Ribuan Pasien TBC Gagal Sembuh, Ini Penyebab Utamanya Menurut Menkes

Wamanews.id, 19 Mei 2025 – Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok mematikan di Indonesia. Meski tergolong penyakit yang bisa disembuhkan, nyatanya banyak pasien TBC gagal menuntaskan pengobatan dan akhirnya berisiko meninggal dunia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membeberkan alasan utama mengapa angka keberhasilan pengobatan TBC di Indonesia belum optimal.
Dalam sebuah diskusi kesehatan yang digelar Sabtu (17/5/2025), Menkes Budi menyebut bahwa proses pengobatan TBC yang panjang dan melelahkan menjadi tantangan utama bagi pasien. “Pasien harus minum 4 sampai 6 tablet setiap hari, tanpa henti, selama 6 hingga 22 bulan. Banyak dari mereka tidak kuat menjalaninya dan akhirnya berhenti di tengah jalan,” ujar Budi.
Padahal, lanjutnya, menghentikan pengobatan sebelum waktunya tidak hanya membuat pasien gagal sembuh, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penularan baru bagi orang-orang di sekitarnya. “TBC ini penyakit menular paling mematikan di Indonesia. Setiap tahun, lebih dari 125 ribu orang meninggal karena TBC. Itu artinya dua orang meninggal setiap lima menit,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah saat ini tengah menggencarkan penerapan skema pengobatan TBC yang lebih singkat. Dari yang semula bisa memakan waktu hingga 22 bulan, kini durasi terapi bisa dipangkas menjadi hanya 6 bulan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan.
Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan juga tengah melakukan uji klinis terhadap vaksin TBC baru yang dinamakan vaksin M72. Vaksin ini diyakini bisa menjadi game changer dalam penanganan TBC di Indonesia.
“Vaksin M72 sedang kita uji coba. Kalau berhasil, durasi pengobatan bisa dipersingkat menjadi hanya 3 bulan. Bahkan ke depannya, kita targetkan cukup dengan satu kali suntikan,” jelas Budi.
Budi menegaskan bahwa vaksin adalah jalan terbaik untuk mengakhiri pandemi penyakit menular. Ia mencontohkan keberhasilan vaksinasi dalam mengatasi pandemi cacar dan COVID-19 beberapa waktu lalu.
“Dulu, cacar adalah penyakit yang sangat mematikan. Tapi sekarang sudah hilang karena vaksin. Begitu juga dengan COVID-19. Vaksin telah menyelamatkan jutaan nyawa. Jadi, ini juga bisa kita lakukan untuk TBC,” kata Budi.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu mendukung program vaksinasi, termasuk uji coba vaksin M72 yang tengah berlangsung. Menurutnya, dukungan masyarakat sangat penting agar inovasi kesehatan ini bisa segera diterapkan secara luas.
Meski teknologi pengobatan terus berkembang, Budi tetap mengingatkan bahwa keberhasilan pengobatan TBC pada akhirnya tergantung pada kepatuhan pasien itu sendiri. Menurutnya, program dan teknologi hanya akan efektif jika pasien disiplin menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Tidak ada pengobatan yang berhasil kalau pasiennya berhenti di tengah jalan. Jadi, harapan kita adalah masyarakat lebih sadar dan lebih disiplin,” tandasnya.
Dengan langkah-langkah inovatif dari pemerintah dan kesadaran masyarakat, Indonesia diharapkan bisa segera menekan angka kematian akibat TBC dan mengakhiri epidemi yang telah berlangsung puluhan tahun ini.







