator, gelombang unjuk rasa serupa bisa menyebar luas di seluruh Indonesia.

Penulis

Related Articles

Back to top button