Aktifkan notifikasi untuk dapat update setiap hari!

Nasional

Jusuf Kalla: Demo Besar Akibat Akumulasi Kemarahan Rakyat, Bukan Insiden Tunggal 

Wamanews.id, 1 September 2025 – Aksi demonstrasi yang meluas di berbagai daerah di Indonesia sejak 25 Agustus 2025 bukanlah gejolak yang muncul tiba-tiba. Menurut Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla (JK), unjuk rasa besar-besaran ini merupakan akumulasi dari kemarahan masyarakat yang sudah lama terpendam. JK menyebut, serangkaian pemicu, mulai dari isu tunjangan DPR hingga insiden tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek online, menjadi penyebab amukan massa yang kini melanda.

Dalam wawancara khusus dengan program Gaspol Kompas.com yang ditayangkan pada Sabtu (30/8/2025), JK merinci berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kegelisahan publik. “Ya, ini kan dimulai kemarin ya. Mulai tanggal 25 (Agustus) malah. 25, 28 demo itu dimulai daripada soal DPR yang tunjangannya besar. Dari pihak rakyat itu banyak yang menganggur, banyak yang susah,” kata JK, menghubungkan langsung demonstrasi dengan isu ekonomi yang dirasakan rakyat.

Menurut JK, ketidakpuasan masyarakat semakin diperparah dengan pernyataan kontroversial dari salah satu anggota DPR yang menyebut pengkritik sebagai “orang tolol”. 

Pernyataan tersebut, yang viral dan memicu kemarahan, semakin memperkuat persepsi bahwa para wakil rakyat tidak peka terhadap penderitaan publik. JK menilai, serangkaian kejadian ini membuat masyarakat tidak tiba-tiba marah, melainkan sudah lama gelisah akibat kesulitan ekonomi dan isu-isu politik yang sensitif.

Namun, pemicu terbesar dan paling krusial, menurut JK, adalah insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online (ojol). “Aksi Brimob yang melindas pengemudi ojek online (ojol) hingga tewas menjadi pemicu menguatnya aksi demonstrasi yang terjadi,” ujar JK. 

Peristiwa tragis ini, kata dia, menjadi katalis yang menyatukan kemarahan berbagai elemen masyarakat, termasuk buruh, ojol, dan mahasiswa.

Insiden yang dimaksud adalah tewasnya Affan Kurniawan (21) pada 28 Agustus 2025 malam di Pejompongan, Jakarta Pusat. 

Sebuah video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan mobil rantis Brimob melaju cepat saat membubarkan massa, dan secara tragis melindas Affan yang tengah berusaha menghindari kerumunan. Peristiwa ini membuat massa yang semula bubar kembali berkumpul, dan memicu gelombang solidaritas yang meluas hingga ke berbagai daerah di luar Jakarta.

Meskipun Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah meminta maaf dan menyatakan penyesalan atas kejadian tersebut, serta memerintahkan Divisi Profesi dan Pengamanan Polri untuk mengusut tuntas, kemarahan publik terlanjur membesar. 

Sejauh ini, tujuh anggota Brimob telah menjalani pemeriksaan etik dan ditempatkan di tempat khusus karena terbukti melanggar kode etik. Namun, hal ini belum sepenuhnya meredakan kemarahan publik.

Di akhir wawancaranya, JK berharap aksi demonstrasi bisa segera berakhir. Menurutnya, jika ketidakstabilan terus berlanjut, perekonomian akan semakin sulit, yang pada akhirnya akan merugikan semua pihak. “Karena kalau tidak, ekonomi kita jadi susah. Nanti kalau ekonomi susah, semua orang susah,” pungkas JK, mengingatkan akan bahaya yang lebih besar jika permasalahan ini tidak segera diselesaikan.

Penulis

Related Articles

Back to top button